Advertisement
![]() |
| Pelatihan Kalinong Gendang di SMP Diniyyah Al Azhar Jambi |
Kalinong Gendang adalah cara para ibu-ibu tepian Rantau Panjang, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi di masa lalu untuk berkesenian setelah bekerja di ladang. Nyayian tersebut diiringin oleh alat musik kecil berbahan besi dengan lima bilah nada yang disebut kalinong. Tim dosen dari Program Studi Sendratasik Universitas Jambi menemukan bahwa Kalinong Gendang sudah tidak begitu dikenal lagi oleh generasi muda pada era musik modern ini. Karena itu, tim dosen ini melakukan survey dan memutuskan untuk menghidupkan kembali tradisi musikal Rantau Panjang ini di SMP Diniyyah Al Azhar Jambi.
Di sekolah tersebut, kegiatan seni menjadi kegiatan dalam wadah ekstrakurikuler. Disandingkan bersama beberapa seni modern seperti band, tari, seni rupa, dan sebagainya. Namun, seni musik tradisional inilah yang sangat jarang disentuh. Padahal, membangkitkan kembali kesadaran bahwa tradisi musik lokal menyimpan nilai estetika, pengetahuan, dan filosofi tubuh manusia dalam berolah suara adalah nilai-nilai yang terkandung dalam setiap tradisi musik yang masih hidup hingga saat ini. Karena itu, dengan melibatkan guru seni budaya serta siswa-siswi sekolah setempat, pelatihan ini diharapkan mampu menumbuhkan minat dan kepekaan terhadap warisan musik daerah.
Menurut guru pendamping, Zulkarnain S.Sn, minat siswa pada ekstrakurikuler vokal Kalinong Gendang memang sangat kurang. Penyebabnya, pengenalan pembelajaran musik jenis ini di kelas masih sangat kurang. Ditambah lagi dengan keterbatasan tenaga pengajar yang mampu melatih kesenian tradisi. Akibatnya, banyak siswa lebih akrab dengan musik populer ketimbang lagu-lagu dari tanah sendiri.
Kehadiran program dari Universitas Jambi ini dianggap memberi angin segar. Program ini juga memperkuat kapasitas guru agar bisa melanjutkan pembelajaran setelah kegiatan berakhir. Selain melatih teknik vokal dan pengenalan alat musik Kalinong, siswa diajak memahami konteks budaya yang melahirkan kesenian itu. Pelatihan ini menggunakan pendekatan Project Based Learning (PjBL), yakni metode yang menekankan pengalaman belajar melalui proyek nyata. Siswa tidak hanya mendengar teori, tapi langsung mempraktikkan dan memecahkan masalah secara berkelompok. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan jalannya proses, bukan sebagai pengajar satu arah.
Langkah awal dimulai dengan observasi dan perencanaan: menentukan peserta, membagi kelompok vokal (sopran dan alto), dan mempersiapkan ensambel pengiring. Setelah itu, para pelatih memperkenalkan unsur-unsur musik Kalinong Gedang, yakni teknik vokal, pola ritme, serta cara memainkan kalinong dan gong pengiring. Latihan dilakukan rutin dua kali seminggu, di luar jam pelajaran. Semangat peserta tetap tinggi, meskipun fasilitas sekolah terbatas dan alat musik sudah banyak yang sudah tua. Bagi sebagian siswa, ini pengalaman pertama mereka memegang alat musik tradisional. Bagi guru, ini kesempatan untuk melihat seni tradisi tumbuh dan menjadi ruang budaya.
Setelah melalui sejumlah pertemuan, kelompok vokal dan ensambel dibentuk. Setiap kelompok mempelajari bagian masing-masing, lalu digabungkan menjadi satu pertunjukan besar. Latihan yang awalnya tampak kaku berubah menjadi ruang eksplorasi yang hidup. Di saat ini, siswa saling berdiskusi, memperbaiki tempo, bahkan mencoba menambahkan gerak kecil agar penampilan lebih menarik. Ini yang diharapkan dari hidupnya tradisi musikal ini.
Puncaknya, hasil latihan dipentaskan di hadapan warga sekolah. Bagi para guru, pelatih, dan sebagian siswa, suara besi kalinong berpadu dengan nyanyian lembut para siswa ini menjadi bukti bahwa tradisi bisa tumbuh kembali jika diberi ruang dalam pendidikan.
Program ini lebih ditujukan sebagai usaha menjaga identitas budaya Jambi, apalagi di era seperti ini ketika budaya dan pengaruh musik global memberi ruang yang sempit bagi generasi muda mengenal akar budayanya sendiri. Dampak positifnya, saat ini tim vokal dan ensambel Kalinong Gendang di sekolah tersebut terbentuk. Maka, dengan tambahan manajemen pertunjukan seni, siswa tersebut bisa mengembangkan kegiatan serupa di masa mendatang. Sebab Kalinong Gendang adalah ingatan kolektif dan bentuk estetika masyarakat agraris Jambi.






