Advertisement
Pojokseni/Surabaya - Dalam konteks umum, secara sederhana, kolaborasi Seni adalah ketika berbagai jiwa kreatif berkumpul untuk menciptakan sesuatu yang artistik. Ini adalah perjalanan bersama di mana berbagai bakat, perspektif, dan ide digabungkan untuk menciptakan karya tunggal yang tidak mungkin dicapai oleh siapa pun sendirian. Anggap saja sebagai percakapan kreatif, di mana setiap peserta membawa suara unik mereka ke dalam ekspresi kolektif.
Dalam realitas saat ini, kita yang semakin sadar akan bagaimana kita hidup dan apa yang kita tinggalkan, kolaborasi dan bwrkolaborasi dirasa menjadi sangat bermakna ketika dikaitkan dengan keberlanjutan.
Kendati demikian, pada dasarnya kolaborasi seni, adalah upaya kreatif bersama di mana beragam talenta bersatu untuk menghasilkan karya seni, dan ketika dikaitkan dengan keberlanjutan, ia memperoleh makna yang lebih dalam untuk kehidupan yang sadar.
Dinas Pendidikan Kota Surabaya Jawa Timur, di tahun 2026 ini telah merancang dan kemudian telah juga melaksanakan Lomba Kreativitas Siswa se-kota Surabaya, tepatnya pada hari Selasa 31 Maret untuk bidang Angklung & Kolintang secara kolaborasi di SD Alfa Omega Surabaya Jawa Timur.
Selain lomba kolaborasi ini, beberapa rangkaian lomba juga di laksanakan seperti band, paduan suara, ludruk, drama musikal, samrah, baris berbaris kreasi, gerak dan lagu 7 kebiasaan anak Indonesia hebat.
Menjadi sorotan yang menarik bagi penulis adalah kolaborasi Angklung Kolintang, yang dalam catatan pegiat Kolintang di Surabaya, ini pertama kali dilaksanakan. Tahun sebelumnya diadakan Lomba angklung, bahkan mungkin juga tahun-tahun sebelumnya diadakan lomba bertajuk musik tradisional lain. Namun di tahun ini, dilombakan salah satunya kolintang dan angklung kolaboratif.
Dalam kerangka yang sama, terselenggaranya lomba ini, terasa sangat special, karena bukan sesuatu yang kebetulan, lomba kreativitas siswa ini, turut menguatkan pencapaian Kolintang yang telah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Di mana pada tahun 2024, kolintang telah mendapatkan sertifikat dari UNESCO, yang diprakarsai oleh PINKAN Indonesia, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan beberapa komunitas.
Dalam pelaksanaan kali ini, yang menjadi pengadil adalah seniman, akademisi dan praktisi seni, yakni:
Senyum Sadhana, M.Pd. Andi Wira Sujana & Ambrosius M. Loho, M.Fil.
Para Juaranya adalah seperti berikut:
- SD Kristen Petra 7
- SD Muhammadiyah 6
- SD Katolik St. Yosef
Harapan :
- SD Negeri Tanah Kali 2 Kedinding
- SD Negeri Rungkut Kidul 2
- SD Muhamadiyah 16
Acara berlangsung meriah karena juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, S.Si., M.M., Kepala Bidang pendidikan Mochamad Sofyan, Ketua Yayasan Alfa Omega, Elijah Soetopo, B.Th. dan Para Kepala Sekolah, Guru dan Orang Tua pendamping Siswa dalam Lomba.







