Advertisement
Oleh: Zackir L Makmur*
10 Februari, dua puluh tujuh tahun lalu, Yusuf Bilyarta Mangunwijaya wafat di Jakarta. Sastrawan dan filsuf, menempatkan sastra pada posisi yang tidak nyaman bagi tatanan sosial yang mapan. Dalam pandangannya, sastra bukan hiburan yang menenangkan, apalagi ornamen kebudayaan yang dipajang untuk memperindah etalase bangsa.
Lewat sejumlah novel-novelnya, sastra justru hadir sebagai gangguan yang halus namun konsisten, mengusik keyakinan bahwa keteraturan sosial, pembangunan, dan pertumbuhan ekonomi selalu berjalan seiring dengan keadilan. Di banyak karyanya pula, kemapanan tampil bukan sebagai puncak keberhasilan, melainkan sebagai tanda bahwa ada pengorbanan manusia yang sengaja dilupakan.
Romo Mangun hampir tidak pernah menaruh minat pada tokoh-tokoh besar yang berdiri di pusat kekuasaan. Ia memilih manusia-manusia pinggiran sebagai subjek utama ceritanya—mereka yang hidup di sela-sela sejarah resmi. Dalam “Burung-Burung Manyar (1981)”, revolusi kemerdekaan tidak diperlakukan sebagai kisah heroik yang selesai, melainkan sebagai ruang abu-abu tempat idealisme perlahan bernegosiasi dengan kepentingan dan kenyamanan baru. Sejarah, dalam novel ini, tidak dimenangkan oleh suara yang paling keras, melainkan sering dikhianati oleh mereka yang terlalu cepat merasa mapan.
Nada yang sama, namun dengan skala yang lebih intim, hadir dalam “Balada Becak (1985)”. Di sini, Romo Mangun menyingkir dari narasi besar dan menetap pada kehidupan sehari-hari seorang pengayuh becak. Kehidupan pinggiran kota digambarkan tanpa romantisasi, tetapi juga tanpa penghinaan.
Justru dari kesederhanaan itulah muncul kritik sosial yang paling senyap namun tajam: bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh status, jabatan, atau akses terhadap kemajuan, melainkan oleh cara seseorang bertahan dan berelasi di tengah keterbatasan.
Kritik terhadap struktur sosial yang menekan individu juga tampak dalam karya-karya lain seperti “Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa (1983)”dan “Durga Umayi (1985).” Dalam novel-novel ini, kekuasaan tidak selalu tampil sebagai kekerasan terbuka, melainkan sebagai jaringan norma, ambisi, dan kepentingan yang mengendalikan tubuh dan pilihan hidup manusia.
Dalam konteks Indonesia hari ini, karya-karya Romo Mangun terasa seperti gema yang belum selesai. Ketika pembangunan dirayakan dengan bahasa keberhasilan, sementara kisah-kisah manusia yang tersisih kian menjauh dari pusat perhatian, sastra Romo Mangun mengingatkan bahwa kebudayaan bukan sekadar soal citra kemajuan.
Ia adalah soal keberanian untuk menoleh ke pinggir dan mendengar suara yang nyaris tak terdengar. Dengan bahasa yang tenang dan sikap yang bersahaja, Romo Mangun meninggalkan warisan penting: bahwa bangsa yang benar-benar bergerak maju, adalah bangsa yang tidak takut terus-menerus mengganggu rasa puasnya sendiri.
Kritik Terhadap Elite
“Burung-Burung Manyar”, dapat dibaca sebagai pintu masuk untuk memahami visi Y.B. Mangunwijaya dalam melancarkan kritik sosial melalui sastra. Bagi Romo Mangun, sastra bukan sekadar cermin realitas, melainkan cara untuk menggugat cara berpikir yang terlalu cepat merasa selesai.
