Advertisement
Sintesis Eksistensialisme Barat dan Kearifan Jawa dalam Ruang Urban Paris
Oleh: Harwi Mardianto*)
Proposisi ini untuk mengantarkan kegiatan bertajuk Lecture Dramatique (pembacaan dramatik) berjudul Du Hérisson, yang diadaptasi dari novel Prancis terkenal L’Élégance du Hérisson karya Muriel Barbery. Adaptasi naskah dilakukan oleh Unon Saraswati Hananingtyas dengan penyesuaian pada konteks budaya Indonesia, dan disutradarai oleh Mardiyanto Harwi. Acara ini melibatkan sejumlah pembaca/pemeran, antara lain Nanang Arisona, Apris Eka Prasetiyo, M. Saputra Hadiarsa, Mahamuni Paksi, Axel Ega Nathania, M. Alif Muzaki, M. Ibnu Shohib, Rolla Liza Rahmadano, Alfis Fadhlika Rizqi, Naufal Hakiim, dan Nathasa Veronica.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Semaine de la Francophonie 2026, yang diselenggarakan oleh Institut Français Indonesia. Acara akan berlangsung pada Jumat, 24 April 2026, pukul 18.30, bertempat di Auditorium Institut Français d’Indonésie (IFI) Surabaya, Kompleks AJBS, Jalan Ratna No. 14 Blok C2, Ngagel, Surabaya. Acara ini menampilkan pertemuan sastra dan teater dalam semangat perayaan bahasa serta kebudayaan Frankofoni.
Sinopsis:
Di sebuah apartemen borjuis di Jalan Grenelle Nomer Tujuh, Paris, hiduplah Renée Michel, seorang wanita yang menjalani eksistensi dalam dualitas yang tajam. Secara lahiriah, ia adalah potret penjaga gedung yang kusam dan tak kasat mata, memenuhi stereotip kelas pekerja yang kasar untuk memuaskan prasangka penghuni kaya.
Namun di balik dinding apartemen yang pengap, Renée adalah seorang pemikir ulung yang menyelami kedalaman fenomenologi Edmund Husserl dan kritik dialektika Karl Marx.
Di apartemen yang sama, Paloma Josse, seorang jenius berusia 12 tahun, terperangkap dalam nihilisme eksistensial. Memandang hidup sebagai "akuarium ikan mas" yang absurd dan tanpa makna. Paloma merencanakan kematian sebagai satu-satunya tindakan yang jujur. Bagi Paloma, intelektualitas Barat yang ia serap justru membawanya pada kesimpulan bahwa dunia hanyalah panggung sandiwara.
Kehadiran Ki Yagami di apartemen itu membawa hembusan angin dari Timur. Sebagai pengusaha asal Jawa yang sarat akan kearifan batin, Ki Yagami tidak hanya melihat dunia melalui kacamata logika, tetapi melalui "Rasa". Ia menjadi katalisator yang menjembatani pikiran tajam Renée dengan konsep "Sareh" (ketenangan) dan "Andhap Asor" (kerendahhatian).
Jika filsafat Barat yang dianut Renée adalah alat untuk membedah ketidakadilan dunia, maka filosofi Jawa yang dibawa Ki Yagami adalah sarana untuk berdamai dan memperindahnya (Memayu Hayuning Bawana). Ki Yagami mengajarkan bahwa hidup tidak harus disembunyikan untuk menjadi murni. Diperkenalkannya prinsip "Urip Iku Urup", bahwa hidup sejati adalah hidup yang menyala dan memberi manfaat bagi sesama.
Kematian Renée bukanlah sebuah noktah hitam yang nihilistik. Dalam perspektif Jawa, kematian saat menolong sesama adalah puncak dari pengabdian batin.
Kepergian Renée menjadi transformasi filosofis. Paloma meninggalkan logika kematian dan memilih untuk hidup demi "momen-momen keabadian". Barat dan Timur melebur dalam sebuah pernyataan bahwa keanggunan jiwa melampaui segala batas kelas dan maut.
Naskah Teater "Landak-du Hérisson", sebuah adaptasi berani oleh Unon Saraswati Hananingtyas dari novel L’élégance du Hérisson karya Muriel Barbery, merupakan sebuah studi karakter yang kompleks tentang bagaimana manusia menegosiasikan identitasnya di hadapan tembok kelas sosial yang kaku. Dengan memindahkan titik temu budaya dari Jepang ke Jawa (melalui karakter Ki Yagami), naskah ini tidak hanya melakukan lokalisasi, tetapi juga melakukan re-interpretasi filosofis terhadap makna keanggunan, penderitaan, dan penebusan.
1. Antara Marx dan Husserl
Renée Michel adalah manifestasi dari perlawanan intelektual yang pasif namun tajam. Sebagai seorang concierge (penjaga apartemen), ia terjebak dalam ekspektasi sosial kaum borjuis Paris yang menganggapnya sebagai "perabot gedung" yang tak berjiwa.
