Advertisement
Oleh: Rizal Sofyan
Sabtu, 14 Maret 2026 tepatnya pukul 20.30 WIB pertunjukan bertajuk Jantur karya Bode Riswandi dipentaskan. Pertunjukan ini bertempat di lapangan parkir Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Siliwangi. Lapangan parkir tersebut disulap menjadi panggung outdoor dengan penggunaan scaffolding setinggi sekitar 8 meter dipadukan dengan satu pohon besar yang menjadi titik tengah panggung. Selain itu, lapangan parkir disulap menjadi sawah buatan lengkap dengan orang-orangan sawah sebagai penggambaran latar peristiwa dalam pertunjukan.
Pertunjukan ini dibuka dengan kontradiksi tema antara tema developmentalis yaitu pembangunan dengan tema kehidupan agraris yaitu sawah pada skenografi dan adegan pertama. Aktor-aktor mengisi ruang di scaffolding dan memainkan alat pemotong besi di besi-besi scaffolding. Permainan ini menghasilkan percikan api dan diramaikan oleh pengucapan tagline rampak dari para pekerja ”Ayo kerja! Ayo kerja lagi!”. Hingga akhirnya mereka turun dan pergi dari panggung pertunjukan dengan menginjak petak sawah yang sudah ditanami padi.
Gambaran peristiwa tersebut menjadi semacam foreshadowing terhadap peristiwa yang selanjutnya terjadi. Adegan berubah menjadi adegan bertani di mana sepasang suami-istri paruh baya mengurusi sawahnya. Mereka membicarakan tentang masalah penggusuran sawah-sawah untuk kepentingan pembangunan kota. Lalu, aktor yang berperan menjadi anak-anak datang yang membawa cerita romantisnya kehidupan agraris – menjaga keseimbangan ekosistem, hukum adat, dan budaya agraris sebagai jalan kehidupan.
Alur cerita sangat sederhana, bahkan selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana konflik agraria terjadi ketika sawah dialih fungsikan menjadi ruang lain oleh pihak-pihak yang memiliki kuasa. Dalih delopmentalisme sangat jelas contohnya pada dialog ”mengorbankan sesuatu demi pembangunan dan kemajuan” atau ”dalam pembangunan ada yang mesti dikorbankan”. Akhir ceritanya pun mudah ditebak, yaitu kekalahan pihak petani. Sawahnya dihancurkan oleh ekskavator, ditanami beton, dan memutus hubungan dengan petani.
Walaupun pertunjukan ini menampilkan realitas konflik agraria berdasarkan Legenda Dadaha, pertunjukan ini justru bersifat kontra produktif. Legenda Dadaha dalam pertunjukan Jantur bercerita tentang perubahan lahan persawahan di daerah Dadaha menjadi distrik-distrik baru untuk menunjang kemajuan pembangunan kota, sekarang daerah Dadaha menjadi pusat olahraga hingga komersial. Peralihan fungsi lahan ini menjadi konflik di mana terjadi penolakan karena identitas agraris akan digantikan oleh identitas urban. Selain daerah persawahan, Dadaha dikenal sebagai tradisi pacuan kuda yang telah dilaksanakan pada tahun 1920-an. Pacuan kuda ini menjadi acara yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Hanya saja seiring Dadaha sudah berubah, tradisi ini hilang dan hanya menjadi memori kolektif masyarakat.
Pertunjukan ini mengambil metode alih wahana dari data penelitian menjadi pertunjukan teater. Saya mengenal teori alih wahana sejak pandemi COVID-19 saat peristiwa teater harus beralih menjadi media video. Saat itu pula istilah alih wahana menjadi booming dan banyak didiskusikan. Saya mengenalnya teori ini dari Sapardi Djoko Damono. Kunci dari teori alih wahana ialah transformasi atau translasi dari satu wahana atau media ke media lain. Wahana diibaratkan sebagai sebuah ”kendaraan”. Pergantian ”kendaraan” berarti pergantian karakteristik. Contohnya bagaimana puisi menjadi musikalisasi puisi. Puisi yang memiliki dimensi estetika sendiri sebagai sebuah media, dialihkan ke medium musik yang tentu memiliki dimensi estetika yang berbeda. Di sini terjadi penyesuaian dan bahkan eksplorasi lebih lanjut dari segi artistik di wahana yang baru.
Untuk mencapai pengalihan wahana, diperlukan metode penerjemahan dari satu media ke media lain. Kuncinya ialah laku penerjemahan, di mana apa yang diterjemahan memiliki konteks yang sama. Hanya saja Sapardi menyatakan perlunya pembebasan artistik, tidak sekedar menerjemahkan. Pembebasan ini menghasilkan artistik yang berkembang di wahana sebelumnya. Alih wahana bukan sekedar copy-paste, tetapi juga pengembangan hasil dari pengalihan wahana.
Berbicara tentang laku penerjemahan, Benjamin dalam esainya yang berjudul The Task of Translator menyatakan bahwa penerjemahan harus mampu mengekspresikan konteks yang sama. Ia berangkat dari suatu yang esensial dari sebuah teks. Pernyataan ini kontradiktif dengan alih wahana, karena Benjamin bertolak pada kesetiaan terhadap ”bahan”. Sehingga jika Legenda Dadaha ingin diterjemahkan menjadi pertunjukan teater, bukan hanya sekedar merubah bentuk teks menjadi bentuk performatif dan sibuk pada karakteristik wahana barunya, tetapi bagaimana esensinya pun konsisten ketika dialihkan wahana.
