Kritik Pertunjukan Teater: Perwujudan Pertunjukan Naskah Penjual Bendera karya Wisran Hadi oleh Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada PESTARAMA#7 -->
close
Pojok Seni
28 May 2022, 5/28/2022 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2022-05-28T16:43:26Z
Ulasan

Kritik Pertunjukan Teater: Perwujudan Pertunjukan Naskah Penjual Bendera karya Wisran Hadi oleh Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada PESTARAMA#7

Advertisement
Naskah Drama Penjual Bendera Wisran Hadi

Oleh : Aditiya Wardana


Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 21 – 28 maret 2022 mengadakan iven pertunjukan teater tahunan yang diberi nama Pestarama#7  kepanjangan dari pekan apresiasi sastra dan drama dengan mengusung tema “ Membumi Bersama Wisran Hadi ”. Berawal pada tahun 2016 silam pekan apresiasi sastra dan drama telah menjadi  identitas budaya bagi lingkungan kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Pestarama berdiri atas inisiatif dari Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, berjalan secara rutin dari tahun ketahun pestarama sendiri mendapatkan dukungan dan apresiasi dari pihak kampus serta pegiat budaya yang terdapat di ibukota Jakarta. Pada edisi tahun ini Pestarama merayakan ketujuh tahun penyelenggaraan dari tahun 2016 sebagai penyelenggaraan pertamanya. 


Sesuai tema yang diusung pada Pestarama#7 ini yaitu “ Membumi bersama Wisran Hadi “ tentunya  pertunjukan dan sastra yang ditampilkan pastinya naskah naskah karya wisran hadi, pada iven ini ada beberapa naskah Wisran Hadi yang dimainkan yaitu; Penjual Bendera, Singa Podium, Makam Dipertuan, Nyonya Nyonya, Nilam Sari, Roh dan Salonsong. Naskah naskah ini akan ditampilkan secara bergilir oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Jakarta. Tidak hanya itu, Pestarama juga menampilkan sebuah pameran khusus kumpulan dokumentasi karya karya Wisran Hadi yang telah dipentaskan Wisran Hadi didunia kesenian Indonesia. Pameran dikemas secara baik dan menjadikan khas supaya lebih enak dipandang dan dinikmati bagi pecinta seni selama pergelaran Pestarama. 


Pada Pestarama#7 ini, saya sangat tertarik melihat pertunjukan penjual bendera yang disutradarai oleh Vira Feysa Razan merupakan Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra UIN Jakarta. Pada bagian pertama pertunjukan, muncul para pemain membawa bendera dengan mengelilingi panggung di iringi lagu kebangasaan indonesia, lalu para pemeran mulai mengambil posisi sebagai bloking yang telah dibuat sutradara, dalam naskah ini terdapat empat aktor, dalam garapan pertunjukan ini terdapat tiga pasang pemain yang berperan sebagai Gareng dan Sompeng dan berdialog secara bergantian.


Alur Cerita "Penjual Bendera" karya Wisran Hadi

 

Gareng memulai menceritakan tentang pembuatan bendera dengan kapas dan tentang filosofi kapas yang telah disampaikan Gareng. Sompeng mulai membantah bahwa bendera tidak hanya terbuat dari kain sesuai perkembangan zaman bahwa bisa saja bendera yang biasa kita buat menggunakan kapas bisa saja diganti dengan bahan lain nantinya. Lalu Gareng meradang karena sampai kapanpun bendera tidak akan pernah digantikan dengan bahan lain selain bahan dari kapas, lalu mulai menjelaskan tentang falsafah kapas yang tidak habis habisnya.


Lalu ketiga aktor lelaki bernyanyi lagu kebangsaan, Gareng pun bercerita tentang sejarah romantis bersama istrinya dan tersipu malu mengingat masa masa mudanya. Mereka pun berdansa sambil mengingat masa pacaran semasa muda. Dansa itu terhenti ketika Gareng mulai berbicara masalah kapas lagi dan membuat Sompeng merasa kesal, kemudian Sompeng mulai menjahit bendera lagi dengan lelah mendengar ocehan dari Gareng sampai tertidur dan tidak menyelesaikan benderanya. 


