Mengapa Dracin Laku? Tafsir dari Perspektif Teater -->
close
Pojok Seni
22 January 2026, 1/22/2026 03:04:00 AM WIB
Terbaru 2026-01-22T08:09:58Z
ArtikelBeritaUlasan

Mengapa Dracin Laku? Tafsir dari Perspektif Teater

Advertisement
Tafsir dari perspektif teater: Kenapa Dracin Laku?

Oleh: Adhyra Irianto


Ada seorang pemuda yang pura-pura miskin, tapi sebenarnya adalah pimpinan sebuah multigrup perusahaan raksasa, jatuh cinta pada seorang karyawan biasa atau mungkin bos wanita tapi tidak lebih kaya dari dia. Lalu, perempuan itu dihujat oleh mantannya yang sudah punya gandengan baru, juga pekerjaan yang cukup besar gajinya. Tentunya si pemuda "miskin" akan membela kekasihnya, bukan? Karena itu pemuda yang pura-pura miskin itu juga ikut kena hujat habis-habisan, bahkan tidak hanya hujatan verbal, tapi juga fisik.


Si pemuda miskin habis kesabaran, lalu mengangkat handphonenya. Cuma berkata, "datang kesini dalam 5 menit...," lalu deretan mobil mewah macam Rolls Royce berjejer menjemputnya. Orang nomor dua di perusahaan akan turun dan menempeleng lawan si pemuda miskin itu. Sampai akhirnya si antagonis dimiskinkan, lalu berlutut mohon maaf sambil menampar diri sendiri.


Familiar dengan jalan cerita di atas?


Ilustrasi Dracin

Tahukah Anda, saya ingin menulis artikel ini mungkin lebih dari setengah tahun lalu. Untuk riset, saya coba tonton satu mikrodrama ini versi lengkapnya, bukan di aplikasi, tapi di YouTube. Hasilnya...


Selama enam bulan terakhir saya tidak bisa mengatur jadwal lagi untuk menulis artikel ini, di sela-sela pekerjaan saya lainnya. Saya mulai mengikuti satu mikro-drama yang lain. Mulai dari orang yang terlahir kembali ke tiga sampai lima tahun yang lalu, seorang dari masa lalu yang hidup kembali di tubuh seorang anak yang teraniaya, seorang CEO yang pura-pura miskin untuk mengetes anaknya, mantan dewa perang, mantan mafia, dan sebagainya. Sialan. Saya justru terjebak. Tapi di sinilah, saya menemukan polanya.


Beberapa channel YouTube membahas tentang "dracin" ini dan jawaban yang diberikan sangat tidak memuaskan. Satu saluran Youtube terkenal dengan banyak subscriber membahas data kuantitatif tentang keuntungan, jumlah penonton, dan omzet dari industri mikrodrama di China. Lalu, kesimpulannya adalah, "kita jangan halu ingin hidup seperti di drama, bahwa realita kita ini... bla-bla-bla". Padahal judulnya adalah, "Drama Cina, Cringe tapi kok laku?" Seakan-akan mengarahkan kita untuk mendapatkan jawaban kenapa Dracin itu laku, di dalam kontennya. Ternyata, selain menghakimi penonton dan dracinnya, selain itu tidak ada jawaban esensial.


Beralih ke judul video lainnya, judulnya adalah Kenapa Drama China Booming? Nonton Tidak Perlu Kinerja Otak! Kuasai Penonton AS. Atau, judul yang cukup klik bait, seperti Harus Hati-Hati Dengan Drama China. Dan sebagainya...


Tentu, saya tidak setuju sama sekali dengan banyak media populer, kanal YouTube, dan sebagai yang yang menyebut Dracin adalah bentuk "pembodohan massal". Karena, yang terjadi adalah pembodohan massal sudah lebih dulu terjadi, baru lahir produk seperti Dracin. 


Intinya, media dan kanal Youtube yang membahas Dracin tersebut menceritakan bahwa Dracin mampu memberikan dopamin yang dibutuhkan otak untuk rileks. Dopamine ini muncul di otak ketika mendapatkan rasa wah, validasi, kejutan dan sebagainya, dan hal-hal menarik lainnya.


(Sebagai catatan: Dopamin dalam tulisan ini ditujukan untuk menggambarkan sistem algoritma untuk menciptakan kebiasaan menikmati emosi secara cepat, instan, dan berulang-ulang. Yah, sekedar untuk meluruskan bahwa saya tidak sedang membuat artikel tentang neurosains, tapi ini adalah tulisan analisis budaya seperti ciri khas tulisan Pojok Seni lainnya.)

.