Saya menilai pertunjukan Jantur tidak konsisten dalam membawa esensi dari Legenda Dadaha. Pertunjukan ini justru lebih sibuk dalam mengeksplorasi pertunjukan teater. Konteks konflik agraria hanya dibawakan secara bentuk-bentuk pengadegan. Bahkan analisis terhadap konflik antara developmentalisme versus environtalisme dipandang secara banal. Hal ini menjadi pertanyaan tersendiri tentang kedalaman pencarian data beserta laku analisis dalam penelitian.
Dalam pertunjukan Jantur, laku alih wahana hanya dilihat secara perubahan bentuk. Esensi dari konflik menjadi kabur akibat pertunjukan ini dibawa ke dalam ruang eksplorasi yang maksimalis. Ekspresi cenderung brutal lewat penggunaan skenografi, bahkan aktor non manusia seperti truk dan ekskavator. Jika memang esensinya ialah konflik antara keseimbangan ekosistem dan pembangunan eksplotatif, mengapa menggunakan konsep pertunjukan maksimalis yang justru bersifat eksploitatif?
Seniman cenderung menggunakan teror lewat penggambaran peristiwa yang brutal, tanpa melihat output yang kemudian tertinggal yaitu sampah ekologis seperti lumpur yang ditinggalkan setelah pertunjukan, tumbuhan yang dicabut dari asal dia tumbuh untuk mengisi sawah buatan, air yang dihamburkan untuk menampilkan efek dramatis, dan beras yang dibuang hanya untuk kebutuhan pertunjukan. Sebuah penerjemahan yang dilebih-lebihkan atas dasar eksplorasi terhadap wahana teater. Secara produksi pertunjukan, hal ini kontra dengan etika ekologi dan pesan yang ingin disampaikan dari Legenda Dadaha yang mengungkap perlawanan terhadap developmentalisme. Pertunjukan melakukan kritik terhadap pemutusan hubungan antara alam dan manusia, tetapi produksi pertunjukan ini melakukan apa yang dikritik.
Bagi saya seniman belum selesai dalam mengurai laku alih wahana. Seniman menggunakan konflik dalam Legenda Dadaha hanya sebatas nostalgia konflik. Lebih fatalnya dalam terbitan press release Ide Jabar yang ditulis oleh Edi Purnawadi pada tanggal 14 Maret 2026 menyebutkan bahwa etnoteater sebagai penggambaran realitas sosial di mana peristiwanya dekat dengan penonton dan mengadvokasi terhadap pihak marjinal. Sejauh mana hal ini dapat diukur dan seberapa efektif ketika penggambarannya begitu sensasional? Pertunjukan ini justru terlihat seperti mengkapitalisasi realitas sosial dan teror. Pertunjukan berakhir hanya sebagai representasi yang jauh dari nilai-nilai tradisi, efek katarsis, apalagi advokasi.
Kembali ke alih wahana, kini saya bertanya mengenai apakah alih wahana itu selalu berubah dari bentuk seni ke seni yang sudah mapan? Yang saya lihat malam itu ialah pertunjukan pada teori alih wahana yang banyak terjadi. Dari karya novel ke film, dari film ke pertunjukan teater. Saya malah membayangkan jika alih wahana ini menjadi bentuk demonstrasi atau mimbar terbuka dalam merespons perebutan ruang hidup di Tasikmalaya. Jelas secara esensi dan posisi seni dalam sebuah konflik, tidak hanya mempertontonkan representasi. Bagi saya ini bisa menjadi kebaruan paradigma alih wahana, mengembangkan pengalihan wahana dari satu bentuk seni ke seni lain yang sudah mapan. Bahkan harapan saya paradigma ini dapat digunakan oleh masyarakat non-seni untuk mengadvokasi konflik di Legenda Dadaha. Alih wahana tidak menjadi barang elit yang hanya digunakan oleh seniman.
Apa yang saya tonton malam itu adalah pertunjukan alih wahana dari Legenda Dadaha menjadi sebuah pertunjukan teater, bahkan saya tidak setuju jika disebut legenda. Jauh lebih tepat disebut memori kolektif tentang sejarah kota, bahkan arsip sejarahnya masih bisa dicari dibandingkan disebut sebagai legenda. Pertunjukan ini gagal dalam menerjemahkan esensi pesan dari legenda. Ia lebih mementingkan pengembangan artistik yang berupa sensasi-sensasi dari peristiwa teater. Saya pun melihat seniman tidak memiliki kepentingan untuk berpihak, ia seakan-akan netral dalam masalah ini karena pertunjukan hanya ditopang dari segi estetika, belum etika. Alih-alih mendapatkan katarsis dan sadar akan realitas sosial, produksi pertunjukan yang sensasional justru menjadi kontra produktif baik dalam penerjemahan dan etika ekologis. Alih wahana ini yng belum selesai diuraikan oleh seniman.