Gareng berbicara tentang keuntungan bendera yang mereka buat dari para petinggi gedung kebangsaan, uang yang didapatkan dibelikan untuk membeli sepeda untuk pulang kampung. Sompeng pun mulai pasrah karena apa yang diharapkan Gareng hanya harapan saja dan tidak terealisasikan. Gareng memberikan semangat kepada Sompeng yang mulai bosan dengan falsafah kapas yang diulang terus oleh sang suami. Masuk pemain perempuan bergaya lelaki tiga orang sebagai anak mereka yang bernama Jondul. Jondul membawa banyak plastik untuk membuat sebuah bendera. Mendengar itu 


Gareng pun membantah keras bahwa bahwa bendera harus terbuat dari kapas tidak dari plastik. Jondul pun menjelaskan falsafah bendera plastiknya bahwa bendera plastik tidak akan basah karena hujan walaupun sebagaimana buruknya cuaca. Gareng pun selalu menentang dan tetap bersitegang dengan bendera dari kapasnya. Jondul juga membantah bahwa dia membuat bendera ini untuk mencari uang dan membeli bemo dan menjadi seorang pengemudi. Gareng membantah apa yang dibuat oleh Jondul, dan Sompeng sebagai penengah menyuruh Jondul dan Gareng fokus dengan bendera mereka masing masing. 


Sompeng menyuruh Jondul mengerjakan bendera plastik itu di rumah istrinya tapi Jondul menolak. Karenanya, mereka tetap mengerjakan bendera plastik di rumah papanya. Jondul mulai mengerjakan benderanya dengan mewarnainya namun Jondul kehilangan bagian terpentin untuk mengaduk cat yang kental itu. Sompeng menawarkan diri untuk membeli terpentin ke tokoh cina, Gareng marah dan mengatakan bahwa benderanya tidak akan siap untuk dipajang di gedung kebangsaan.


Masuk Barcep dengan tiga pemain lain membawa kotak berisi lampu warna warni untuk membuat bendera tembus waktu yang terbuat dari cahaya. Dalam kotak kaca tersebut ada bermacam-macam kabel yang menyatukan lampu-lampu itu. Giliran Barcep yang mulai menyampaikan falsafah bendera cahayanya dengan antusias. Barcep membanggakan bendera cahayanya dan menjelaskan cara-cara membuat benderanya itu. Jondul bertanya, "kalau membuat bendera cahaya itu berapa keuntungan yang didapatkannya?" 


Barcep mengatakan, untung membuat bendera cahaya ini bisa untuk membeli gelar sarjana. Mendengar itu, Gareng pun terperangah mendengar cita cita dari sang cucu. Ia kemudian meminta Barcep melanjutkan proyek benderanya seraya memuji bendera yang dibuat oleh Barcep dan membuat cemburu Jondul. 


Kemudian, Sompeng datang membawa kapas bukan terpentin. Dengan sedikit kelelahan, Sompeng menceritakan kejadiannya selama di perjalanan bahwa gedung kebangsaan telah memasang bendera dari bangsa luar dan membuat Gareng tidak percaya atas perkataan Sompeng. Sompeng pun bersumpah yang dilihatnya itu tidak mimpi dan memang yang sebenarnya. Gareng, Jondul dan Barcep kecewa bahwa bendera mereka hanya angan-angan saja untuk dipajangkan di gedung kebangsaan. Sompeng memberi semangat kepada Gareng supaya tidak terlalu memikirkan masalah bendera. Gareng bangkit dan mengatakan hanya dia lah yang tahu dimana bendera itu harus dikibarkan dengan semangat bergelora. 


