Pertunjukan "Orang Asing" oleh Sanggar Seni Rasi: Mewujudkan Konvensi Realisme di Panggung Arena -->
close
Pojok Seni
07 June 2026, 6/07/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-06-07T01:00:00Z
teaterUlasan

Pertunjukan "Orang Asing" oleh Sanggar Seni Rasi: Mewujudkan Konvensi Realisme di Panggung Arena

Advertisement
Pertunukan Orang Asing karya Rupert Brooke dibawakan oleh Sanggar Seni Rasi, Jambi.


Oleh: Ikhsan Satria Irianto


Sanggar Seni Rasi melalui pertunjukan Orang Asing karya Rupert Brooke dengan sutradara Medi Saputra, berhasil mewujudkan gaya realisme di tengah keterbatasan gedung pertunjukan yang tersedia di Provinsi Jambi. Pertunjukan teater yang digelar pada Jumat dan Sabtu (5-6/06/2026) ini hadir dalam dua sesi setiap harinya, yaitu pukul 16.00 WIB dan 20.00 WIB. Teks dramatik populer karya sastrawan Inggris tersebut diwujudkan melalui proses penyaduran ulang oleh Medi Saputra atas karya saduran D. Djajakusuma. Pertunjukan teater berdurasi 40 menit ini dipentaskan di Teater Arena Taman Budaya Jambi.


Garapan ini secara konvensional mengusung gaya teater realisme secara disiplin. Sutradara secara tegas tidak menerima negosiasi artistik apa pun yang dapat meruntuhkan konvensi realisme. Meskipun demikian, keterbatasan ruang pertunjukan di Provinsi Jambi menjadi penghalang atas kredo artistik ini. Obsesi sutradara terhadap konvensi realisme yang baku akhirnya mendasari strategi artistik untuk mengubah format arena menjadi prosenium.


Konsekuensi logisnya adalah sebagian besar tempat duduk penonton (terutama yang berada di sisi kanan dan kiri panggung) harus dikosongkan. Selain itu, bagian down stage terpaksa harus dikosongkan dan diberi jarak agar penonton dapat terfokus pada frame prosenium yang sama.


Secara konsep pemanggungan, teater arena memiliki keterbukaan dari segala arah. Ruang pertunjukan yang dapat dinikmati dari berbagai sisi ini sebenarnya tidak mendukung jarak ilusi yang dibutuhkan oleh teater realisme. Realisme membutuhkan batas yang jelas antara spektator (penonton) dan spektakel (tontonan). Sehingga, panggung prosenium menjadi ruang yang paling ideal untuk mewujudkan ilusi atas realitas.


Pertunjukan Orang Asing oleh Sanggar Seni Rasi


Oleh karena itu, Medi Saputra memilih strategi artistik yang tegas, yaitu menyulap teater arena menjadi teater prosenium. Pilihan dramaturgi ini dapat dibaca sebagai bentuk kepatuhan terhadap konvensi realisme. Strategi ini dapat dikatakan berhasil karena perubahan orientasi dari arena ke prosenium mampu mengurangi gangguan visual dan kebocoran teknis yang dapat meruntuhkan ilusi yang sedang dibangun. Keberhasilan ini menjadi sebuah pencapaian estetika yang mengesankan, karena mampu mewujudkan teater realisme di ruang yang pada dasarnya tidak dirancang untuk gaya tersebut.


Keberhasilan transformasi ruang ini terlihat jelas pada terwujudkan dua konvensi utama dari teater realis, yaitu the fourth wall (dinding keempat) dan box set. The fourth wall terwujud melalui jarak ilusi yang dibangun melalui bingkai prosenium imajiner. Meski tidak secara eksplisit hadir di atas panggung, bingkai yang menjadi dinding imajiner mampu memisahkan dunia teater dengan dunia penonton. Selain itu, konvensi box set yang menampilkan ruang interior dalam tiga sisi, memperkuat ilusi bahwa peristiwa di panggung adalah peristiwa yang benar-benar sedang terjadi di dunia nyata. Terwujudnya dua konvensi ini membuat pertunjukan Orang Asing dapat dikatakan sebagai teater realisme yang relatif benar.


Menariknya, beberapa pertunjukan sebelumnya yang "katanya" mengusung konvensi realisme, justru memilih untuk bernegosiasi dengan ruang. Konvensi realisme dipaksa patuh pada hukum panggung arena. Lebih ekstremnya lagi, negosiasi ini menyebabkan pertunjukan terkadang berjalan (tersesat) di luar koridor realisme. Namun, Sanggar Seni Rasi memilih jalan yang berbeda. Medi Saputra memilih untuk menaklukkan teater arena demi mempertahankan kemurnian konvensi tersebut.


Namun, pilihan artistik ini melahirkan sebuah pertanyaan dramaturgis: sampai sejauh mana teater arena harus diubah demi mewujudkan gaya realisme? Pertanyaan ini menjadi penting, karena pada akhirnya pertunjukan Orang Asing yang memaksakan perubahan hukum panggung ini tersandung oleh beberapa keterbatasan. Masalah yang paling kentara adalah aspek akustik panggung dan proyeksi vokal aktor. Ruang arena yang relatif luas, secara akustik tidak mendukung vokal aktor untuk menjangkau seluruh area penonton. Upaya aktor untuk meningkatkan intensitas vokalnya malah berakibat pada kesan artifisial pada aktingnya.




Ketegangan antara teknis ruang dan vokal aktor inilah yang di beberapa adegan mengganggu alur dramatik. Temuan ini memperlihatkan bahwa pada akhirnya, teater realisme akan mengalami masalah jika tetap dipaksakan di ruang yang tidak dirancang untuk konvensinya. Meskipun demikian, pilihan artistik ini perlu diambil sebagai upaya perlawanan Sanggar Seni Rasi atas keterbatasan gedung teater di Provinsi Jambi. 


Semoga ke depannya, Jambi memiliki panggung yang representatif untuk mewujudkan berbagai eksperimen para seniman teater.