28 November 2017

author photo
Ilustrasi fourth wall

Oleh : Adhyra Irianto

pojokseni.com - Drama realis, mengenal istilah fourth wall, atau dinding ke empat. Dinding ini menjadikan panggung sebagai ruangan yang tertutup sempurna, dengan penutup segi empat atau persegi panjang. Ukuran panggung standar yang sering kita lihat adalah ukuran 10 x 7 meter, khusus untuk drama realis, akan ditutup dengan dinding empat sisi. Nah, pertanyaannya, bagian mana yang disebut dinding ke empat?

Dinding ke empat adalah dinding yang berada di garis depan panggung. Dinding tersebut, tentunya merupakan dinding imajiner yang tak terlihat, namun menjadi sekat yang membatasi antara penonton dan pemain atau pelakon. Dinding tersebut yang sering tidak kita temukan dalam drama post-realis, juga drama tradisional. Dinding tersebut sebenarnya bermaksud untuk membatasi antara penonton dengan pemain, tujuannya tentu untuk memisahkan. Bila pemain berada di zaman Yunani klasik, atau berada di zaman penjajahan, atau di zaman-zaman lainnya, penonton tetap berada di masa kini, menyaksikan sebuah pertunjukan seperti layaknya menyaksikan televisi atau layar lebar. Bila pemain berada di Jepang, China, Pedalaman Sumatera, Kalimantan dan berbagai tempat lainnya, maka penonton tetap berada di depan panggung, di tempat yang asli mereka duduk. Apa yang memisahkan, yang menjadi dinding antar dimensi waktu dan tempat tersebut? Jawabannya, kembali lagi ke fourth wall.

Ini adalah salah satu pakem dalam drama realis yang tentunya mesti diperhatikan. Tidak hanya oleh pemain, tapi juga oleh penonton. Banyak penonton "zaman now" yang terkadang ingin menjaga eksistensi diri. Atau mungkin, ingin menunjukkan pada pemain, bahwa mereka juga berada di panggung sebagai penonton. Kemudian, penonton akan "ikut bermain" dalam drama yang dipentaskan. Kalau bentuknya sebagai respon manusiawi, seperti tertawa, menangis, haru, kagum dan sebagainya, hal itu dianggap hal yang biasa tentunya. Namun, bila berteriak, menjawab dialog dengan suara keras dan lain sebagainya, maka hal itu termasuk hal yang dapat merusak sebuah pertunjukan. Termasuk menderingkan suara ponsel, memotret dengan kamera dengan blitz, dan respon berlebihan, hal itu juga dianggap sebagai hal yang bisa merusak sebuah pertunjukan drama realis. Secara langsung dan sengaja, para penonton ingin mendobrak fourth wall yang dibangun oleh para pemain.

Bagaimana dengan pementasan teater tradisional, di mana pemain kadang menyapa penontonnya, atau kadang berdialog dengan penonton? Tentu saja hal itu sangat dibolehkan, sepanjang pertunjukan yang dimaksud memang berbentuk drama tradisional. Namun, bila bentuknya adalah drama realis, maka baik pemain dan penonton sudah sewajibnya menghormati panggung dan pertunjukan.

Sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik, penonton sudah membayar tiket pertunjukan, kadang harganya mahal, lantas mereka juga dibatasi dengan hal-hal tertentu, tidak boleh bersuara, tidak boleh tepuk tangan dan tidak boleh melakukan hal lainnya. Apakah hal tersebut tidak dianggap sebagai tindakan egois dari para pemain? Jawabannya mudah, tentu saja bila benar penonton merasa membayar pertunjukan namun ingin "ikut serta" dalam pertunjukan, maka pilih-pilihlah pertunjukan yang akan ditonton, lihat naskah yang dipentaskan. Bila naskah yang dipentaskan adalah naskah drama realis, maka tentunya fourth wall yang dimaksud akan membatasi mereka dengan pemain. Namun, bila pertunjukan yang ditonton adalah teater tradisional, maka akan ada celah untuk penonton bisa ikut serta dalam pertunjukan.

Sebagai penutup, fourth wall atau dinding ke empat sebenarnya "diciptakan" dengan tujuan lebih dari sekedar memisahkan dimensi ruang dan waktu, antar penonton dengan pemain. Dinding ke empat sebenarnya memiliki tujuan dan fungsi yang sangat signifikan, yakni menjadikan pemain dan penonton lebih menghormati panggung, naskah dan pertunjukan yang sedang dipentaskan. Tidak mungkin kan, di naskah yang memiliki setting rumah gubug era pasca kemerdekaan, ada seorang dari tahun 2017 yang tiba-tiba mengajak seorang pelakon berbicara? (pojokseni)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Loading...

Advertisement