Nah, di sini kata kuncinya. Dopamin itu sebenarnya sangat baik, berfungsi seperti tepuk tangan setelah kita susah payah latihan sebelum pentas. Dopamin itu datang ketika kita merasakan momentum "wow" pasca mendapatkan sesuatu. Namun, algoritma media sosial itu memberikan dopamin yang sangat cepat, terus berganti dalam waktu yang relatif singkat. Satu kali scroll, kita mendapatkan puluhan video yang memberikan dopamin yang dibutuhkan. Terlalu banyak dopamin untuk emosi "dangkal" dan instan ini


Karena "tepuk tangan" tersebut datang dalam waktu yang relatif singkat, meski tepuk tangan kecil, tapi terus menerus dan tidak terhenti. Maka kita (sebagai konsumen) akan bingung ketika sempat tidak ada tepuk tangan. Padahal, kita dulunya akan berjuang untuk belajar dan berlatih, dan semuanya dilakukan dalam keheningan. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada kepuasan dan hanya ada keheningan untuk menunggu tepuk tangan yang jauh lebih meriah. Tepuk tangan itu didapat pada kepuasan pasca pementasan, atau mungkin setelah mendapatkan prestasi, pencapaian tertentu, naik pangkat, dan membeli sesuatu yang cukup sulit didapat. Sekarang, dopamin itu tidak perlu harus melewati proses yang penuh keheningan itu.


Dracin dan Dopamin?




Jadi, masalah dopamine, brainrot, atau apapun yang disebut terkait dengan Dracin itu, sebenarnya sudah ada dan mengganggu "dunia" jauh sebelum para kreator Dracin itu muncul dengan produk mereka. Katakanlah dopamine rush itu adalah sebuah "rezim" dimana seseorang lebih mudah mendapatkan reward cepat, tinggal scroll, dan potongan-potongan dramatik cepat bisa didapatkan. Maka, Dracin bukanlah sesuatu yang menciptakan "rezim" tersebut. Tapi, dia adalah produk yang dilahirkan dari "rezim" ini.


TikTok, Instagram Reels, YouTube Short, dan sebagainya sudah terbiasa memberikan reward cepat berbentuk dopamine ini. Maka, publik dalam "rezim" ini adalah para konsumen yang sudah disetel sistem sarafnya untuk mendapatkan reward cepat hanya dengan scroll-scroll. Setiap scroll, bisa mendapatkan potongan dramatik yang dibutuhkan. Maka, tidak diperlukan lagi satu film berdurasi 2 jam, yang perlu menunggu dalam keheningan.


Media-media populer, lebih fokus pada apa yang ditonton (dalam konteks ini adalah dracin), ketimbang perubahan cara menonton. Coba lihat, Dracin menawarkan episode-episode yang sangat pendek (2 - 5 menit) namun menawarkan konflik instan dalam balutan emosi eksplisit sehingga terlalu mudah untuk dimaknai. Lebih dari itu, ciri lainnya adalah layarnya vertikal, dan hanya perlu satu jempol untuk pindah ke episode lainnya. Bukankah artinya Dracin ini hanya perpanjangan tangan dari Tiktok, Instagram, dan Youtube Short? 


Marshall McLuhan seorang kritikus sastra asal Kanada (1911 - 1980) menyebutkan bahwa "media adalah pesan, bukan pengantar pesan". Lewat kerangka pemikiran tersebut, bisa kita simpulkan bahwa pebedaan format Dracin dari drama konvensional bukan karena perubahan bentuk mediumnya (layar ponsel), tapi karena perubahan cara menonton. Perubahan ini menunjukkan bahwa bukan "media" tersebut ingin menyampaikan pesan atau makna tertentu, tapi "media" tersebut justru mengubah perlahan pengalaman kepenontonan seseorang.


Yah, tepatnya Dracin hanyalah adaptasi dari sebuah bentuk karya film yang disesuaikan dengan kebutuhan publik era "dopamin" ini. Tentunya, publik yang saat ini sistem sarafnya sudah disetel terlebih dulu lewat TikTok, Instagram, YouTube Short, dan sebagainya.


Kecerdasan Artifisial atau AI, misalnya semacam ChatGPT, Gemini, dan sebagainya, juga membantu seseorang untuk tidak lagi frustasi secara kognitif dalam mempelajari sesuatu. Tidak perlu lagi proses lambat seperti kuliah sampai S3, atau menghabiskan banyak buku untuk mengerti satu topik. Bayangkan, ada seseorang yang mengaku mengerti suatu topik hanya dengan bertanya dengan AI, dan melihat beberapa video di YouTube. Intinya, semua mendukung agar publik menjadi terbiasa mendapatkan reward instan, juga terbiasa dengan kecepatan, efisiensi, dan (lagi-lagi) semua serba instan. 


Era teknologi 4.0 yang serba cepat ini punya konsekuensi. Kecepatan adalah hal yang normal, seakan-akan sesuatu yang lambat dan butuh proses adalah hal yang tidak sesuai dengan semangat zaman. Itu menjawab kenapa seni seperti teater, tari, seni rupa, sastra, dan sebagainya juga tidak menarik minat generasi muda. Alasan terbesarnya adalah, "terlalu lambat". 


