Advertisement
![]() |
| Opening Asian Playwrights Meeting 2026 di Yogyakarta |
Setelah tujuh tahun jeda, IDRF kembali menghadirkan pertemuan penulis naskah se-Asia dengan pertanyaan mendasar: untuk siapa dan untuk apa kita berkumpul hari ini?
Pojokseni/Yogyakarta - Asian Playwrights Meeting (APM) 2026 resmi membuka rangkaian acaranya malam ini, Minggu, 26 Juli 2026, pukul 19.30–21.30 WIB, bertempat di PSBK (Padepokan Seni Bagong Kussudiardja), Bantul, Tamantirto. Pembukaan ini menjadi awal dari rangkaian program yang akan berlangsung hingga 31 Juli 2026 nanti, mempertemukan penulis naskah dan pelaku teater dari berbagai negara di Asia dan sekitarnya.
Malam pembukaan akan diisi dengan Resepsi Pembukaan (Welcome Reception) sekaligus Special Presentation berupa pembacaan naskah Surat Kekawan karya Charlene Rajendran featuring Jumat Gombrong. Naskah ini sebelumnya dipublikasikan oleh Arts Equator, Ltd.
APM Kembali ke Yogyakarta, Angkat Tema: ENCOUNTER
APM merupakan forum internasional yang didedikasikan bagi penulis naskah dan praktik penulisan kontemporer di Asia. Pertemuan ini pertama kali digagas di Tokyo pada 2009, dilanjutkan di Melbourne pada 2011, sebelum akhirnya diselenggarakan oleh Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF) di Yogyakarta pada 2019. Edisi 2026 menjadi momentum penting bagi IDRF untuk kembali menggelar pertemuan ini setelah masa jeda dan penyesuaian panjang sejak 2019.
Edisi tahun ini mengusung tema Encounter (Perjumpaan), bukan sekadar topik, melainkan cara kerja kuratorial itu sendiri. Tim kurator menjelaskan, setiap lakon berawal dari sebuah perjumpaan: dengan orang, cerita, tempat, bahasa, atau gagasan yang belum sepenuhnya kita kenal. Keterbukaan terhadap yang asing dan belum terbentuk inilah yang menjadi arah edisi APM tahun ini, mengajukan kembali dua pertanyaan mendasar yang jarang dipertanyakan di kawasan ini: apa itu lakon, dan siapa itu penulis naskah?
Empat Program, Delapan Lakon
APM 2026 disusun sebagai ekosistem dramaturgi melalui empat program utama— FOCUS, PANORAMA, FORUM, UNOFFICIAL PROGRAM dan SPECIAL PRESENTATION.
PANORAMA, yang semula menjadi ajang unjuk bakat, tahun ini diubah menjadi ruang undangan, bukan kompetisi: seluruh naskah yang memenuhi syarat diterima tanpa proses pemilihan "pemenang", untuk menjaring suara yang jarang terdengar — karya eksperimental, naskah belum pentas, hingga tulisan yang belum rampung.
FOCUS menghadirkan delapan pembacaan naskah utuh yang masing-masing membaca perjumpaan dari sudut berbeda: Balos (ambiguitas moral perang), I Am Kegu (perjumpaan pertama banyak orang dengan teater kontemporer Papua Nugini), Gd is a Woman* (satire tentang sensor dan kebebasan berkesenian), Woman With the Time Machine (gender dan identitas lewat imajinasi spekulatif), Mirror (teater di tengah kecerdasan buatan), Exi(s)t Strategy (kepenatan queer antara kesesuaian paksa dan penghapusan diri), Chronicle of Exile (migrasi dan birokrasi identitas), serta Vanilla is not a Tree (perpindahan, kerja, dan ekologi). Semua pembacaan naskah, nantinya akan dilaksanakan di Institute Francais Indonesia (IFI) Yogyakarta.
FORUM menjadi ruang pertukaran gagasan dan praktik lintas Asia. Tema-tema menarik akan didiskusikan dalam forum ini: What Is A Play? Who Is A Playwright?, No Stage Without A Page: Independent Publishing And The Making Of Indonesi’s Theatre Knowledge Ecology, Nusantara Open Circle Kalam Puan, & Jejak Lakon Presentation. Total akan ada 16 forum yang akan dilaksanakan secara paralel selama APM berlangsung di Lamora Hotel Yogyakarta.
![]() |
| Asian Playwrights Meeting 2026 |
Sementara SPECIAL PRESENTATION menghadirkan pertunjukan hasil proses penulisan mendalam — dibuka malam ini, dan akan berlanjut dengan kolaborasi bersama Mark Teh (Fragments of Tuah, Malaysia) serta mitra dari Jepang dan Korea Selatan (dalam proses konfirmasi).
Tidak hanya itu, APM - SIDE dalam UNOFFICIAL PROGRAM juga tidak kalah menarik untuk diikuti. Crossing Sudirman Bridge dari Teater Ruang Terbuka Hijau, akan mengajak kita untuk melakukan kritik dramaturgi melalui reading performative atas dramaturgi romantik yang konvensional. Dengan mengambil tempat terbuka di Jembatan Sudirman yang menghubungkan antara realitas sosial, mitos lokal, dan cerita-cerita lainnya yang berperan untuk menginterpretasikan isu kontemporer. Sementara Studio Malya, Rifki Akbar Pratama, and Reza Kutjh akan membawakan The Restless Seeds (Yang Menyelinap Tak Mau Lesap) yang akan bertempat di Museum Benteng Vredeburg. Sebuah pertunjukan intervensi ruang publik berbasis narasi dan permainan yang menjadikan "ruang hidup" dan "ketahanan" sebagai inti utamanya. Dengan mengubah Museum Benteng Vredeburg menjadi panggung yang dapat dimainkan, karya ini secara halus menyisipkan narasi ke dalam arsip sejarah resmi, menggali celah dan retakan dalam tontonan resmi negara.
Kurator dan Jejaring
Program ini dikurasi bersama oleh Jarunun "Jaa" Phantachat (Thailand, B-Floor Theatre, peraih Silpathorn Award), James Harvey Estrada (Filipina, praktik dekolonial dan kolaborasi transnasional), dan Zhang Yuan (Tiongkok, pendiri Asia Contemporary Theatre Festival), dengan Muhammad Abe sebagai Direktur dan B.M. Anggana sebagai Direktur Artistik.
APM 2026 menghadirkan penulis naskah dan pelaku teater dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Jepang, Thailand, Australia, Tiongkok, Taiwan, Vietnam, Filipina, India, Korea Selatan, Iran, dan Papua Nugini, didukung mitra seperti Shizuoka Performing Arts Center, Virgin LabFest, Prologue Center Taipei, Taiwan Cultural Agency, Djakarta International Theater Platform, BIPAM, dan Art Council Korea, serta Kementerian Kebudayaan RI, Japan Foundation.
Jadwal Singkat
Rangkaian APM 2026 berlangsung 26–31 Juli 2026 di Yogyakarta, dengan pameran PANORAMA berlangsung setiap hari mulai 26 Juli di IFI–LIP Yogyakarta (pukul 10.00–22.00 WIB). Program FORUM, SPECIAL PRESENTATION, PANORAMA), dan FOCUS (Reading & Q&A) berlangsung setiap hari sepanjang pekan.


.jpg)
.jpg)


