Advertisement
Oleh: Adhyra Irianto
Di sebuah channel YouTube dan tentunya ada banyak subscriber-nya, saya mendengar sebuah manifesto yang cukup menarik: "kita harus menolak logika mistika". Pernyataan itu disarikan dari bab pertama buku legendaris yang ditulis Tan Malaka, "Madilog".
Ketika didengar pertama kali, yah... terdengar sangat modern, progresif, dan rasional. Seakan-akan, selama ini kita hidup dari gelapnya takhayul, dan sekarang kita bisa keluar menuju alam yang terang benderang dengan nalar sebagai pondasinya. Tapi, sebagai seniman (terkhusus seniman teater) saya justru mengajak Anda para pembaca artikel ini untuk tidak buru-buru menggangguk dan mengamininya.
Saya akan mulai argumen saya dengan pertanyaan yang paling mendasar, "sebenarnya apa yang kita tolak (ketika menolak logika mistika)?
Seperti yang dilakukan para influencer terkenal yang menolak "logika mistika" ini, sebenarnya apa yang mereka tolak? Bukankah sebenarnya yang ditolak "hanya" manipulasi berlandas hal-hal mistik? Sedangkan logika mistika ini sebenarnya adalah struktur terdalam dari pengalaman manusia.
Dalam tulisan ini, saya tidak sedang membela klaim "supranatural". Karena logika mistika tentunya tidak hanya terbatas pada "klaim supranatural" saja. Tapi, juga menyentuh struktur simbolik dan imajinatif yang menopang eksistensi manusia. Maka logika mistika itu sesungguhnya tidak hanya hal yang klenik, tapi struktur simbolik-imajinatif.
Faktanya, manusia tidak hanya hidup dari fakta objektif saja. Mari kita urai pelan-pelan. Sejak era modern, sebagaimana Descartes mengatakan Cogito Ergo Sum, maka rasio menjadi pondasi kebenaran. Maka, kebenaran adalah hal yang bisa dipastikan secara rasional.
Tapi, apakah benar dalam sejarah pemikiran, rasio itu berdiri sendirian? Faktanya, tidak. Manusia juga hidup dari tafsirannya pada kehidupan. Hidup dari pemaknaannya pada situasi sekelilingnya. Juga hidup dari harapan-harapannya.
Mari kita ambil satu contoh jurnal dunia kedokteran. Dalam jurnal berjudul "Prognostication in Patient with Terminal Stage of Cancer” yang ditulis oleh Maria A Witjaksono (diterbitkan di InaJCC: Indonesian Journal of Cancer Control) disebutkan bahwa CPS (Clinical Prediction of Survival) atau perkiraan waktu bertahan hidup pasien berdasarkan penilaian klinis dokter ternyata 45% lebih optimistis daripada realitasnya.
Misalnya, setelah dihitung pasien ternyata hanya mampu bertahan dalam 2 bulan ke depan. Tapi, justru dokter menyebut pasien akan bertahan 3 bulan lebih. Itu artinya, dokter memprediksi 45% lebih lama daripada temuannya sendiri. Dari fakta itu, 2 bulannya adalah realitas, dan 1 bulan lebihnya adalah "harapan".
Masih di artikel yang sama, disebutkan juga bahwa dokter cenderung menghindari penjelasan tentang kematian. Meski dokter sudah tahu lewat analisisnya bahwa satu pasien tertentu mungkin tidak bisa bertahan dalam satu minggu ke depan, tapi justru cenderung untuk tidak menyebutkannya baik pada pasien maupun keluarganya. Agar apa? Ya... Agar pasien tersebut masih punya harapan untuk memperjuangkan hidupnya.
Seorang yang menderita penyakit kanker stadium akhir, ketika di tangan medis diprediksi sudah tidak punya harapan. Satu-satunya alasan ia tetap bertahan hingga akhirnya sembuh adalah harapannya. Dan, harapan itu justru menjadi faktor psikologis yang mempengaruhi daya tahan tubuhnya.