Novel ini tidak menempatkan kemerdekaan sebagai klimaks sejarah yang membebaskan segalanya, melainkan sebagai awal dari persoalan baru yang menuntut kepekaan sosial yang lebih dalam. Tokoh-tokoh dalam novel ini bergerak di wilayah abu-abu: antara idealisme dan kompromi –sebuah ruang yang sengaja dipilih Romo Mangun untuk menunjukkan bagaimana kekuasaan bekerja secara perlahan.
Melalui kisah revolusi yang tidak dirayakan secara heroik, Romo Mangun membaca sejarah sebagai proses yang rawan dikhianati oleh mentalitas lama yang hanya berganti wajah. Penjajah boleh pergi, tetapi cara berpikir feodal—yang memusatkan kuasa dan meminggirkan rakyat— dapat terus hidup dalam struktur sosial baru. Di sini sastra, dalam pandangannya, berfungsi untuk membuka kembali lapisan-lapisan ini agar tidak tertutup oleh euforia perubahan.
Kritik sosial semacam ini membuat “Burung-Burung Manyar” terasa dekat dengan realitas Indonesia hari ini. Elite politik dan ekonomi sering lahir dari narasi perubahan, namun perlahan membangun jarak sosial yang semakin lebar dengan masyarakat luas.
Bahasa kemajuan terus diproduksi, sementara pengalaman ketimpangan tetap menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Dalam konteks ini, novel Romo Mangun bekerja sebagai pengingat yang sunyi, bukan sebagai tudingan yang gaduh.
Dengan menolak romantisasi sejarah, Romo Mangun menegaskan bahwa bahaya terbesar sebuah bangsa bukan hanya ancaman dari luar, melainkan sikap puas diri elite internal yang merasa telah menuntaskan tugas sejarahnya. Visi kritik sosialnya mengajak pembaca untuk terus menaruh kecurigaan pada kemapanan, dan menjaga kegelisahan sebagai bagian dari kebudayaan. Sastra, bagi Romo Mangun, adalah ruang untuk mempertahankan kepekaan itu—agar bangsa tidak terlelap dalam cerita indah tentang dirinya sendiri.
Kritik dari Kehidupan yang Diremehkan
Jika “Burung-Burung Manyar” menyingkap wajah elite dari dekat, “Balada Becak” justru memilih berjalan perlahan dari bawah, mengikuti langkah kecil manusia yang nyaris tak diperhitungkan.
Romo Mangun memusatkan kisah seorang pengayuh becak, yang hidup di antara keterbatasan ekonomi dan ruang sosial yang sempit. Namun dari kehidupan yang serba kurang itulah tumbuh keteguhan, seolah kemanusiaan menemukan tempatnya justru ketika segala sesuatu tidak berlebihan.
Tokoh Yusuf dalam cerita ini tidak dihadirkan sebagai simbol kepahlawanan, melainkan sebagai manusia biasa yang bertahan melalui relasi. Dalam keseharian yang tampak sederhana, Romo Mangun memperlihatkan bahwa nilai hidup tidak selalu lahir dari pencapaian besar, melainkan dari kesediaan untuk saling menopang.
Kehidupan pinggiran yang sering diremehkan oleh banyak orang, justru menyimpan keutuhan yang kerap hilang dalam dunia yang terlalu sibuk mengejar status. Dengan cara yang nyaris tak terasa, Romo Mangun membalik hierarki sosial.
Mereka yang berada di pinggiran digambarkan memiliki hubungan yang lebih jujur, lebih dekat, dan lebih manusiawi dibandingkan kelompok mapan yang hidup dalam jarak dan sekat. Kritik sosialnya tidak diarahkan melalui tudingan keras, melainkan melalui perbandingan sunyi antara kehidupan yang hangat dan kemapanan yang dingin.
Dalam konteks Indonesia urban hari ini, “Balada Becak” terasa seperti bisikan yang terus berulang. Kelas pekerja informal masih sering diperlakukan sebagai gangguan tata kota, bukan sebagai bagian sah dari kehidupan perkotaan. Novel ini mempertanyakan logika pembangunan yang mengorbankan ruang hidup kaum kecil demi kerapian visual dan efisiensi administratif, seolah manusia harus menyesuaikan diri pada kota, bukan sebaliknya.
