Advertisement
![]() |
| Penetapan Hari Puisi oleh Menkebud, Fadli Zon tahun lalu |
Oleh: Adhyra Irianto
Tanggal 3 Juli lalu, ada perayaan hari sastra Indonesia, lalu hari ini tanggal 26 Juli, ada perayaan hari puisi. Tapi, bila diingat-ingat, beberapa waktu lalu, juga ada perayaan hari puisi di bulan Maret, berdekatan dengan Hari Teater Sedunia (Hatedu). Ternyata itu adalah Hari Puisi Sedunia pada tanggal 21 Maret.
Sekedar informasi tambahan, sebelumnya hari puisi nasional itu jatuh pada tanggal 28 April, bertepatan dengan wafatnya Chairil Anwar. Baru di tahun 2025 ini, hari puisi berpindah ke 26 Juli, bertepatan dengan lahirnya Chairil Anwar. Peresmiannya meriah, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Alasan utama ada hari puisi Indonesia itu karena hari puisi dunia "tidak ada ikatan emosional" dengan sejarah Indonesia. Nama Chairil Anwar dipilih karena, ia seakan-akan "puisi yang hidup", juga simbol kebanggaan nasional, jenius seni sejati, dan aset negara, sebagaimana Austria membanggakan Mozart.
Sekarang kita punya 3 hari puisi, ada Hari Sastra (yang juga selalu diasosiasikan dengan puisi) pada tanggal 3 Juli, Hari Puisi tanggal 26 Juli, dan Hari Puisi Sedunia tanggal 21 Maret. Sebelum mencurigai kenapa ada banyak hari "puisi" di Indonesia, ada hal menarik yang perlu Anda ketahui tentang "hari sastra".
Hari sastra itu dideklarasikan 2 kali. Pertama pada tanggal 3 Juli oleh Taufiq Ismail bersama Kemendikbud RI tahun 2013. Kemudian, beberapa waktu berselang, pada tanggal 6 Februari tahun berikutnya, giliran penyair Wowok Hesti Prabowo mendeklarasikan tanggal tersebut sebagai hari sastra.
Bila Taufiq Ismail et al itu merujuk pada hari lahir sastrawan Abdoel Moeis di tanggal 3 Juli, maka Wowok Hesti Prabowo cs merujuk pada hari lahir Pramoedya Ananta Toer. Bisa dilihat ada dua kubu "berseteru" di sana, bukan?
Tentu pihak dari dua kubu sama-sama mempertahankan pendapatnya. Abdoel Moeis dan Pramoedya Ananta Toer sama-sama punya sumbangsih yang tak ternilai untuk sastra Indonesia. Hanya saja, keduanya punya latar belakang ideologis yang cukup jauh berbeda. Masalahnya, pemilihan tanggal tersebut juga akan merujuk pada pemilihan "tokoh" yang paling merepresentasikan sastra bangsa.
Di tengah keruwetan itu, dongeng yang dulunya dikategorikan sastra "naratif", perlahan menemukan bahwa dunia mengkodifikasi bercerita sebagai "seni tutur", bukan seni pertunjukan, juga bukan sastra. Mereka sudah perlahan berdiri sendiri. Dulunya, hari dongeng sedunia (World Storytelling Day) dirayakan di Swedia tahun 1991. Kemudian tahun 1997, mulai menyebar ke Amerika dan Australia. Tahun 2002 baru terbentuk di kawasan Skandinavia, dan tahun 2009 dirayakan di enam benua. Sekitar 2012, sudah menjadi perayaan di seluruh dunia.
Saat itu, para praktisi dongeng Indonesia mulai berkumpul dan mendeklarasikan 28 November sebagai Hari Dongeng Indonesia, sejak 2015. Tanggal itu merupakan hari kelahiran Drs. Suyadi alias Pak Raden, pencipta Si Unyil. Dari bawah, mulai dari kumpulan komunitas pendongeng dari seluruh Indonesia, sampai akhirnya diakui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun itu.
Di sisi lain, puisi itu merupakan genre dari sastra. Selain puisi, tentu ada prosa semacam cerpen dan novel. Juga ada naskah drama. Nah, baik cerpen, novel, maupun naskah drama, seperti serombongan penumpang di gerbong belakang, setelah gerbong depan sudah sesak dengan "puisi". Apakah akan ada hari cerpen, hari novel, hari naskah drama? Sepertinya tidak.
