Kelindan antara Tubuh dan Bunyi: Ulasan Pertunjukan Even Silence is Too Loud Karya Lawe Samagaha dan Wail Isryad di Pseudo Entertainment -->
close
Pojok Seni
23 July 2026, 7/23/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-07-23T01:00:00Z
teaterUlasan

Kelindan antara Tubuh dan Bunyi: Ulasan Pertunjukan Even Silence is Too Loud Karya Lawe Samagaha dan Wail Isryad di Pseudo Entertainment

Advertisement
Even Silence is Too Loud karya Lawe Samagaha dan Wail Irsyad dalam Pseudo Entertainment #2. Sumber: Dok. Pribadi



Oleh: Rizal Sofyan


Pada bulan September tahun 2025 saya pindah tempat tinggal dari daerah Sekelimus ke Jatimulya. Sialnya saya belum membeli kasur dan harus tidur beralaskan matras dan sleeping bag. Tiga hari tinggal di sana, saya tidak bisa tidur karena di atas jam 10 malam suara anak muda sedang bernyanyi diiringi gitar dari indekos sebelah kontrakan. Kontrakan yang aku tinggali berada di dalam gang, rumahnya serba dempet bahkan tembok tak mampu meredam suara dari sekitar. Berbeda dengan di Sekelimus yang merupakan daerah komplek sehingga sangat jarang suara yang terdengar saat tengah malam. Saya tipikal orang yang akan badmood jika tidak cukup tidur. Tentunya ini akan mengganggu produktivitas saya di keesokan harinya.


Namanya juga Kota Bandung, lewat tengah malam pun suara bising masih terdengar dari setiap sudut kota. Rasanya tempat yang benar-benar sunyi itu sulit ditemukan di kota ini. Inilah yang dijelaskan dalam pertunjukan Even Silence is Too Loud karya kolaborasi Lawe Samagaha dan Wail Irsyad. Pertunjukan di Institut Français Indonésie (IFI) Bandung malam itu (Minggu, 12 Juli 2026) berlangsung sunyi. Wail duduk di antara instalasi kaca spion motor, diam dan hanya menunjukan ekspresi wajah kecil-kecilan. Sementara itu Lawe fokus di meja kerjanya yang berisi gulungan kertas. Ia memegang spidol hitam siap untuk menulis atau menggambarkan sesuatu di gulungan kertas. Sementara itu di layar belakang proyektor menampilkan sorotan gulungan kertas dari atas.


Selama pertunjukan berlangsung, hampir tak ada suara sama sekali. Hanya bunyi kaki yang menghentak lantai panggung atau suara dari tubuh Wail. Lawe menggambar semacam grafik frekuensi bunyi tanpa terputus dari awal sampai akhir pertunjukan. Di sana saya melihat mereka sedang memproduksi bunyi tanpa menggunakan material bunyi. Ketika grafik sedang di level tinggi, Wail meresponsnya dengan gerakan-gerakan yang menggambarkan disorientasi. Namun, di bagian akhir grafik frekuensi bunyi merespons gerak Wail. Seperti di adegan akhir Wail menjadi lebih emosional dan perubahan pada grafik dipengaruhi oleh peristiwa ini. Hal ini menjelaskan bahwa suara mempengaruhi sekaligus dipengaruhi tingkah laku manusia. Grafik tersebut layaknya struktur dramatik dia naik dan turun, mempengaruhi dan dipengaruhi gerak Wail saat pertunjukan. Narasi yang sederhana di mana saya melihat bagaimana frekuensi digambarkan dalam pertunjukan lewat material visual.


Saya membaca praktik kelindan antara tubuh dan bunyi ini sebagai hubungan kausalitas sekaligus memperpanjang produsen-produsen bunyi di Kota Bandung, lingkungan ke manusia, lalu manusia ke lingkungan. Hal ini menihilkan keberadaan sunyi karena bunyi terus direproduksi tanpa jeda. Menurut saya, ketika frekuensi bunyi itu tinggi maka gambar grafik tidak akan turun. Hanya saja setelah adegan disorientasi karena bunyi, Lawe menurunkan grafik frekuensi bunyi. Saya menerka motif ini adalah upaya menampilkan peristiwa sublimasi dan merubah produsen bunyi dari lingkungan ke manusia. Keadaan terbalik ini kurang diolah oleh Wail. Tubuh yang ia tampilkan malah terkesan beristirahat dari bunyi-bunyi yang keras. Suasana kontras tidak sampai dan pembacaan terhadap motif penurunan grafik frekuensi menjadi bias. 


Harusnya keadaan yang lahir setelah disorientasi ialah over-stimulan inderawi. Di mana segala sesuatu menjadi lebih sensitif dan responsnya berlebihan. Barangkali Lawe mengakalinya perubahan ini dengan membuat satu bagian pada gulungan kertas dengan warna yang berbeda. Pada adegan ini ia mencoba menjelaskan bagaimana keadaan over-stimulan dan merubah perilaku manusia dari perannya sebagai penangkap bunyi menjadi produsen bunyi. Ia kini mereproduksi bunyi-bunyi yang keras lewat emosi yang tidak stabil.


Durasi karya ini bagi saya terlalu panjang. Saya dapat memahami hal ini dilakukan untuk menekankan konsep visual yang bersuara pada pertunjukan. Hanya saja peristiwa yang dilakukan setelahnya hanya pengulangan makna dan spectacle agar tidak membosankan, apalagi gerak-gerak yang dilakukan oleh Wail. Pengulangan ini justru mengakibatkan pertunjukan melewatkan narasi adaptasi terhadap bunyi. Jika semuanya serba keras, apakah kemudian tubuh akan mendefinisikan kembali bagaimana sunyi itu? Narasi ini menjadi penting dalam melihat siasat-siasat warga dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Khususnya saat semuanya kacau balau, manusia masih berusaha mencari pola-pola yang bisa ia kenali dan hidup dengan pola yang baru.


Barangkali sisi biologis dari manusia perlu diperdalam bukan hanya sisi psikologis. Bagaimana adaptasi manusia terhadap frekuensi. Apakah kemudian ia menemukan ketenangan dalam situasi yang disorientasi? Atau malah memunculkan hal lain yang tidak terduga akibat dari peristiwa bunyi dan tubuh sehari-hari. Barangkali ada sesuatu yang tidak klise ketika berbicara antara tubuh dan bunyi.


Absurd. Saat saya sudah membeli kasur yang empuk, bahkan suara nyanyian anak-anak muda dengan gitarnya di tengah malam tidak membuat saya susah tidur. Barangkali yang bermasalah bukan telinga saya, melainkan saya yang tidak terbiasa tidur di atas matras.