Advertisement
Ambrosius M. Loho, M.Fil.
(Pengajar pada Departemen Humanities and Interdiciplinary Studies - Universitas Ciputra Surabaya -Pegiat Seni-Budaya & Seniman Kolintang)
Modernitas adalah fase budaya yang menekankan kesadaran diri sebuah generasi untuk melampaui masa lalu melalui inovasi, menciptakan masyarakat yang terindustrialisasi dan terstruktur secara rasional. Di era yang ditandai dengan perubahan cepat, banyaknya informasi yang sebetulnya belum terfilterisasi dengan baik, dan tantangan perubahan serta kemajuan yang semakin kompleks di era modern ini, tentu dibutuhkan kapasitas berpikir (kritis), demi menyesuaikan diri.
Namun demikian, fakta-fakta tersebut merupakan sesuatu yang terberi, dan tidak bisa ditolak sedemikian rupa. Mengapa demikian? Karena perubahan yang adalah modernitas itu juga, merupakan 'imbas' dari perkembangan zaman atau peradaban yang bergerak terus. Berpikir secara kritis pun dipandang kurang atau bahkan tidak cukup, karena kompleksitas kondisi riil itu. Oleh karenanya, apa yang perlu untuk dilakukan oleh individu?
Pertama, berpikir & beradaptasi. Beradaptasi dengan dunia yang berubah dengan cepat, harus dimiliki oleh individu, karena kemampuan ini adalah syarat utama untuk mampu menerima situasi perubahan sosial dan apapun yang ada didalamnya. Dalam laman di Safireinsurance.com tentang berpikir kritis di era modernitas, dipaparkan bahwa seiring dengan semakin mampunya mesin dan otomatisasi dalam melakukan tugas lebih cepat dan efisien daripada manusia, kekuatan kita terletak pada bagaimana kita menggunakan teknologi dan menerapkannya pada lingkungan kita. Demikian ditegaskan lagi, bahwa semua itu bisa diperankan atau dipraktekkan dengan pola pikir yang waras dan mampu dengan kritis memilah dan memilih mana yang paling baik dan berguna untuk dijalankan.
Kedua, dengan perubahan sosial yang ditandai oleh kemajuan dunia, yang dikatakan penulis sebagai modernitas itu, justru kita melihat bahwa peluang yang sangat positif adalah inovasi. Dengan kemampuan dan pola pikir si individu, mendorong terbentuknya pemikiran yang inovatif. Adapun inovasi itu dibentuk dengan cara mempertimbangkan perspektif serta pendekatan alternatif sehingga apa yang dituju akan tercapai. Selain itu, sikap dan cara yang inovatif itu, individu mampu bereksperimen dengan berbagai kemungkinan, dan mengembangkan ide-ide mereka secara berulang. Mereka terlibat dalam pemecahan masalah secara aktif, menggabungkan pemikiran analitis dengan ide-ide imajinatif, untuk mendorong batasan dan memajukan inovasi.
Ketiga, terbuka & wajib memiliki kemampuan kognitif-interpretatif. Sebagai makhluk yang memiliki kemampuan kognitif, manusia diyakini selalu mendorong personalnya untuk terus melakukan interpretasi terhadap keadaan yang imanen maupun realitas eksternalnya (transenden) secara dinamis. Fenomena ini merupakan salah satu konsekuensi logis dari adanya hukum dialektika zaman. Demikian juga, munculnya berbagai macam ideal tertentu dalam melihat dan menafsirkan keadaan, individu atau subjek manusialah yang kemudian berimplikasi terhadap adanya upaya siklus dekonstruksi pada setiap ilmu pengetahuan dan bahkan paradigma mengenai ideal tertentu itu.
Jadi, kendatipun kemajuan dunia disebabkan oleh perubahan, setiap individu yang memiliki kapasitas berpikir dan berpengetahuan, perlu menangkap peluang untuk selanjutnya berinovasi. Dengan begitu, maka kemajuan yang dimaksud itu, akan membawa dampak yang signifikan bagi realitas.
Keempat, berpikir filosofis. Pada dasarnya, filsafat adalah berpikir, filsafat juga berdiam dalam pemikiran manusia. Kapasitas berpikir filosofis ini tentu sangat diperlukan di zaman modern ini. Mengapa? Karena selain filsafat bisa menjadi pembebas individu dalam hal membimbing manusia untuk berpikir lebih kritis, lebih mendalam, dan lebih jauh dalam melihat sebuah kenyataan, dengan filsafat juga, individu bisa melihat kejelasan, dan bahkan kebenaran sebuah kenyataan. (ex philosophia claritas).
Secara historis, filsafat mampu membebaskan manusia dalam bayangan mitos di masa Yunani Kuno dan membebaskan manusia dalam bayangan dogmatis di Eropa. Maka dari itu, filsafat juga dapat membebaskan manusia dari keterkaitan manusia terhadap teknologi atau globalisasi di zaman modern ini. Dengan memasukkan filsafat dalam diri manusia, umat manusia dapat mengendalikan dan memperbaiki hidupnya demi tantangan arus globalisasi yang semakin pesat (lsfdiscourse.org).
Akhirnya, kesiapsediaan individu ditengah dunia modern yang dengan cepat berubah maju, kiranya menjadi hal paling utama ada dalam diri. Berpikir, beradaptasi, berinovasi dan berfilsafat adalah juga kunci untuk mecapai 'kejernihan'.*





