Monolog "Padi": Beras Plastik dan Sawah Yang Mengering -->
close
Pojok Seni
22 February 2026, 2/22/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-02-22T01:00:00Z
teaterUlasan

Monolog "Padi": Beras Plastik dan Sawah Yang Mengering

Advertisement
Pertunjukan bertajuk "Padi" yang ditulis dan diperankan oleh Nikanor Bana atau Ano (foto: Moh. Zaini Ratuloli)

Oleh: Moh. Zaini Ratuloli


Ini bukan sekedar pertunjukan semata tapi sebuah pengingat berapa kita kian tergerus oleh kehidupan entah di kota atau pun di desa kadang kehidupan menjauhkan kita dari tradisi ataupun budaya. Jumat 20 Februari 2026, saya mendapatkan kesempatan untuk bisa menyaksikan sebuah pertunjukan Monolog di Aula Paroki St Ignatius Waibalun yang dilakonkan seorang aktor muda bernama lengkap Nikanor Bana atau yang biasa di sapa Ano dengan judul pertunjukkan Padi yang naskahnya dia tulis sendiri.


Pertunjukan ini adalah sebentuk kegelisahan tentang kehidupan khususnya pada tradisi tanam padi yang sesungguhnya lekat pada budaya Lamaholot atau budaya yang ada di Flores Timur. 


Ada banyak hal yang membuat generasi hari ini kian meninggalkan budaya bertani yang memiliki nilai akar budaya yang lekat pada tradisi mereka . Adapun beberapa yang menjadi alasannya karena kehidupan hampir tidak memberikan pilihan bagi manusia hari ini untuk bisa percaya atas apa yang ia tanam keyakinan ini goyah karena memang kenyataan hari ini seolah-olah tidak memberikan pilihan . 


Dalam naskah yang Ano sendiri tulis disebutkan : 


Aku saksi ketika tanah kami dijual untuk hotel,

Ketika lero wulan diganti dengan beras plastik dari kota,

Ketika anak-anak muda pergi ke Malaysia,

Meninggalkan sawah yang kering kerontang.


Teks ini menunjukkan betapa kemanusiaan kian tergeser oleh kenyataan hidup dan pilihan pilihan yang sulit . Pada titik ini apakah kita akan menyerah pada kenyataan hidup , menghadapi beras Plastik Dan Sawah Yang kering . Seolah-olah akhirnya kita menyerah jika bumi yang kita diami makin panas jika kemajuan kota sesungguhnya adalah fatamorgana. 


Sebagai penonton saya terus merenungi pertunjukkan Monolog yang membuat kita pulang ke rumah dengan membawa makna tentang apa yang kita makan apa yang kita tanam dan kenyataan kenyataan lain yang tak mungkin kita elakkan. 



Apakah hidup yang ideal itu masih mungkin bagi kita yang mencintai bumi dengan segala keindahannya yang pernah dijaga oleh leluhur dan pelan pelan rusak oleh tangan tangan manusia yang rakus akan dunia yang sementara.