Bahkan mungkin, membaca artikel ini juga hal yang tidak menarik untuk dilakukan, karena "terlalu panjang" dan "membuang waktu"... Mungkin pembaca akan berteriak dalam hatinya, "kenapa dah panjang-panjang kali buat tulisanLangsung intinya aja gak sih? Kayak quote-quote itu..."


Generasi hari ini sudah terbiasa dengan kecepatan, sehingga tidak tertarik untuk proses latihan hingga berbulan-bulan, hanya untuk satu pertunjukan. Sebab, konten yang sering mereka lihat di Instagram misalnya, hanya perlu latihan beberapa jam saja.


Dracin dalam Perspektif Teater




Saya masih setia pada premis awal saya. Budaya dopamin sama sekali bukan dilahirkan oleh Dracin. Justru, Dracin adalah anak yang dilahirkan dari budaya dopamin itu. Tubuh-tubuh yang menjadi penonton setia Dracin, adalah tubuh yang sudah "terlatih" dengan tontonan yang serba singkat, cepat, dan eksplisit.


Drama adalah konflik. Yah, realitas mentah diubah menjadi sebuah pertunjukan, lewat sebuah konflik. Tidak perlu protagonis dan antagonis, tapi hanya perlu dua kehendak yang saling berlawanan. Drama dibangun secara intens, dimulai dari memperkenalkan siapa saja karakternya. Bagian ini disebut eksposisi dalam piramida Freytag.


Kemudian, ada titik kunci yang disebut inciting incident (insiden pemicu) yang menjadi titik mula ekskalasi dramatik. Rising act (Aksi naik) dimulai dari titik tersebut, hingga menuju klimaks. Dari klimaks, perlahan menurun (disebut juga falling act atau aksi turun) sampai menuju resolusi.


Sialnya, kadang akhir dari drama tersebut tetap saja tidak memuaskan penonton. Yah, drama tidak lahir untuk memuaskan penonton, ia justru lahir untuk membuka ruang dialektika. 


Coba lihat proses di atas. Bukankah itu terlalu lama dan lambat untuk era yang serba cepat ini? Bukankah cepat adalah hal yang normal, dan lambat adalah kegagalan? Padahal, pertunjukan drama itu butuh waktu untuk dialami (bukan dipahami, apalagi dikonsumsi) oleh tubuh penontonnya.


Lewat budaya dopamin ini, konflik tersebut direduksi menjadi emosi mentah yang eksplisit. Semua serba mencari perhatian, seakan-akan menjadi kompetisi untuk berebut jumlah like dan share.


Era yang katanya super cerdas ini justru melahirkan generasi yang lelah untuk berpikir lebih panjang dan dalam. Tapi, jumlah penikmat mikrodrama yang naik tajam ini justru memberikan sebuah peluang. Karena itu berarti kebutuhan akan sebuah "cerita fiksi" masih sangat dibutuhkan. Konflik dan emosi masih punya tempat di hati publik. Hanya saja, kontrol algoritma media sosial yang mengacaukan ritmenya.


Premis Dracin dan Premis Film Indonesia 


Mari kita lihat apa saja inti atau tema utama dari setiap judul dracin. 


  • Seorang lemah yang diperlakukan tidak adil, pada akhirnya akan membalas dendam.
  • Seorang yang sangat miskin, atau mungkin jatuh miskin, perlahan dalam waktu singkat akan mendadak menjadi milioner.
  • Seorang yang tidak diakui masyarakat, kemudian menunjukkan dirinya adalah orang yang paling penting di masyarakat tersebut.
  • Seorang yang dikhianati cintanya, atau mungkin ditolak, kemudian akan datang sebagai seseorang yang luar biasa, sehingga orang yang menolak/mengkhianati cintanya akan berlutut untuk meminta ia kembali. 


Kurang lebih seperti itu premis yang bisa ditemukan lewat dracin. Coba perhatikan, apakah itu sebenarnya adalah "apa yang diinginkan" oleh publik. Saat ini, masyarakat sedang tertekan, dan tokoh antagonisnya tentu adalah "pemerintah" dan "sekelompok kecil orang kaya". Atau mungkin "koruptor". Maka, apa yang paling diinginkan oleh masyarakat selain "balas dendam"?


Coba kita lihat film-film yang laris di Indonesia. Hanya ada tiga "jenis" film, yakni film horor, film relijius, dan film komedi. Premisnya juga mirip-mirip:


  • Hidup sulit dihadapi dengan lucu dan tawa (premis film komedi)
  • Seorang perempuan yang lemah, dipersekusi dan dinodai hingga meninggal, lalu bangkit menjadi makhluk mengerikan untuk membalas dendam (premis film horor)
  • Seorang yang mendapatkan hidayah, atau teguh beragama, akan mendapatkan perlindungan dari Tuhan terhadap tindakan merugikan dari kaum yang "antagonis" (premis film relijius)


Lihat? Bukankah premis itu mirip-mirip dengan yang ditawarkan dracin? 