“Balada Becak” menegaskan bahwa kehidupan sederhana bukanlah kekurangan yang harus segera diperbaiki. Ia adalah pilihan etis, cara bertahan yang menyimpan martabat. Di tengah dunia yang kian eksklusif dan terukur oleh angka, Romo Mangun mengingatkan bahwa kemanusiaan sering justru berdiam di tempat yang paling mudah kita abaikan —di pinggir jalan.
Refleksi yang Semakin matang
jika kita menelusuri kronologi kepengarangan Y.B. Mangunwijaya, tampak bahwa gagasan sosialnya berkembang bukan sebagai letupan emosional sesaat, melainkan sebagai arus refleksi yang semakin matang dari waktu ke waktu. Pada fase awal 1980-an, melalui karya seperti Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa (1983), ia mulai memperlihatkan ketertarikannya pada relasi kuasa dalam ruang sosial yang konkret.
Novel-novel itu, dalam garis besarnya, menurut saya, menyoroti ketimpangan dan manipulasi dalam relasi antar manusia, terutama ketika kekuasaan bekerja secara terselubung melalui simbol, struktur sosial, dan legitimasi moral. Kritiknya belum sepenuhnya eksplisit, tetapi sudah mengandung kepekaan terhadap bagaimana yang kuat memanfaatkan yang lemah dalam sistem yang tampak wajar.
Sementara itu, trilogi Rara Mendut (1983), Genduk Duku (1985), dan Lusi Lindri (1987) menandai perluasan cakrawala kritiknya ke ranah sejarah dan tradisi. Di sini, Romo Mangun tidak sekadar menulis ulang kisah masa lalu, tetapi membacanya ulang dengan kacamata kritis terhadap feodalisme dan struktur patriarkal.
Ia menunjukkan bahwa sejarah resmi sering dibangun dari sudut pandang penguasa, sementara suara perempuan dan rakyat kecil tenggelam sebagai catatan kaki. Dalam fase ini, gagasan sosialnya semakin jelas: kebudayaan yang dibanggakan dapat sekaligus menjadi instrumen penindasan ketika tidak dikoreksi oleh nurani kemanusiaan.
Memasuki awal 1990-an, kritik tersebut menjadi lebih berani dan kompleks. Durga Umayi (1991) menghadirkan pembacaan tajam terhadap tubuh perempuan sebagai medan pertempuran ideologi, moralitas, dan kekuasaan modern. Romo Mangun seolah menyatakan bahwa modernitas tidak otomatis membebaskan; ia hanya mengganti wajah dominasi dengan bahasa yang lebih halus.
Dalam novel ini, gagasan sosialnya mencapai kedalaman filosofis: kekuasaan bekerja bukan hanya melalui struktur politik, tetapi melalui cara masyarakat memandang, menghakimi, dan mengendalikan tubuh serta identitas.
Puncak refleksi atas mobilitas sosial dan keterasingan tampak dalam Burung-Burung Rantau (1992). Jika sebelumnya ia menyoroti relasi kuasa dalam konteks lokal dan historis, kini ia bergerak ke persoalan diaspora, identitas, dan jarak antara pusat dan pinggiran.
Karya ini memperlihatkan kegelisahan terhadap manusia modern yang tercerabut dari akar sosialnya. Kritik sosialnya bergeser dari semata ketimpangan struktural menuju krisis makna: ketika manusia mengejar mobilitas dan kemapanan, ada yang hilang dari relasi, solidaritas, dan rasa memiliki.
Dengan demikian, kronologi kepengarangan Romo Mangun memperlihatkan perkembangan yang organik: dari kritik terhadap ketimpangan konkret, menuju pembongkaran struktur sejarah dan budaya, lalu memasuki wilayah tubuh, identitas, dan krisis modernitas.
