Advertisement
![]() |
| Foto saat grup Blossom White tampil dalam Parade Musik Kolintang di Surabaya 7 Juni 2026. |
Ambrosius M. Loho, M.Fil.*
Istilah diplomasi budaya relatif masih baru. Namun diplomasi budaya yang mencakup bidang-bidang utama seperti diplomasi antarbudaya, justru telah ada sepanjang sejarah manusia. Jauh sebelum istilah ini diakui secara resmi, sebetulnya terdapat banyak individu yang dengan caranya sendiri, menjadi penjelajah, pedagang, cendekiawan, pendidik, dan seniman dengan bertindak sebagai duta budaya secara 'de facto'. Bukan hanya itu, lewat pergerakan mereka melintasi batas-batas negara dan interaksi dengan masyarakat asing, mereka telah menjadi 'jembatan' bagi dialog antarbudaya yang saling memperkaya satu sama lain.
Sejak zaman kuno hingga era modern saat ini, pertukaran bahasa, agama, ekspresi artistik, tradisi intelektual, dan norma-norma sosial, telah berperan dalam memperdalam pemahaman antar bangsa. Pembentukan rute perdagangan kuno, misalnya, tidak hanya memfasilitasi perdagangan, tetapi juga memfasilitasi pertukaran ide, estetika, dan gestur diplomatik, seringkali membuka jalan bagi hubungan antarbudaya yang langgeng.
Maka perlu pula disadari bahwa, aktivitas-aktivitas tersebut inilah yang merupakan wujud ilustrasi awal dan meyakinkan, terkait tentang diplomasi budaya yang nyata.
Saat ini, diplomasi budaya telah berkembang menjadi bidang studi yang boleh dikata menjadi sensitif dan menarik, karena bidangnya sangat dinamis. Diplomasi budaya kini diakui sebagai komponen penting dalam hubungan internasional, dengan landasan teori akademisnya yang khas serta pengaruhnya yang semakin besar dalam wacana kebijakan global.(Baca Cultural Diplomacy Bridging Nations Through Arts and Ideas).
Di saat yang sama, diplomasi budaya, yang juga mencakup diplomasi seni, merupakan eksperimen unik dan menonjol dalam hubungan internasional, karena penekanannya pada kekuatan lunak dan hubungan antar masyarakat . Diplomasi ini mendorong pemahaman dan kerja sama antar negara melalui pertukaran unsur budaya seperti seni, musik, bahasa, dan tradisi. Pendekatan yang berbeda ini membedakannya dari diplomasi tradisional, yang berfokus pada negosiasi politik dan ekonomi .
Sejalan dengan itu, diplomasi budaya bertujuan untuk pertukaran dan promosi budaya yang mengarah kepada proses menumbuhkan saling pengertian, membangun hubungan positif, dan mempromosikan kepentingan nasional antar negara yang berbeda. Hal ini berkontribusi pada hubungan positif antar negara dengan cara:
Pertama, saling mengerti: Dengan berbagi aspek budaya para diplomat dari berbagai negara dapat membangun pemahaman yang lebih mendalam satu sama lain, dimana mereka juga bisa menghilangkan stereotip dan kesalahpahaman, yang serentak membantu orang-orang untuk saling menghargai warisan budaya masing-masing.
Kedua, membangun hubungan: Diplomasi budaya membantu membangun hubungan yang langgeng di antara individu, komunitas, dan organisasi di berbagai negara, demikian juga diplomasi budaya berfungsi sebagai landasan untuk kolaborasi di berbagai bidang.
Ketiga, pnyelesaian konflik: Dengan mempromosikan pemahaman dan membangun hubungan, diplomasi budaya dapat membantu mencegah atau menyelesaikan konflik dengan dimungkinkannya sebuah langkah dialog dan diskusi terbuka.
Keempat, mempromosikan sebuah kepentingan keberlanjutan seni: Diplomasi budaya adalah alat yang ampuh bagi suatu negara untuk mempromosikan kepentingannya di luar negeri. Misalnya musik kolintang. Dengan menampilkan budayanya, mereka dapat memengaruhi persepsi dan membangun citra internasional yang positif. Aspek diplomasi budaya ini merupakan strategi kunci bagi suatu negara untuk memajukan kepentingannya di panggung global.
Secara spesifik dalam bidang seni, diplomasi budaya dapat mengambil berbagai bentuk, misalnya program pertukaran, festival, pameran seni, pertunjukan musik, dan proyek seni bersama. Misalnya, Malam Bakudapa Budaya di Amerika, yang menampilkan berbagai seni dan budaya Minahasa, beberapa waktu yang lalu, sekira Februari 2026. Bahkan dalam scope lebih luar, sering juga diadakan Festival Budaya Afrika-Amerika AFROPUNK memiliki edisi di berbagai negara. Acara ini sejatinya mempromosikan dialog dan pemahaman lintas budaya.
Maka dari itu, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa ini adalah alat yang ampuh untuk mempromosikan pemahaman budaya, menghancurkan stereotip, dan menumbuhkan toleransi dan kerja sama antar negara (baca Cultural Diplomacy di diplomacy.edu)
Dalam konteks diplomasi seni, tentu diplomasi budaya bisa menjadi sarana atau 'jalan utama' yang mampu membawa visi dan misi seni Minahasa secara umum, dan seni kolintang secara khusus, keluar negeri. Dalam konteks kerja-kerja kebudayaan, musik kolintang yang telah mendapatkan Pengakuan UNESCO, perlu semakin memasifkan proses riset bersama dengan negara yang bersama-sama mengusung kolintang ini. (bersambung)
* Pengajar pada Departemen Humanities and Interdiciplinary Studies - Universitas Ciputra Surabaya -Pegiat Seni-Budaya & Seniman Kolintang