Kenapa tidak? Karena cerpen dan novel, sebagai wujud fisik buku, sudah "dianggap" terwakili oleh Hari Buku Nasional (tanggal 17 Mei, bertepatan dengan HUT Perpusnas RI), sekaligus Hari Buku Sedunia tanggal 23 April, ditambah lagi dengan Hari Buku Anak Sedunia tanggal 2 April.
Naskah drama kan tidak banyak yang dibukukan? Yah, tapi naskah drama dianggap sudah diwakili pula oleh Hari Teater Sedunia tanggal 27 Maret. Harus diakui, bahkan "hari sastra" pun tidak begitu mewakili genre lain sastra, selain puisi.
Setelah membaca rangkaian fakta dan peristiwa di atas, apakah Anda mulai mencurigai "hari puisi" seperti saya?
Ada Motif Politik, Mungkin...
Pertama, ketika melihat perseteruan pemilihan hari puisi, saya sudah yakin bahwa pilihan jatuh pada tanggal 3 Juli, hari lahir Abdoel Moeis. Meski novel Salah Asuhan yang merupakan tonggak realisme sastra Indonesia modern itu, sebenarnya juga melancarkan kritik pedas pada kolonialisme Belanda, juga feodalisme dan tradisi yang kolot. Tapi, beliau adalah aktivis di Sarekat Islam (SI), anti komunis yang tegas, sekaligus seorang Islam modernis. Karena itu, Abdoel Moeis menurut saya, jadi representasi kuat "nasionalisme-relijius" yang dianggap sebagai representasi Indonesia.
Wajar saja kalau Taufiq Ismail dkk, yang mewakili sastrawan dari kultur Islam modernis, akan mengajukan nama Abdoel Moeis. Taufik cs pernah melakukan penolakan telak terhadap narasi sejarah sastra yang menempatkan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, PKI) dan realisme-sosialis sebagai pusat gravitasi perkembangan sastra Indonesia.
Itu juga sejalan dengan Abdoel Moeis ketika berada di SI. Abdoel Moeis dengan jelas-jelas menentang infiltrasi dan pengaruh komunisme (ISDV/PKI) dalam tubuh SI, yang kelak memuncak pada perpecahan "SI Merah" vs. "SI Putih".
Sedangkan Pramodya Ananta Toer, adalah antitesis dari Abdoel Moeis. Bagi kubu Wowok Hesti Prabowo (dan juga bagi para pengagum Pram), sastra adalah alat pembebasan kaum tertindas secara radikal. Pram, dengan tetralogi Bumi Manusia-nya, adalah suara bagi mereka yang dihancurkan oleh kolonialisme dan rezim Orde Baru. Pram adalah korban, orang buangan, dan ikon perlawanan kaum kiri. Maka, memilih Pram adalah mendobrak tabu, memulihkan ingatan, dan menegaskan sastra sebagai senjata politik.
Perseteruan ini, menurut saya, sudah jauh lebih dalam sekedar perseteruan politik dan sejarah. Ini sudah di level "siapa yang paling menjadi jiwa Indonesia?".
Tentu saja, kelompok Taufiq Ismail menyebut hulu dari sastra Indonesia adalah etika, relijiusitas, dan tentunya reformasi kolonial.
Sedangkan "lawannya" menganggap hulu dari sastra Indonesia adalah perlawanan kelas, materilisme historis, dan PEMBEBASAN KAUM TERTINDAS!
Dari perseteruan itu, entah kenapa saya sudah mengira siapa yang akan menang. Apakah pembebasan kaum tertindas adalah wajah dari sastra Indonesia? Perlawanan kelas yang mencoba menggoyang kapitalis dari kursi empuk mereka adalah wajah dari sastra kita? Apakah sastra merupakan bagian dari suprastruktur untuk membongkar ideologi kelas dan membangun kesadaran?
Sepertinya tidak. Karena yang digemakan hari ini adalah, sastra itu santun, disandarkan pada Ketuhanan yang Maha Esa, dan mengubah semua peninggalan kolonial menjadi lebih Indonesia. Pramoedya Ananta Toer "sepertinya" bukan representasi utama sastra Indonesia.
Karena itu, usulan hari Sastra jatuh pada usulan Taufiq Ismail cs. Abdoel Moeis yang relijius, modern-progresif, juga menentang kolonial dan tradisi yang kolot (termasuk budaya yang berlawanan dengan syariat Islam), itu yang "sepertinya" dianggap negara sebagai representasi utama sastra Indonesia.