Benang merahnya tetap sama —pembelaan terhadap martabat manusia yang terpinggirkan— namun kedalaman refleksinya semakin luas dan filosofis. Ia tidak berhenti pada kritik sosial sebagai protes, tetapi mengolahnya menjadi kesadaran kebudayaan: bahwa setiap zaman memerlukan keberanian untuk meninjau ulang kemapanannya sendiri.
Relevansi bagi Indonesia Hari Ini
Indonesia hari ini berjalan dengan langkah yang terdengar mantap: jalan tol membelah daratan, gedung-gedung menjulang, angka pertumbuhan diumumkan dengan optimisme. Namun di sela-sela itu, ada suara yang lebih lirih —suara warga yang tercerabut dari ruang hidupnya, yang menyaksikan perubahan tanpa sungguh-sungguh menjadi bagian darinya.
Dalam suasana seperti inilah karya-karya Y.B. Mangunwijaya terasa bukan sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai arsip kegelisahan yang belum selesai dibaca. Ia pernah menulis tentang mereka yang kalah oleh arus sejarah; dan hari ini, arus itu tampak semakin deras.
Romo Mangun “memberitahukan” bahwa kemapanan adalah godaan paling halus dalam perjalanan sebuah bangsa. Ketika pembangunan dipahami semata sebagai deretan capaian fisik, ketika keberhasilan diukur dari statistik tanpa menyimak cerita-cerita kecil di bawahnya, maka yang hilang bukan hanya empati, melainkan kepekaan kebudayaan.
Maka kritik sosialnya tidak lahir dari kemarahan yang meledak, melainkan dari kesadaran bahwa setiap kemajuan mengandung risiko melupakan. Ia mengingatkan bahwa kondisi paling berbahaya bukanlah krisis terbuka, tetapi rasa puas yang membuat kita berhenti bertanya.
Kemudian yang ditawarkan Romo Mangun bukanlah resep teknokratis, atau program kebijakan. Justru ia menawarkan cara memandang: melihat Indonesia dari sudut mereka yang paling mudah disisihkan.
Dalam “Balada Becak”, dalam “Burung-Burung Manyar”, dalam kisah-kisah tentang perempuan dan rakyat kecil, ia menempatkan yang pinggiran sebagai pusat refleksi. Ia seakan berkata bahwa ukuran kesehatan sebuah bangsa bukan pada seberapa tinggi gedungnya, tetapi pada seberapa dalam ia menghormati martabat manusia yang tak terlihat oleh sorotan kamera.
Di tengah kehidupan yang kian transaksional dan pragmatis, ketika segala sesuatu cenderung dihitung dalam nilai tukar, sastra Romo Mangun mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apa arti menjadi bangsa jika kita kehilangan rasa kebersamaan?
Modernitas memang mempercepat gerak, tetapi ia juga berpotensi memperlebar jarak —antara pusat dan pinggiran, antara elite dan warga biasa, antara kebijakan dan pengalaman hidup. Karya-karyanya berdiri seperti cermin yang tidak selalu menyenangkan, memantulkan wajah kita yang mungkin terlalu cepat merasa berhasil.
Maka relevansi kritik sosial Romo Mangun hari ini bukan sekadar pada isi pesannya, melainkan pada keberanian sikapnya. Ia mengajarkan bahwa kebudayaan yang sehat, adalah kebudayaan yang berani mengganggu kenyamanannya sendiri.
Bahwa bangsa yang matang bukanlah bangsa yang menolak kritik, melainkan yang menjadikannya bagian dari proses tumbuh. Di tengah riuh klaim kemajuan, suara lirih itu tetap perlu dijaga —agar Indonesia tidak hanya menjadi besar secara fisik, tetapi juga dewasa dalam nurani sosialnya.***
* Zackir L Makmur, pemerhati masalah sosial kemasyarakatan, Anggota Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL), aktif di IKAL Strategic Center (ISC), dan penulis buku Manusia Dibedakan Demi Politik (2020).


.jpg)


