Seni dan Kerendahan Hati -->
close
Pojok Seni
03 April 2026, 4/03/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-04-03T01:00:00Z
Artikel

Seni dan Kerendahan Hati

Advertisement
Ambrosius M. Loho

Oleh: Ambrosius M. Loho, M. Fil.


Kapasitas dan kapabilitas seorang seniman apalagi seniman yang telah lama bergelut dengan dunia kesenian, tentu dianggap profesional dan sangat menguasai seni sesuai kebidangannya. Selain kedua hal itu, seniman pun diandaikan memiliki kemampuan menilai, bukan hanya dengan perasaan atau kedalaman rasa namun juga dengan nalar atau pengetahuan rasional yang ada pada dirinya. 

Berbanding lurus dengan dua hal tersebut, kerendahan hati, sering diabaikan atau bilanglah terabaikan, karena tidak dijadikan perhatian oleh seniman.


Fakta di atas menjadi poin of view penulis, juga karena hal itu menggugah penulis untuk merefleksikannya, demi sebuah upaya peningkatan kesadaran seniman yang sarat kapasitas dan kapabilitas, serentak terlampau rendah hati dalam cara.


Telah sangat umum dikenal bahwa kapasitas dan kapabilitas adalah dua aspek fundamental yang menentukan keberhasilan dan kualitas seorang seniman. Meskipun sering diidentikan, tapi sejatinya, kedua hal itu memiliki fokus yang berbeda: Kapasitas merujuk pada daya tampung atau potensi dasar, sementara kapabilitas merujuk pada kemampuan nyata untuk menggunakan potensi yang ada dalam diri. 


Jadi dengan dasar ini, diketahui bahwa, kapasitas seniman, merupakan potensi dasar. Dengan kapasitas, yang merupakan potensi dasar itu, kapasitas juga merujuk pada "apa yang dimiliki" sang seniman atau daya tampung mental dan fisik seorang seniman dalam berkarya.


Hal tersebut sekurang-kurangnya mencakup:


  1. Kreativitas dan Imajinasi: Modal utama untuk memunculkan ide-ide baru dan orisinal.
  2. Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences): Pengaruh kecerdasan visual-spasial, kinestetik, intrapersonal, dan emosional mempermudah pembelajaran seni.
  3. Sensitivitas dan Kepekaan Sosial: Kemampuan merasakan lingkungan dan merefleksikannya ke dalam karya.
  4. Bakat Dasar: Potensi bawaan dalam bidang artistik tertentu. (Fadhilaturrahmi Fadhilaturrahmi, dkk., 2024).


Sementara itu, kapabilitas seniman, adalah kemampuan realisasi. Dengan kapabilitas merujuk pada "apa yang dapat dilakukan" untuk mengubah potensi menjadi karya nyata. Jadi, kapabilitas mencakup:


  1. Pertama, Teknis dan Keterampilan (Skill): Kemampuan menguasai alat, material, dan teknik artistik secara profesional.
  2. Kedua, Manajemen Diri: Kemampuan mengelola proses kreatif dari ide hingga menjadi produk, termasuk kerja cerdas.
  3. Ketiga, Inovasi: Kemampuan untuk terus memperbarui gaya atau teknik, bahkan berkolaborasi dengan disiplin ilmu lain.
  4. Keempat, Kecerdasan Eksekusi: Merealisasikan konsep ke dalam karya fisik (seperti patung, lukisan, atau pertunjukan) yang berkualitas. (https://thevirtualinstructor.com/blog/7-characteristics-of-successful-artists#: bandingkan juga, https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0166497225001695#:)


Dengan kapasitas dan kapabilitas seniman sebagaimana diuraikan itu, bagaimana keterkaitannya dengan kerendahan hati? Apakah dengan kapasitas yang mumpuni, dan bahkan kapabilitas yang tidak ada duanya, dalam diri seorang seniman, sehingga seniman harus mengabaikan sikap kerendahan hati?


Sebagai orang yang selalu 'concerned' pada dunia kesenimanan, sikap kerendahan hati sangat penting didaku oleh sang seniman.


Kerendahan hati bagi seorang seniman adalah kesadaran akan keterbatasan diri, keterbukaan untuk terus belajar, dan kemampuan mengelola ego. Kerendahan hati juga adalah karakter seniman yang seringkali memposisikan diri sebagai "saluran" kreatif daripada sumber utama kejeniusan sebuah karya seni. Dengan ini maka, sikap kerendahan hati itu adalah juga sikap yang mampu memupuk empati dan mampu menangkap keindahan dunia, serta menciptakan karya yang lebih tulus serta bermakna. (https://imtglobal.org/marketplace-theology/humility-for-the-artist-leader).


Di sisi yang sama, kerendahan hati secara filosofis menunjuk kepada kebajikan moral yang melibatkan pengenalan terhadap sikap jujur atas keterbatasan diri, akurasi penilaian diri tanpa ego, dan pengakuan ketergantungan pada orang lain atau bahkan kepada Tuhan. Kendati begitu, hal ini bukan tanda kelemahan si individu subjek, melainkan kekuatan intelektual dan emosional untuk tidak menonjolkan diri, serentak itu menghormati orang lain, dan menerima ketidaksempurnaan, dalam konteks tulisan ini adalah diri sang seniman itu (https://plato.stanford.edu/entries/modesty-humility/#).


Melampaui itu, seorang seniman bisa pula dipandang sebagai filsuf yang memiliki pemikiran dan nalar filosofis, mendaku nilai-nilai etika dan pendidikan yang mampu untuk menghindari kesombongan dan selanjutnya mampu mengakui keterbatasan bahkan ketidaktahuan diri. (https://philosophynow.org/issues/53/Socratic_Humility).


Akhirnya, kerendahan hati seyogyanya adalah salah satu sifat yang paling diinginkan oleh orang yang bijak. Bersikap rendah hati berarti bijaksana. Dalam realitas yang terpentas, kita bisa menemukan bahwa kerendahan hati jarang terlihat di dunia yang didominasi oleh sikap terlalu terbuka dan hanya menampilkan diri yang terbaik. 


Jadi mengapa seniman membutuhkan sikap kerendahan hati? Diyakini bahwa seniman yang rendah hati, dapat menjadi langkah penting menuju insan seni (komunitas seni) yang berkelanjutan, yakni insan seni  yang tidak menempatkan diri mereka lebih tinggi dari orang lain. Maka sikap rendah hati sang seniman, akan berdampak pada insan seni yang lebih memahami dan menghormati satu sama lain. 


"Air bermanfaat bagi segala sesuatu. Ia tetap berada di tempat yang rendah. Dan tidak membutuhkan imbalan atau pengakuan apa pun. Itulah kerendahan hati yang sejati." (https://thatsphilosophical.substack.com/p/humility).


*Penulis adalah Pegiat Seni & Pengajar pada Departemen Humanities  and Interdiciplinary Studies Universitas Ciputra Surabaya, Seniman Kolintang.