Unsur - unsur Penunjang Pertunjukan Penjual Bendera oleh Mahasiswa UIN Jakarta pada Pestarama#7


Seperti yang kita ketahui bahwa terbentuknya suatu pertunjukan justru adanya unsur penunjang yang terdapat di dalamnya. Terbukti pada pertunjukan Penjual Bendera ini ada berbagai macam unsur yang terkandung supaya membuat pertunjukan terlihat lebih menarik dan lebih dikemas baik untuk ditonton. Dalam teater sendiri baik yang berdialog maupun bermonolog tetap adanya unsur penunjangnya maupun dari segi bermain tubuh. 


Unsur terpenting dalam teater ada empat yaitu aktor merupakan penunjang yang sangat utama dalam sebuah pertunjukan. Kedua ada naskah dimana naskah ini berisi tentang hal yang akan kita pertunjukkan baik itu naskah komedi atau satire, tragedi maupun tragedi komedi ada yang disebut absurd. Ketiga pentas atau panggung yang menghadirkan perwujudan dari aktor dan naskah. Dan yang terakhir ada sutradara sangat dibutuhkan seorang supaya dalam melakukan pertunjukan seorang lebih terarah dan lebih baik. Tidak hanya itu saja, dalam sebuah pertunjukan teater ada juga yang disebut dengan kostum, rias, pencahayaan / lighting, musik, properti dan setting.


Pada pertunjukan naskah Penjual Bendera karya Wisran Hadi ini, sutradara mengambil latar budaya Jawa dan juga ada berkaitan dengan kostum yang dipakai oleh aktor. Para aktor menggunakan pakaian atau kostum khas Jawa. Gareng sebagai pemeran protagonis memakai kostum lurik bergaris, Sompeng sebagai istri memakai kebaya menengah ke bawah lengkap dengan kain batik yang dijadikan rok. Jondul menggunakan pakaian kemeja dan celana dasar lengkap dengan sepatunya, sedangkan Barcep menggunakan baju dengan celana pendek. Kostum yang digunakan dalam pertunjukan ini sangat cocok dengan konsep dan garapan yang diinginkan sutradara pada pertunjukan ini. Kostum yang digunakan juga menggambarkan perbedaan zaman dari Gareng dan Sompeng menggunakan pakaian lurik dan kebaya menggambarkan pakaian zaman dulu, dengan Jondul dan Barcep menggunakan kostum yang bercorak modern.

 

Rias dalam pertunjukan ini sangat penting untuk mempertegas karakter tokoh yang terdapat pada naskah ini, Gareng disini yang diperankan oleh mahasiswa bisa dibuat seperti orang tua sesuai umur yang terdapat pada naskah bisa dengan efek make up begitu juga pemeran Sompeng juga diperankan oleh mahasiswa bisa dibuat tua dengan efek make up. Pemeran Jondul tidak terlalu mencolok di efek make up karena sesuai dengan umur yang diperankan pada naskah, sedangkan Barcep seorang anak kecil yang diberi efek make up ysang tipis dan tidak terlalu berlebihan.


Pencahayaan (lighting) di pertunjukan ini tidak terlalu mencolok dan membuat aktor tidak terlalu terlihat. Sebagai penonton virtual yang menyaksikan lewat Youtube atau video menjadi tidak terlalu nampak ekpresi pemain. Kurangnya pencahayaan dalam pertunjukan membuat petunjukan dan gelap ditambah dengan permainan lampu yang kurang baik. 


Musik yang digunakan pada pertunjukan ini menggunakan musik khas Jawa dan sesuai dengan garapan yang diinginkan sutradara. Tidak hanya musik tradisional saja melainkan juga musik modern digunakan di pentas ini. Sayangnya, pada petunjukan ini musik lebih mendominasi dan membuat vokal aktor tidak terdengar begitu jelas ditambah para aktor berdialog secara cepat. Padahal, aktor teater harus memiliki vokal yang baik dan artikulasi yang jelas.


