Mewariskan (Musik) Kolintang = Regenerasi -->
close
Pojok Seni
12 June 2026, 6/12/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-06-12T01:00:00Z
ArtikelBudaya

Mewariskan (Musik) Kolintang = Regenerasi

Advertisement
Regenerasi musik kolintang

Ambrosius M. Loho, M.Fil.

(Pengajar pada Departemen Humanities and Interdiciplinary Studies - Universitas Ciputra Surabaya -Pegiat Seni-Budaya & Seniman Kolintang)


Perubahan budaya dalam musik kolintang terlihat jelas dari pergeseran fungsinya, yang awalnya merupakan musik ritual pemujaan roh leluhur di Minahasa (Sulawesi Utara), dan kini bertransformasi menjadi musik pengiring tari, orkes, lagu modern, dan pertunjukan seni, sebagaimana sering kita saksikan dalam berbagai event, pentas bahkan pertunjukan apa saja, dengan menggunakan musik kolintang sebagai pengiringnya.


Kendati demikian, transformasi ini berhasil menjaga eksistensi kolintang, sehingga secara resmi diakui dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO.


Dalam konteks tulisan ini, penulis akhirnya mencoba mengulik soal apa itu perubahan sosial dan dampak besarnya bagi proses regenerasi musik kolintang ini secara berjenjang. Maka untuk tujuan ini, perlu pula kita menempatkan bingkai awal tentang perubahan budaya dan bingkai dasar tentang regenerasi. Sebagai pintu masuk, pertanyaan dasarnya apa itu perubahan budaya, tentu sangatlah mudah untuk dijawab. Kendati begitu, kita semua telah mengetahui bahwa, budaya bukanlah produk yang mutlak sudah jadi. Ia selalu bergerak (mobile). 


Di setiap tempat di mana saja, misalnya kita saksikan, ada nilai-nilai yang dianut orang, makanan yang dimakan, teknologi yang digunakan, dan termasuk bahasa yang diucapkan semuanya, tak lepas dari proses yang mengalami transformasi secara terus-menerus. Itulah budaya yang selalu bergerak, berubah dan tidak stagnan.


Namun, hal yang disebut juga sebagai transformasi tersebut, tidak terjadi secara acak. Sejak dahulu kala, para ilmuwan dibidang tersebut, telah mengidentifikasi mekanisme spesifik yang menyebabkan perubahan sebuah budaya, seperti adanya inovasi, difusi, proses akulturasi dan asimilasi, itu terjadi secara nyata dan berkelindan satu sama lain. Fakta inilah yang ada sampai saat ini dalam kebudayaan dan peradaban. (Baca: Cultural Change Inovation Diffusion Adaption


Di sisi yang sama, perubahan budaya juga merujuk pada transformasi nilai-nilai, kepercayaan, kebiasaan dan perilaku, yang membentuk kebudayaan suatu masyarakat. Perubahan ini dapat terjadi bisa secara bertahap namun cepat, dan dapat disebabkan oleh faktor internal seperti kemajuan teknologi, atau pengaruh eksternal seperti kontak dengan masyarakat lain. Salah satu karakteristik yang mendefinisikan budaya adalah sifatnya yang dinamis, objek-objek baru ditambahkan ke budaya material setiap hari, dan pergeseran dalam kehidupan material pasti memengaruhi kepercayaan, norma, dan praktik sosial.


Sementara itu, masih terkait tema sentral tulisan ini, adalah soal regenerasi seni. Dalam konteks seni, regenerasi adalah proses pewarisan nilai, keterampilan, dan penciptaan karya seni dari generasi seniman senior kepada generasi penerus. Proses ini sangat penting, terutama dalam seni tradisi, agar suatu karya tidak punah dan tetap relevan dengan perkembangan zaman. 


Dalam bingkai itu juga, regenerasi yang sejati, sebetulnya melahirkan penerus/pewaris yang bukan menjadi antitesa para seniman lama, atau pemain lama, namun merupakan kelanjutannya, penyempurna dan bahkan bisa dianggap 'penutup celah' dan pemelihara jejak baik dalam berkesenian kolintang, yang sudah pernah ada. Para generasi baru ini pun, harus dipandang sebagai rombongan yang datang bukan dengan ambisi baru yang mencabut akar, tetapi dengan spirit dan energi baru mereka datang dan menyiram serta menggelorakan perjuangan agar tumbuh lebih kuat dan menjulang lebih tinggi.


Maka dari itu, perlu disadari bahwa, dalam regenerasi, yang diwariskan bukan hanya cara dan konsep bermain, atau bahkan gaya bermain yang 'show off' dalam menujukan kemampuan memainkan musik kolintang, tetapi harus melampaui itu, yakni nilai, kebijaksanaan, dan semangat juang untuk terus mendentangkan kolintang ini, melanjutkan sebagai pewaris musik kolintang ini. 


Demikianlah para geberasi baru ini sudah seharusnya dipandang sebagai kunci kemajuan dan pemegang keberlanjutan generasi kolintang. Dalam bingkai inilah, maka perlu pula dipahami bahwa, hakekat perjuangan para pendahulu di dunia kolintang,  bukan siapa yang memimpin, tapi siapa yang siap melanjutkan amanah dengan ikhlas, adil, dan rendah hati dan berkemauan untuk bergerak dengan cara dan kemampuannya masing-masing. (Bdk.Waji, 2025.).