Secara detail, Renée menghidupkan dialektika kelas: ia menggunakan bau sup kubis dan kebisingan televisi sebagai "duri" pelindung--sebuah kamuflase sosiologis agar kecerdasannya tidak terdeteksi. Namun, di kamarnya, ia melakukan penyelaman fenomenologis terhadap karya Edmund Husserl dan kritik ekonomi Karl Marx. Dalam naskah ini, konflik batin Renée diperdalam dengan nuansa "Andhap Asor"--sebuah nilai Jawa tentang kerendahhatian--namun yang ia gunakan secara terdistorsi sebagai penjara bawah tanah untuk menyembunyikan "permata" batinnya karena ketakutan akan penghakiman dunia.
2. Paloma dan Nihilisme
Disisi lain, Paloma Josse mewakili kejenuhan intelektual pada usia yang sangat dini. Baginya, kehidupan orang dewasa di Jalan Grenelle adalah "akuarium ikan mas"--sebuah lingkaran repetitif yang dangkal, penuh kepura-puraan, dan tak memiliki esensi.
Jika Renée memilih bersembunyi, Paloma memilih untuk "keluar" melalui rencana bunuh diri. Ketajaman pikirannya membuatnya muak pada struktur sosial yang ia anggap sebagai sampah. Dalam naskah ini, Paloma digambarkan bukan sebagai anak kecil yang merajuk, melainkan sebagai seorang filsuf cilik yang sedang mencari "satu alasan mutlak" untuk membatalkan niatnya menghancurkan diri. Pertemuannya dengan Renée dan Ki Yagami mengubah pencarian nihilistiknya menjadi pencarian estetis.
3. Ki Yagami Harmoni Melalui "Rasa"
Transformasi karakter Kakuro Ozu menjadi Ki Yagami adalah kunci kekuatan adaptasi ini. Ki Yagami membawa konsep "Rasa" (intuisi spiritual dan emosional) yang lebih kental dibanding versi aslinya. Ia tidak hanya menggunakan logika untuk mengenali Renée, tetapi menggunakan "radar" batinnya. Ia mencium aroma cendana dan merasakan getaran gending dalam keheningan apartemen Renée. Ki Yagami menanamkan gagasan bahwa dunia ini sudah indah, dan tugas manusia adalah memperindah keindahan tersebut ("Memayu Hayuning Bawana"). Hal ini menjadi kontras tajam bagi cara pandang Barat yang sering kali ingin "menguasai" atau "menganalisis" keindahan.
4. Sinkretisme Bunyi dan Makna
Naskah ini sangat mendetail dalam penggunaan instruksi audio (SFX). Pertemuan antara Renée, Paloma, dan Ki Yagami dianalogikan sebagai sebuah "Gending".
Dalam karawitan Jawa, Gending adalah harmoni dari berbagai instrumen (bilah logam, kulit, kayu) yang memiliki karakter suara berbeda namun tunduk pada satu irama yang sama. Secara simbolis, naskah ini membenturkan (dan akhirnya menyatukan) struktur melodi Barat yang linear dengan struktur siklis gamelan. Ini mencerminkan hubungan antar karakter: Renée yang logis, Paloma yang skeptis, dan Ki Yagami yang melingkupi keduanya dengan kebijaksanaan.
5. Eskatologi Jawa
Klimaks naskah ini mencapai puncaknya pada kematian Renée. Dalam perspektif Barat, kematian ini bisa dianggap sebagai ironi tragis. Namun, adaptasi ini membingkainya dengan filosofi "Urip Iku Urup" (Hidup itu adalah nyala api yang memberi manfaat).
Renée meninggal saat mencoba menolong orang lain (seorang gelandangan), yang merupakan tindakan paling "terang" dalam hidupnya. Ia berhenti bersembunyi dan memilih untuk "menyala".
Bagi Paloma, kematian Renée menjadi pelajaran terakhir tentang keanggunan: bahwa keindahan sejati tetap ada meski wujud fisiknya lenyap. Paloma akhirnya memilih untuk hidup, bukan karena dunia telah berubah menjadi sempurna, tetapi karena ia telah belajar cara menemukan "keajaiban dalam keseharian" (momen-momen keabadian).
Resolusi
Secara keseluruhan, Naskah Teater "Landak-du Hérisson"Adaptasi novel L’élégance du Hérisson karya Muriel Barbery adalah sebuah esai dramatik tentang martabat manusia. Adaptasi ini berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai universal--seperti cinta, kesepian, dan pencarian makna--dapat diperkaya dengan sentuhan kearifan lokal Jawa.
Naskah ini menegaskan bahwa menjadi "Landak" bukan berarti membenci dunia, melainkan melindungi bagian paling berharga dari jiwa kita hingga kita menemukan orang yang cukup sabar dan cukup bijaksana untuk mengajak kita berdansa dalam harmoni. Melalui perpaduan Tolstoy dan Gending, naskah ini merayakan keanggunan yang melampaui sekat-sekat bahasa dan kelas sosial.
*****
*) Harwi Mardianto adalah sutradara pementasan teater "Landak-du Hérisson"Adaptasi novel L’élégance du Hérisson karya Muriel Barbery yang diproduksi oleh The Nine TheatreVision, sebuah komunitas teater asal Indonesia.
Unduh naskah Landak-du Herrison (versi bahasa Indonesia) di pranala ini (DOWNLOAD NASKAH LANDAK)