Setting dan properti yang digunakan sangat penting dalam sebuah pertunjukan. Di pertunjukan ini, hanya ada setting portabel yang hanya mengandalkan beberapa bendera yang ditancapkan di sisi panggung. Setting yang minim tersebut membuat space aktor tidak terlalu luas dalam melakukan bisnis akting. 


Aspek Kritik Sosial yang Terdapat pada Pertunjukan Penjual Bendera oleh Mahasiswa UIN Jakarta pada Pestarama#7


Adegan demi adegan dalam pertunjukan penjual bendera ini berjalan degan terarur dan sesuai dengan alur naskah. Pertunjukan tidak membosankan tapi perlu diberikan sebuah kritikan agar bisa lebih baik lagi. Sifat egois yang dimiliki Gareng pada naskah ini mencerminkan susahnya berkehidupan sosial dalam bermasyarakat, terlihat dari pribadinya yang kukuh akan pendapat dan falsafah yang dianut dari sejak lama. Dalam hal ini kita bisa menilai bahwa sifat egois dan keras kepala seseorang bisa mempengaruhi hidupnya dalam bermasyarakat dan bersosial, seperti yang kita ketahui bahwasanya manusia adalah makhluk sosial. 


Pertunjukan penjual bendera yang dipentaskan oleh mahasiswa UIN Jakarta dalam iven Pestarama#7 ini tidak hanya membahas tentang persoalan itu. Sutradara juga banyak menggunakan aktor pada pertunjukan ini membuat ke konsisten pemain turun naik dalam berdialog. Dialog dalam pertunjukan ini terkesan tidak teaterikal dan agak dibuat buat. Misalnya, dalam melakukan perdebatan antara Gareng dan Sompeng tidak terlalu mendapatkan "rasa" dalam bermain. Selain itu, karena menggunakan banyak aktor, emosi aktor menjadi terputus dan membuat aktor lainnya mengulang dan menyambung emosi yang tidak konsisten. 


Pada pertunjukan ini, sutradara menggunakan dua belas aktor dalam satu panggung. Di mana dalam naskah, aktor yang dibutuhkan hanya empat saja. Hal ini sebenarnya perlu diapresiasi, karena keberanian sutradara menggarap banyak aktor dan mengambil resiko yaitu tidak tersampaikan emosi aktor ke penonton. Setting juga berpengaruh pada permainan aktor yang terlalu banyak tadi karena dapat dilihat space panggung yang kecil membuat ruang gerak aktor sangat kecil dan bebas dalam bermain. Dialek yang digunakan pada pertunjukan ini berubah-ubah dan tidak konsisten pada suatu dialek saja. Hal itu membuat penonton bingung akan apa latar budaya yang dipakai sutradara dalam pertunjukan ini. Walaupun sebenarnya begitu jelas sutradara menggambarkan pertunjukan ini berlatarkan Jawa sebagai penonton awam akan kebingungan saat menonton pertunjukan ini.

 

Dalam pertunjukan ini, kita dapat belajar bahwa perlu diperhatikan untuk menggarap sebuah pertunjukan, boleh mencoba hal baru tetapi perlu mengingat resiko besar yang diterima. Inovasi yang ditampilkan sutradara bisa dicontoh dan dijadikan motivasi dalam berkarya supaya pertunjukan yang diciptakan lebih menarik dan enak untuk ditonton.


Iven pestarama#7 ini merupakan wadah bagi masyarakat kampus UIN Jakarta untuk berkarya lewat kesenian terkhusus seni teater dan menggali potensi mahasiswa dalam berkesenian. Mudah mudahan iven tahunan ini akan terus berlanjut dan melahirkan banyak seniman tidak hanya dari sekolah seni saja. Sekolah non seni, seperti UIN Jakarta juga bisa melahirkan seniman-seniman. 

Ads