Advertisement
![]() |
| Pentas Pekik Bumi dalam Nyanyian Lumpur |
PojokSeni/Padang - Payung Sumatera bersama mahasiswa Program Studi Seni Pertunjukan Medan menghadirkan sebuah karya seni pertunjukan kontemporer bertajuk “Pekik Bumi dalam Nyanyian Lumpur”, sebuah potret reflektif pasca banjir Sumatera yang tidak berhenti pada narasi tragedi, melainkan membuka ruang pertanyaan filosofis tentang relasi manusia dan ekologi. Karya ini lahir dari proses kolaborasi observasi langsung ke titik bencana di salah satu kawasan pantai Padang.
Jejak kehidupan yang tersisa tidak hanya menjadi latar, tetapi menjelma sebagai memori kolektif yang diolah menjadi bahasa tubuh, bunyi, dan ruang artistik. Ingatan-ingatan itu dirajut dalam sebuah dialektika panggung. Antara alam yang terluka dan manusia yang kerap lupa. Pertunjukan ini pentas pada 22 Januari 2026, sebagai bagian dari upaya Payung Sumatera memperluas praktik kolaborasi seni lintas disiplin dan budaya, khususnya bersama mahasiswa seni pertunjukan sebagai subjek penciptaan, bukan sekadar pelaksana. Dengan melakukan ekplorasi tubuh minang dengan tubuh batak dalam menawarkan estetika baru.
Sutradara Fabio Yuda Dalam pandangan sutradara Fabio Yuda, “Pekik Bumi dalam Nyanyian Lumpur” bukanlah karya yang berpretensi menjelaskan bencana, melainkan mendengarkan bumi. “Bumi tidak diam. Ia berteriak, hanya saja manusia sering memilih untuk tidak mendengar. Pekik itu hadir melalui lumpur, melalui tubuh-tubuh yang kehilangan arah, dan melalui ruang yang tak lagi netral,” ungkapnya.
Fabio memposisikan panggung sebagai ruang kesaksian. Tubuh aktor tidak dituntut menjadi tokoh, melainkan medium ingatan membawa jejak trauma ekologis dan sosial yang bersifat laten namun terus hidup. Pendekatan penyutradaraan ini menolak dramatika konvensional, dan memilih kejujuran gestur sebagai bahasa utama.
Bagi koreografer Venny Rosalina, lumpur adalah metafora sekaligus realitas fisik. “Lumpur tidak pernah berpihak. Ia berat, menahan, dan memaksa tubuh untuk bernegosiasi. Dari situlah koreografi lahir,” jelasnya.
Gerak dalam pertunjukan ini dibangun dari resistensi tubuh terhadap ruang yang tidak ramah. Tubuh-tubuh penari bergerak dalam ketegangan antara bertahan dan tenggelam, menciptakan komposisi yang rapuh namun kejujuran tubuh. Koreografi tidak dimaksudkan sebagai keindahan semata, melainkan jejak relasi kuasa antara manusia dan alam. Tidak hanya itu, pertunjukan juga di sempurnakan dalam ruang musikal. Robby Ferdian Komposer merespons bencana dengan pendekatan bunyi yang organik.
“Kami tidak menciptakan musik untuk mengiringi adegan, tetapi membiarkan bunyi tumbuh dari situasi, sebagai komitmen kami Payung Sumatera menciptakan lagu sebagai strategi produksi dalam menciptakan orisinalitas” tuturnya.
Sebagai konsep dramaturgi dalam penciptaan dramatik performance pertunjukan. Sebagai dramaturg, Frisdo Ekardo menempatkan karya ini sebagai ruang pertanyaan, bukan pernyataan. “Pertunjukan ini tidak menawarkan jawaban. Ia justru mengganggu kenyamanan kita dalam memaknai bencana,” jelasnya.
Dramaturgi dibangun dari fragmen observasi lapangan, kesaksian warga, dan refleksi filosofis tentang manusia sebagai bagian dari ekosistem. Struktur pertunjukan tidak linear, melainkan menyerupai ingatan yang terputus-putus, sebagaimana trauma ekologis itu sendiri. Penonton diajak untuk hadir sebagai subjek yang berpikir, bukan sekadar menyaksikan.
Performance ini menghadirkan seni pertunjukan sebagai ruang dialog ekologis dan sosial, tempat tubuh, bunyi, dan ruang saling bernegosiasi. Karya ini menjadi tawaran estetika yang berpijak pada realitas, sekaligus membuka kesadaran baru tentang tanggung jawab manusia terhadap alam. Melalui kolaborasi Payung Sumatera dan mahasiswa seni pertunjukan Medan, karya ini menegaskan bahwa seni bukan sekadar representasi, melainkan tindakan kultural yakni mencatat, mengingat, dan mempertanyakan ulang arah hidup bersama bumi. Serta menjadikan panggung sebagai teks edukasi memberikan ruang kesadaran kolektif agar manusia tumbuh dangan kepekaan.
Tim artistik:
- Sutradara : Fabio Yuda
- Asrada : Elisa Nasution
- Dramaturg : Frisdo Ekardo
- Koreografer : Venny Rosalina
- Komposer : Robby Ferdian
- Produser : Vinna Auliya
- Manager Company : Ditta Putri
Performance / actor :
Denny, Sania, Maharani, Arif, Rian, Lery, Felix, Medi, Roysay, Roh Aristri, Tia, Albert, Sonia, Yenima, Elsa, Junita.
Pemusik :
- Synthesizer : Fikri
- Vokalis : Febrika
- Drummer : Yudha








