Jepara Hatedu Suguhkan Emprak -->
close
Pojok Seni
06 April 2026, 4/06/2026 06:34:00 PM WIB
Terbaru 2026-04-06T11:34:43Z
ArtikelBudaya

Jepara Hatedu Suguhkan Emprak

Advertisement
Emprak, seni pertunjukan tradisional Jepara
Emprak, seni pertunjukan tradisional Jepara


PojokSeni/Jepara - Seni pertunjukan tradisional khas Jepara, Emprak, diambang kepunahan. Saat ini jumlah kelompok seni Emprak di Bumi Kartini tinggal hitungan jari. Salah satu yang masih bergeliat adalah kelompok Emprak Sido Mukti dari Desa Kepuk Kecamatan Bangsri.


Pada peringatan Hari Teater Sedunia (Hatedu), kesenian Emprak kembali dipentaskan. Selama 2,5 jam, senima-seniman Emprak menghibur penonton yang sebagaian besar generasi Z dengan lakon Tresna Wurung.


Panitia kegiatan Jepara Hatedu 2026, Rhobi Shani, menyampaikan sengaja menghadirkan srni Emprak pada gelaran Hatedu untuk mengenalan seni pertunjukan tradisional khas Jepara pada generasi muda. Tidak hanya remja di Jepara, tapi juga dari luar daerah.


"Peserta Jepara Hatedu kali ini juga datang dari Kudus, Semarang, dan Solo. Tidak hanya sebagai upaya pelestarian dengan memberikan ruang pentas, tapi juga mengenalkan Emprak pada Gen Z," ujar Rhobi Shani, Minggu, 5 April 2026.


Peserta Jepara Hatedu 2026 juga berkesempatan menggali pengetahuan tentang seni Emprak langsung dengan senimannya. Usai pentas pada Sabtu malam, 4 April 2026, dilanjutkan sesi dialog seniman Emprak dengan penonton.


Salah satu peserta Jepara Hatedu, Kurniawan, mengaku baru kali pertama menyaksikan pertunjukan seni Emprak. Menurutnya sangat disayangkan apa bila kesenian asli Jepara itu punah. Sehingga perlu dilakukan upaya pelestarian dengan mengikuti kondisi jaman.


"Baru kali ini saya nonton Emprak, padahal ini asli Jepara tapi sudah jarang dijumpai," kata Kurniawan.


Emprak, seni pertunjukan tradisional Jepara
Emprak, seni pertunjukan tradisional Jepara

Pimpinan Emprak Sdo Mukti, Sunawi, mengatakan kesenian Emprak sangat bisa mengikuti zaman. Pasalnya, penampilan Emprak saat ini sudajh berubah dari masa lampau. Bila dulu pentas Emprak hanya menggunakan alat musik kendang dan terbanng sebagai musik pengiring, saat ini ditambah dengan saron. Bahkan pada acara tertentu juga menggunakaan alat musik organ tunggal.


"Terus ini, topi bayi, dulu itu yang pakai potongan kaus bagian lengan, kemudian diikat bagian atasnya. Karena dilihat-lihat sepertinya sudah tidak zamannya, kemudian diganti dengan topi bayi," ungkap Sunawi dalam bahasa Jawa saat sesi dialog dengan peserta Hatedu di Aula objek wisata Pantai Bandengan.


Seperti diketahui, Jepara Hatedu 2026 digelar selama tiga hari sejak Jumat, 3 April 2026. Selain menampilkan Emprak, juga diisi dengan pentas teater dan workshop keaktoran, penyutradaraan, dan tata artistik. Tak hanya itu, juga ada diskusi penulisan naskah teater dan dipungkasi dengan peluncuruan buku kumpulan naskah teater.