Advertisement
![]() |
| Pelatihan penulisan naskah Mamanda di Desa Semau, Bram Itam, Tungkal, Jambi |
Mamanda adalah pertunjukan teater tradisional yang sangat kuat berakar pada tradisi etnis Banjar di Kalimantan Selatan. Mamanda yang menceritakan era jayanya kerajaan Banjar dan penuh nilai moral, perlahan menyebar ke pulau lainnya, termasuk pulau Sumatera. Desa Semau, Kecamatan Bram Itam, Tungkal, yang terletak di daerah pesisir Jambi, mengadopsi Mamanda dalam kebudayaan Melayu Jambi, dan telah mencapai puncaknya pada era 1980-an. Sayangnya, tahun 1990-an, popularitas Mamanda di daerah tersebut perlahan merosot.
Tahun 2020-an, pertunjukan yang diklasifikasikan sebagai teater tradisional ini perlahan menuju kepunahan. Sebelum akhirnya menjadi salah satu dari deretan produk kebudayaan tradisional Indonesia yang menghilang, program bertajuk Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Negeri Jambi (UNJA) digelar untuk menyelamatkan Mamanda versi Desa Semau, pesisir Jambi ini. Program yang didanai oleh PNBP Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jambi ini difokuskan dengan pelatihan penulisan naskah drama, berdasarkan ingatan kolektif masyarakat setempat yang pernah menjadi pemain, penonton, atau saksi digelarnya pertunjukan ini di era lampau.
Masalah utama yang dihadapi oleh Mamanda di Desa Semau ini setelah diidentifikasi, adalah semakin tersudutnya keberadaan kesenian ini di tengah masyarakat. Minimnya minat dari generasi muda dan bertambahnya usia para pemain lama menyebabkan pemahaman utuh mengenai bentuk pertunjukan tradisional ini hanya tersimpan secara terpisah-pisah dalam ingatan beberapa warga saja. Kondisi ini diperburuk dengan fakta bahwa Mamanda selama ini hanya diwariskan secara lisan, berarti tidak ada dokumentasi tertulis berupa naskah atau catatan pementasan yang tersedia. Akibatnya, sulit sekali untuk merekonstruksi dan mengajarkan kembali seni ini secara berkelanjutan, menempatkan tradisi teater ini pada titik kritis.
![]() |
| Evaluasi hasil naskah yang ditulis warga berdasarkan ingatan kolektif. |
Ketiadaan naskah tertulis dan minimnya regenerasi menjadi kendala besar dalam pelestarian. Selain itu, masyarakat Semau juga belum memiliki tenaga ahli yang terampil untuk memimpin proses revitalisasi, terutama dalam hal pendokumentasian dan penulisan naskah yang bersumber dari memori kolektif tersebut. Padahal, peran pendamping ahli sangat krusial untuk memastikan bahwa upaya menghidupkan kembali Mamanda dapat dilakukan secara sistematis, tetap menjaga akar tradisinya, namun tetap relevan dengan konteks masa kini. Oleh karena itu, urgensi penanganan masalah-masalah prioritas, dimulai dari melestarikan ingatan kolektif, membuat teks tertulis, hingga menyediakan pendampingan ahli.
Upaya menghidupkan kembali Mamanda merupakan bagian integral dari studi seni pertunjukan, khususnya disiplin teater. Tim pengusul inisiatif ini sangat mumpuni karena semua anggotanya memiliki latar belakang keilmuan yang relevan dan fokus penelitian yang konsisten pada pelestarian dan penciptaan kembali seni pertunjukan tradisional. Bukti dari keahlian tim ini terlihat dari keterlibatan mereka sebelumnya dalam program PKM yang berfokus pada revitalisasi teater tradisi lain, seperti "Pelatihan Teater Abdul Muluk" di Muaro Jambi, yang berhasil menghidupkan kembali teknik dan nilai pementasan serta meningkatkan apresiasi masyarakat lokal. Pengalaman ini menunjukkan bahwa tim memiliki kapabilitas teruji untuk memimpin proyek di Desa Semau.
Rangkaian Solusi yang Ditawarkan
Berdasarkan tantangan yang ada, empat solusi terstruktur telah dirancang untuk mengatasi masalah inti yang dihadapi mitra. Pertama, diadakan diskusi budaya Mamanda untuk menggali kembali struktur dan nilai pertunjukan yang masih tersimpan dalam memori kolektif masyarakat. Kedua, penayangan video pertunjukan Mamanda akan diselenggarakan untuk membantu warga mengingat kembali estetika dan gaya pementasan yang autentik.
Selanjutnya, pelatihan penulisan naskah akan dilaksanakan untuk membekali masyarakat dengan kemampuan mendokumentasikan cerita lokal. Puncaknya, dibentuk tim penulis kolaboratif yang bertujuan menghasilkan naskah Mamanda yang komprehensif, utuh, dan siap dipentaskan kembali sebagai langkah nyata pelestarian.






