Advertisement
Oleh: Dwiki Rikus*
Pengantar untuk album Nothing Blooms at Midnight oleh Lucien Sunmoon
Melihat anak kecil bekerja, merupakan term yang kurasa cocok untuk menjadi bold statement perihal album ini, Nothing Blooms at Midnight, sebuah debut panjang yang solid berisi 10 track tanpa dominasi, tanpa kompulsi. Begitu juga mereka, Lucien Sunmoon, mengamini tak adanya karakter yang terbentuk, belum, belum, album ini adalah tonggak deklarasi bahwa sebuah band telah memenuhi eksistensinya jika telah merilis sebuah album, and here it is.
Uniknya melihat para musisi di sekitar atau dalam radar skala nasional dengan basis pendengar yang tak mencapai puluhan atau ratusan ribu, so statistically even though art isn’t about that, kerap kali hadir dalam bentuk-bentuk yang pakem, pasti, atau sekalipun lain benar-benar berbeda dan unik. Namun tidak untuk mereka (Lucien Sunmoon) yang rasa-rasanya di sekitar menjadi anak kecil, meski sekarang tak lagi dibilang anak kecil, beranjak dewasa, dengan polemik yang mulai datang silih berganti, yeah you know adulthood, lahir pada ketidakpastian, tak jelas, mengambang.
Ada satu urgensi yang terbentuk pada debut album ini, setelah berjalan beberapa tahun, dari usia SMA hingga kini telah memasuki usia perkuliahan, mungkin konsep dan materi yang terbentuk masihlah berupa objek dalam jarak pandang kabut, namun satu yang bisa dipastikan, album ini adalah pendewasaan, tersirat maupun tersurat.
Tak ada pendewasaan yang spesial sejujurnya, namun bukankah pendewasaan memang begitu? Mulai terbiasa mendapati hal-hal yang tak terduga dan belajar bagaimana dunia bekerja, mereka berenam tumbuh dari persoalan yang berbeda, dengan resolusi yang berbeda pula, somehow bersama dalam tekanan paksaan, cinta, tempat pulang, hingga tujuan. Mereka melewatkan satu fase di mana bermusik, berkesenian, menjadi proses untuk bersenang-senang, bermain, dan melewati hari dengan ringan. Mungkin di luar sana, atau hanya asumsiku saja, banyak perihal obrolan tentang proses dan fase yang terlalu cepat, terburu-buru barangkali, namun tak mengapa, tak semua orang memiliki proses yang sama, fase yang sama, dan dalam konteks ini, mereka beruntung berada dalam lingkup dan lingkungan yang sangat mendukung produktivitas, tak semua mendapat kesempatan itu, dan album ini adalah bentuk syukur untuk tak melewatkan kesempatan yang datang pada waktu-waktu ini.
Pendewasaan dan agenda pada project ini adalah bentuk upaya setiap kontributor, yang terlibat, dalam memutus, memecah, stigma hingga kebiasaan, repetitif, untuk mencapai eksistensi yang berdiri sendiri dan membentuk imej yaitu sebagai Lucien Sunmoon, bukan yang lain. Tentang sebuah grup yang terisi dari 6 muda-mudi dengan isi kepala variatif dan energi meledak-ledak yang sangat jarang sekali kudapati surut hingga tandas.
Bisa dikatakan project ini, dariku, adalah sebuah bentuk impulsivitas yang tersalurkan, yang tak hanya berkedok wacana dan mengendap menjadi draft. Tentu hal ini tak hanya berhasil olehku saja, begitu juga dorongan yang lain, sebuah bentuk dukungan dan tuntutan yang nyata dengan beberapa tekanan di sana-sini yang akhirnya membentuk identitas visual Nothing Blooms at Midnight. Apa aku merasa bangga? Barangkali. Jarang sekali aku mengeluarkan effort berlebih untuk sesuatu, dan pada kali ini pun juga tak sepenuhnya, namun aku begitu mengingat sebuah pernyataan yang tersebar di dunia kreatif, “bahwa sesungguhnya project yang baik adalah project yang selesai dan tuntas,” something.
Apakah aku perlu berterima kasih? Oh ya mungkin barangkali. Terima kasih kepada siapapun yang berkontribusi, bekerja sama, berkolaborasi dalam project ini, pun mungkin Lucien Sunmoon juga sangat berterima kasih kepadaku ya aku juga berterima kasih mari kita berterima kasih kepada sesama. Selayaknya manusia.
Apakah aku perlu berpesan? Sepertinya tidak, aku sangat tidak menyukai menggurui, metuek, atau apapun itu. Pun aku yakin siapapun yang membaca ini telah cukup dewasa untuk sekedar menangkap pesan yang tersirat dan mengungkap makna dari setiap materi yang tersajikan. Tak ada pertanggung jawaban yang signifikan dalam merespon, merdekalah sebagaimana seni bersifat merdeka dan manusia senantiasa mengupayakannya setiap waktu.
*Dwiki Rikus adalah storyteller dan documenter di Batas Frekuensi, Malang.


.jpg)