Coba lihat lagi bagaimana novel pop, film pop, dan konsep "keindahan" yang dijajarkan di festival-festival hari ini, sebenarnya justru menyembunyikan (atau istilah gen Z sekarang normalisasi) penindasan kelas. Bila Pram masih ada, ia pasti akan mempertanyakan "Karya ini mewakili kepentingan kelas yang mana? Apakah ia membela status quo kaum borjuis atau membela revolusi kaum tani dan buruh?"
Di sinilah, menurut saya, Pram berseberangan tajam dengan Taufiq Ismail. Taufiq melihat sastra sebagai ekspresi personal dan pencarian nilai-nilai transendental (Ketuhanan, kemanusiaan universal, individualitas), yang dalam kerangka materialisme historis justru dilihat sebagai ilusi suprastruktur yang mengaburkan realitas konflik kelas. Jadi, pertarungan mereka bukan sekadar soal selera, tapi pertarungan dua filsafat tentang realitas, manusia, dan tujuan bersastra.
Dan kita tahu semua, pihak mana yang dimenangkan negara, bukan?
Mencurigai Hari Puisi, atau Mencurigai Puisi?
Kalau itu tadi tentang Hari Sastra, masalahnya hari ini adalah "Hari Puisi", saya juga mencurigai hari puisi ini. Tentu saja, saya menghormati "puisi" dan saya punya banyak rekan "penyair" di Indonesia. Tapi, hari ini puisi (menurut saya) entah kenapa jadi seakan lebih gampang dirayakan secara kolektif.
Bisa dengan kumpul-kumpul, lalu baca puisi satu per satu ke depan. Tanpa perlu latihan, bahkan tanpa perlu dibahas puisi yang dibaca itu baik atau tidak. Di media sosial, jauh lebih mudah lagi, hanya share kutipan sebaris puisi di media sosial. Jauh lebih mudah dan tidak butuh 'effort' yang lebih.
Coba bayangkan kalau ada hari Novel atau hari Cerpen. Harus ada waktu panjang, kemudian membicarakan buku yang juga butuh waktu lebih panjang. Entah kenapa, bagi saya puisi jadi punya keunggulan praktis sebagai genre yang paling mudah diselebrasikan secara publik.
Siapapun itu, apapun latar belakang keilmuannya, seberapapun puisi yang pernah ia baca, semuanya "mendaku" bisa membuat puisi. Padahal, lebih banyak yang justru tidak menjadi puisi.
Lah, kalau bukan puisi, apa namanya?
Itu namanya doggerel. Itu istilah yang disebutkan untuk tulisan yang "belum mencapai puisi". Alias, puisi yang kualitasnya jelek, canggung, dan tidak terampil. Cirinya adalah rima dan irama yang dipaksakan, klise, sentimentil, dan seringkali tanpa sengaja menimbulkan efek lucu atau menggelikan alih-alih menyentuh.
Ini contoh doggerel:
"Aku cinta padamu
Sampai mati rasaku
Kan kuberi seluruh hartaku
Asal kau mau jadi pacarku."
Atau contoh kedua:
"Sungguh indah pemandangan
Di desa ini tak mengecewakan
Banyak pohon berjajar-jajaran
Membuat hati jadi senang."
Apa yang sama dari dua contoh itu? Yah, iramanya patah-patah seperti robot, tidak "lahir" musikalitas alami. Aliran kalimat tidak terasa, seperti susunan kata yang "disusun paksa".
Ciri lainnya; tidak tampak eksplorasi diksi, isinya ide yang terlalu sering dipakai (sampai basi), tidak ada perspektif baru, metafora yang segar, dan (tanpa sengaja) justru menghadirkan efek komedi.
Singkatnya, doggerel itu adalah "puisi" yang tidak dibuat dengan keahlian "kata".
Istilah ini digunakan para kritikus di Inggris abad pertengahan, untuk membedakan dengan puisi yang dibuat oleh orang yang sengaja berlatih, dengan puisi yang dibuat dengan "canggung dan tidak terampil".
Nah, bila puisi dan doggerel ini masih sulit dibedakan, bukankah takutnya nanti hari puisi justru akan lebih banyak dipenuhi doggerel? Bukankah negara ini sekarang jauh lebih menyukai seremoni ketimbang seni? Bukankah itu bisa berarti, lebih suka panggung ketimbang latihannya?
Tapi, yah ini hanya sebatas kecurigaan saya. Semoga saja, ini tidak benar dan hanya kecurigaan kosong saja.