Jawabannya adalah premis Dracin itu adalah premis film Indonesia yang dipadatkan. FTV atau film "naga-naga" Indosiar yang dipecah menjadi ratusan episode pendek, dibuat padat setiap spektakelnya.




Kemudian, apakah ada konflik internal dalam batin seorang karakter atau tokoh? Nyaris tidak ada ruang untuk itu. Maka kesulitan aktor untuk memerankan seorang karakter dengan psikologis yang berlayer-layer dan  penuh konflik hampir tidak ditemukan. Meski tidak ada ruang untuk konflik internal, tapi konflik eksternal justru ditemukan berulang, bertubi-tubi, dan sangat dominan.


Coba bandingkan dengan menonton teater, dimana Anda harus "mengalami" tontonan, alih-alih "mengonsumsi". Anda harus hadir, tubuh dan pikiran Anda, serta patuh pada aturan menonton pertunjukan. Ada tiket yang harus Anda bayar, dan ada waktu yang harus Anda lalui untuk menunggu pertunjukan, maupun untuk menonton pertunjukan tersebut. Saat Anda menonton, Anda juga akan diuji kesabaran untuk mengenali setiap tokoh, alur cerita, tempat, dan tema cerita.


Sedangkan menonton Dracin, Anda bisa sambil rebahan, emosi sudah terpancing sejak menit pertama, tanpa banyak penjelasan, Anda melompat dari emosi ini ke emosi yang lain. Yah, pengalaman yang sebenarnya tidak berbeda jauh dari menonton video pendek di YouTube short, Instagram, dan TikTok.


Guy Debord, filsuf dan film-maker asal Prancis (1931-1994) mengkritik masyarakat era itu yang terasing dari kehidupan nyata karena dikuasai oleh konsumsi komoditas budaya populer ( dalam The Society of the Spectacle). Masyarakat lebih suka bentuk spektakel (satu bagian kecil yang penuh daya tarik, seperti penuh dengan citraan visual, warna, dan emosi), ketimbang sesuatu yang harus dialami secara langsung, menawarkan pengalaman, terminal endapan berupa kontemplasi, dialektika, dan pendalaman. "Warna-warni" yang menyilaukan sesaat itu lebih disukai, namun menciptakan ilusi yang kemudian memisahkan manusia dari realitasnya. Dracin menawarkan konflik instan, emosional, dan terpaku pada citraan sesaat sebagai bentuk spektakelnya. Seperti yang dikatakan Debord, masyarakat hari ini juga akan tetap berada dalam kondisi di mana hubungan sosial dan pengalaman hidup dipenuhi (dan dimediasi) oleh citra yang terus menerus ditampilkan oleh media sosial.


Intinya, tulisan ini sebenarnya sedang tidak membahas dracin. Tapi, saya sedang membahas bagaimana tubuh kita sebagai penonton, telah berubah. Pengalaman menonton yang mengharuskan kita "mengalami" sudah hal yang asing. Era ini adalah era di mana kita mengonsumsi, menikmati, dan mendapatkan kepuasan secara cepat dan efisien. Sebagai seniman teater, tentunya saya merasa hilangnya ruang untuk mengalami waktu yang penuh keheningan, tanpa harus bising dengan tepuk tangan, atau tuntutan untuk segera bereaksi. 


Teater, berdiri di titik yang berlawanan dengan dracin dan "semangat zaman dopamin"

Teater seakan berada di titik yang berlawanan dengan Dracin dan semua produk "kecepatan" ini. Teater dengan semua proses yang lambat, latihan yang tidak nyaman, keheningan, dan waktu yang panjang, seakan berdiri di posisi berlawanan dengan "semangat zaman" yang dibangun media sosial ini. Tidak ada kepuasan instan, tidak ada pelarian, tidak selalu ada jawaban. Meminjam sedikit kata Iswadi Pratama (Sutradara Teater Satu Lampung), tidak pernah ada jalan pintas untuk teater


Karena itulah, teater semakin asing di era dopamin instan ini. Tapi, justru saya menemukan nilainya yang mahal. Teater menjadi ruang di mana tubuh lebih dihargai, bisa tinggal lebih lama, mengalami, menanggung konflik dengan sabar, dan larut dalam proses yang tidak perlu harus diberikan "self-reward" di setiap prosesnya. Hanya satu tepuk tangan di ujung sebuah pementasan saja, tapi jauh lebih meriah dan memberikan berton-ton dopamin yang cukup untuk hidup ribuan tahun.