Tradisi Hari Raya Nyepi di Desa Kembang Mertha Bolaang Mongondow Sulut -->
close
Pojok Seni
14 March 2024, 3/14/2024 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2024-03-14T01:00:00Z
ArtikelBudaya

Tradisi Hari Raya Nyepi di Desa Kembang Mertha Bolaang Mongondow Sulut

Advertisement
Tradisi Hari Raya Nyepi di Desa Kembang Mertha Bolaang Mongondow Sulut (foto: Tribun News)

Oleh: I Dewa Ayu Agung Indira Saraswati*


Hari Raya Nyepi adalah perayaan agama Hindu yang dirayakan oleh umat Hindu pada setiap tahun. Hari Raya Nyepi dikenal pula sebagai hari sepi di mana semua pengikutnya, menjalani dua puluh empat jam tanpa aktivitas publik, termasuk tidak menggunakan listrik dan merayakan dalam keheningan. 


Hari Raya Nyepi melibatkan serangkaian upacara keagamaan yang mendalam seperti Melasti, pawai Ogoh-ogoh, dan Ngembak Geni. 


Melasti adalah upacara pengambilan air suci dari sumber mata air. Upacara ini dimaknai sebagai pembersihan alam semesta.


Sementara pawai Ogoh-ogoh adalah tradisi unik yang dilakukan menjelang Hari Raya Nyepi yang bertujuan untuk mengusir energi negatif. Sedangkqn, Ngembak Geni adalah bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi yang dilaksanakan setelah Hari Raya Nyepi, di mana pada hari Ngembak Geni ini orang-orang saling bertemu, berkumpul, bermaaf-maafan, dan menyatukan kembali hubungan yang mungkin terganggu di masa lalu. 


Jadi hari raya nyepi bukan hanya mencakup keheningan fisik selama dua puluh empat jam, tetapi juga melibatkan serangkaian upacara keagamaan yang mendalam sebagaimana tersebut di ats.


Hari Raya Nyepi atau tahun baru saka begitu lekat dengan keberadaan Ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh diambil dari Bahasa Bali “Ogah-ogah” yang artinya sesuatu yang digoyang-goyangkan. Ogoh-ogoh adalah patung raksasa yang merupakan manifestasi Bhutakala. 


Dalam ajaran Agama Hindu Dharma, Bhutakala adalah kekuatan Bhu (alam semesta) dan Kala (waktu) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Ogoh-ogoh adalah patung yang terbuat dari bambu, kertas, dan sebagainya berbentuk raksasa dan lain-lain yang diarak keliling desa pada hari tertentu (biasanya sehari menjelang Hari Raya Nyepi).

 

Adapun makna pawai Ogoh-ogoh dalam perayaan Hari Raya Nyepi. Menurut Cendekiawan Hindu Dharma proses perayaan Ogoh-ogoh melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta, dan waktu yang maha dasyat. Kekuatan tersebut meliputi Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (diri manusia). Dalam pandangan Tattwa (filsafat), kekuatan ini dapat mengantarkan makhluk hidup khususnya manusia dan seluruh dunia menuju kebahagiaan atau kehancuran. Kedua kekuatan ini dapat digunakan untuk menghancurkan atau membuat dunia bertambah indah. Semua itu tergantung pada niat luhur manusia, sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia dalam menjaga dirinya sendiri dan seisi dunia.


Namun demikian, Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Menurut Jero Mangku Made Purna (Pemangku di desa Werdhi Agung) sejak tahun 80-an, umat Hindu mengusung Ogoh-ogoh yang dijadikan satu dengan acara mengelilingi desa sambil membawa obor api kemudian acara tersebut diberi nama acara Ngerupuk.


Di sisi yang sama, karena bukan sarana upacara, Ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok atau upacara persembahyangan selesai dengan diiringi irama gambelan khas Bali yang diberi nama Bleganjur. 


Demikianlah, pawai Ogoh-ogoh adalah salah satu elemen yang paling dinantikan dalam perayaan Hari Raya Nyepi. Ogoh-ogoh adalah patung raksasa yang dibuat secara kreatif oleh para seniman setempat. Patung-patung ini seringkali memiliki penampilan yang menakutkan, dengan ukuran yang besar dan dhiasi dengan warna-warni yang mencolok, namun sejatinya melambangkan roh jahat atau kejahatan yang harus diusir dari lingkungan Masyarakat untuk membersihkan dan memurnikan alam semesta.


Pawai Ogoh-ogoh menjadi pertunjukan yang mengesankan bagi siapapun yang datang dan melihatnya pada saat perayaan Hari Raya Nyepi. Mereka bisa menyaksikan ribuan orang berkumpul, memainkan musik, menari, dan Bersama-sama mengarak Ogoh-ogoh sambil meneriakkan semangat untuk mengusir energi negatif. Prosesi ini juga menjadi bagian yang menggembirakan bagi anak-anak yang antusias menyaksikan Ogoh-ogoh raksasa berjalan di jalanan mereka.


Namun, setelah pawai Ogoh-ogoh berakhir ritual yang sangat berbeda terjadi pada hari berikutnya, yaitu Hari Raya Nyepi. Pada Hari Raya Nyepi, situasi menjadi sangat sepi karena umat Hindu melakukan Tapabrata yaitu meditasi, puasa, serta menjaga kesunyian dan kesepian selama dua puluh empat jam. Pada saat melaksanakan Tapabrata ada empat pantangan yang tidak boleh dilakukan. Pantangan tersebut yaitu Amati Geni (larangan untuk menyalakan api atau energi), Amati Karya (larangan untuk melakukan pekerjaan atau aktivitas sehari-hari), Amati Lelungan (larangan untuk melakukan hiburan atau kesenangan), dan  Amati Lelanguan (larangan untuk makan dan minum). Pantangan-pantangan ini dipatuhi ketat oleh umat hindu sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan makna mendalam di balik perayaan Hari Raya Nyepi. Pantangan-pantangan tersebut juga  bertujuan untuk mengintropeksi diri, menyucikan diri, dan menenangkan pikiran agar bisa memulai tahun baru saka dengan jiwa yang bersih.


Setelah melaksanakan Tapabrata pada Hari Raya Nyepi, keesokan harinya umat hindu merayakan Hari Raya Ngembak Geni. Ngembak Geni adalah salah satu bagian penting dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi. Hari Raya Ngembak Geni dianggap sebagai hari setelah Nyepi, di mana umat Hindu kembali melaksanakan kegiatan sehari-hari mereka dengan semangat baru dan kebersihan spiritual setelah hari penyucian.


Dengan demikian, pawai Ogoh-ogoh dalam perayaan Hari Raya Nyepi bukan hanya sebuah acara seremonial yang mengesankan secara visual, tetapi juga sebuah simbol yang mendalam dalam kehidupan spiritual umat Hindu. Perayaan ini menggambarkan konsep pembersihan, penyucian, serta perjuangan antara kebaikan dan kejahatan dalam kehidupan sehari-hari.












*Penulis adalah Mahasiswa Prodi Fisioterapi Unika De La Salle Manado- Anggota UKM Jurnalistik UKDLSM

Ads