Dunia medis menyebutnya keajaiban, dan keajaiban bermula dari sebuah harapan. Baik keajaiban maupun harapan itu, tentu tidak rasional. Kata-kata seperti "mari terus berjuang sampai akhir", "mari sama-sama memberikan yang terbaik", menjadikan pasien tidak berhenti berharap untuk terus ingin sembuh.
Alasan utamanya adalah, karena harapan itu adalah pertahanan terakhir yang harus tetap dipertahankan.
Dan harapan itu tidak pernah sepenuhnya rasional. Dalam hal ini, harapan itu adalah konstruksi imajiner manusia. Mistika, juga adalah konstruksi imajiner manusia. Keajaiban dan harapan, keduanya juga "logika mistika". Jadi, sebelum kita menolak Logika Mistika ini, mari kita coba definisikan ulang apa itu "logika mistika".
Mendefinisikan Ulang "Logika Mistika"
Kenapa kita harus berbuat baik, karena kita percaya akan ada balasan bagi kebaikan tersebut. Apa ada yang bisa memastikan kita akan mendapatkan "balasan" kebaikan karena kebaikan kita secara rasional? Tidak.
Mistika itu adalah konstruksi imajiner manusia. Konstruksi imajiner inilah yang justru menopang eksistensialitas manusia, sehingga spesies manusia masih bisa bertahan hingga hari ini.
Seseorang yang terlahir miskin, secara statistik akan sulit keluar dari lingkaran kemiskinan. Tapi, ia akan terus bekerja keras, berani menikahi seorang untuk melanjutkan keturunan, dan berani mencoba mewujudkan cita-citanya. Apa yang menjadi pondasinya? Ia berharap pada masa depan yang lebih baik.
Apakah itu logika yang rasional? Tidak sepenuhnya.
Seorang ibu dan bapak, meski hidup dalam kesulitan dan tidak cukup, ketika memiliki seorang anak, ia terus berusaha membesarkannya, memberikan pendidikan terbaik, melindunginya menjalani masa muda, kenapa? Karena mereka berharap anaknya menjadi "sesuatu".
Apakah berharap anaknya menjadi "sesuatu" meski realitas sosial tidak mendukung itu adalah logika rasional? Tidak sepenuhnya.
Seorang aktivis tetap berjuang untuk perubahan, walaupun di Indonesia sejarah mencatat kegagalan revolusi yang berulang. Tapi, kenapa aktivis ini tetap berjuang untuk perubahan? Karena mereka yakin akan ada sesuatu yang "indah" ketika perubahan itu berhasil dicapai.
Apakah itu adalah logika yang rasional? Tidak sepenuhnya.
Mungkin benar bahwa secara rasional, hal-hal yang tidak rasional di atas itu tidak perlu dipertahankan karena tidak efisien. Tapi, secara eksistensial, itu justru sangat perlu dilakukan.
Karena manusia tidak bisa hidup sepenuhnya dalam data. Justru, manusia hidup dalam narasi, baik yang dibangun dalam sebuah sistem, maupun yang ia bangun dalam dirinya sendiri.
Apa yang membuat orang Melayu di Sumatera merasa bersaudara dengan orang Papua, dan di sisi lain merasa tidak "bersaudara dekat" dengan orang Melayu Malaysia? Yah, narasi tentang "Indonesia", bukan?
Narasi ini juga selalu melibatkan proyeksi, makna, dan simbol. Itu juga wilayah yang bisa kita sebut sebagai logika mistika. Mistika, dalam perspektif saya, adalah "ruang imajinatif" yang bisa menjadikan manusia tetap bertahan dengan harapannya.
Perubahan, surga, harapan, revolusi, masa depan, Indonesia Emas, keyakinan bahwa hidup ini bermakna, anugerah, pembagian rezeki, roda hidup, dan sebagainya. Itu semua tidak sepenuhnya bisa dipastikan secara rasional, dan bicara probabilitas itu juga cenderung mistika. Tapi, apakah manusia benar-benar tidak memerlukan semua itu?
Bayangkan, bila manusia menolak logika mistika, lalu mereka menolak surga, harapan, revolusi, masa depan, makna kehidupan, roda kehidupan, dan sebagainya. Apakah yang terjadi? Apakah benar-benar menjadi manusia yang logis itu bisa menjaga eksistensi manusia di atas bumi?
Rasionalitas Justru adalah "Kekeringan Era Modern"
Menggunakan rasionalitas, adalah semangat era modern. Dari era Descartes, hingga hari ini. Hidup dimaknai sebagai sebuah sistem sebab akibat, yang bisa dibaca polanya seperti sebuah mesin.
Tapi, ternyata manusia bisa mengalami cinta, kehilangan, kegagalan, takut menghadapi kematian, absurditas hidup, dan sebagainya. Semuanya menjaga eksistensi manusia di atas bumi. Tapi, apakah hal-hal tersebut bisa direduksi menjadi data statistik?
Hasilnya, apabila logika mistika itu benar-benar ditolak keseluruhannya, maka kehidupan kehilangan ruang tertentu yang menjadi bahan bakar bagi kehidupan.
Jadi, menurut saya, apa yang harus kita tolak bukanlah logika mistika. Tapi, kita harus menolak ketika mistika disalahgunakan seperti untuk menjadi alat kampanye, alat kuasa, legitimasi untuk melakukan kekerasan, dan sebagainya.
Tapi itu tidak hanya terjadi pada "mistika", tapi juga terjadi pada rasionalitas. Rasionalitas yang jadi standar kebenaran juga akan menjadi dogma. Apakah benar rasionalitas tanpa "mistika" itu akan menjadi alat pembebasan? Sepertinya tidak. Malah, cenderung menjadi alat penghakiman.
Klaim absolut itu yang kita tolak. Baik itu pakai embel-embel iman, budaya, maupun nalar. Baik itu mistika maupun rasionalitas. Klaim absolut tidak bisa dibenarkan.
Logika Mistika Adalah yang Membentuk Kita Hari Ini
Logika mistika, menurut saya, adalah hal yang membentuk kita hari ini. Kita hidup di antara simbol-simbol, lalu menafsirkan simbol-simbol itu dengan metafora. Kita juga tetap hidup karena memiliki harapan.
Keyakinan bahwa "masa depan yang lebih baik dengan menolak logika mistika" juga adalah sebuah konstruksi imajiner, bukan? Yah, di situ paradoksnya. Ketika kita yakin hidup kita akan lebih baik dengan menolak logika mistika, maka sebenarnya itu pun sebuah harapan. Harapan adalah energi dari logika mistika.
Hal yang perlu kita tolak adalah manipulasi dan dogma berdasar sebuah "klaim absolut". Bukan "logika mistika".
Karena hidup itu bukan terdiri dari kepastian-kepastian, tapi kemungkinan-kemungkinan. Dan apa yang membuat kita yakin bahwa kemungkinan yang lebih baik akan kita dapatkan di hari depan? Yah, itu adalah harapan.
Jika kita benar-benar hidup hanya dari kepastian, maka manusia tidak akan pernah berani jatuh cinta, berani punya anak, atau berani bermimpi.
Sekali lagi teman, kemungkinan-kemungkinan adalah wilayah yang tidak bisa sepenuhnya dipastikan. Satu-satunya yang memberikan kita semangat untuk menjalani hidup apapun kemungkinan yang terjadi, adalah harapan. Dan harapan itu, sekali lagi, adalah energi dari logika mistika.
Tentunya, artikel ini tidak berhenti di sini. Saya akan mencoba menyusun tesis saya bahwa seni adalah "laboratorium mistika" dalam artikel berikutnya.





