Catatan Rudolf Puspa: Pesan Natal 2021 -->
close
Pojok Seni
25 December 2021, 12/25/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-12-25T00:00:00Z
NarasiUlasan

Catatan Rudolf Puspa: Pesan Natal 2021

Advertisement
terbang menggapai angkasa

Natal tiap tahun sekali diperingati sebagai tanda ingat ke masa lampau dimana pernah ada seorang manusia dilahirkan ke bumi ciptaanNya yang selanjutnya kita kenal dengan nama Jesus. Kisah yang kemudian sudah banyak dikenal bahwa ia dilahirkan oleh seorang wanita tanpa memiliki suami. Tentu ini merupakan sebuah mujizat yang pada zamannya bisa dipahami karena memang memerlukan adanya “mujizat” untuk menjadi tanda peringatan adanya nilai baru yang sangat berarti bagi perjalanan hidup dan kehidupan manusia.


Bagi umatNya seharusnya menghormati apapun yang merupakan karya seniman yang maha besar tanpa ada tandingannya. Tentu hal itu bisa terjadi bila memang benar dihati memiliki kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa.Apapun ciptaanNya tentu memiliki arti bagi rentetan perjalanan sejarah manusia yang menurut ilmu sudah berumur jutaan tahun. Dari manusia primitif hingga yang secanggih tahun 2021 ini pastilah dipahami ada jenjang perubahan dalam hal tingkat intelektualitas serta kecerdasannya.


Terlepas dari semua hal tersebut kisah “kelahiran” adalah kisah yang patut dijadikan renungan karena “kelahiran” apapun tidak akan sia-sia. Baik buruk sebuah kelahiran mau tidak mau ada campur tangan yang melahirkan yang sudah meramu sejak masih dalam kandungan. Tentu masing2 ibu punya cerita yang punya nilai masing2nya. Tak terkecuali kelahiran Jesus yang juga memilikinya. Cerita tentang kelahiran di sebuah kandang domba lalu harus bersembunyi dengan berpindah2 tempat menghindari serdadu raja Herodes yang diperintahkan mencari bayi lelaki yang baru lahir untuk dibunuh. Herodes percaya pada sabda dan ramalan “dukun” yang mendapat wangsit akan lahir calon raja diraja yang akan menguasai bumi seisinya. Namun lagi-lagi keberhasilan sang bayi membesar hingga berumur 33 tahun itu pada zamannya bisa disebut “mujizat”. 


Tiap merayakan hari lahir siapapun akan diiringi pesta yang berusaha meriah walau dalam hidup sederhana. Meriah dalam hati yang gembira menyambut beramai ramai. Pesta peringatan kelahiran akan mengingatkan bahwa umur bertambah namun kesempatan hidup makin berkurang dan ini menjadi rahasia yang Maha Kuasa tentunya dalam menentukan umur seseorang. Namun sering warta gembira yang dibawa “kelahiran” dalam arti yang lebih luas oleh sebagian orang justru dikawatirkan akan mengganggu kehidupannya. Terlebih bila menyangkut kedudukan, jabatan yang manusia sering lupa bahwa semua itu ada batas umurnya. Akhirnya yang terjadi adalah usaha bahkan dengan cara yang negatif hanya untuk melanggengkan kedudukannya.  Di bagian lain yang juga berusaha mendapatkan kursi dengan cara apapun bahkan yang paling menghina keyakinannya sendiri. 


Melalui pesta peringatan kelahiran merupakan kesempatan terbaik untuk merenung atau melihat kembali sejarah yang sudah dilalui. Bertanya pada diri sendiri apakah yang didapat kini entah berupa materi, kekuasaan, jabatan, gelar adalah hasil kerja yang bernilai kebaikan atau keburukkan. Sangat diperlukan keberanian untuk melihat denga mata hati yang bening yang bisa menyuarakan apa yang sering digembar gemborkan sebagai kebenaran. Jika sudah mampu menjawab secara jujur “ada” nya diri maka akan menjadi mudah untuk jujur menerima kelahiran yang lain. Bagaimanapun diperlukan diri yang bersih terdahulu baru layak untuk melihat dan melalui kasih ikut membersihkan kotoran yang hinggap pada orang lain.


Sebuah bangsa akan hidup tenteram hingga mencapai kesejahteraan bersama ketika mampu saling menerima adanya orang lain. Bangsa Indonesia memiliki keunikan tersendiri yakni adanya keberagaman disegala bidang. Ini sebuah anugerah besar sebagai batu asah untuk melenggang mengarungi lautan kehidupan yang luas warna warni sebagai bangsa yang memang mampu menerima anugerah tersebut. Negeri yang mendekati umur 100 tahun pada tahun 2045 di abad teknologi dan ekonomi begitu pesat kemajuannya sehingga sering lupa pada kekuatan ekologi yang juga memerlukan rangkulan persahabatan sehingga justru saling menguntungkan. Beda adat, religi, budaya, etnis, intelektualitas adalah sebuah kekutan keberagaman atau istilah kerennya multikultural. Kita harus berterima kasih kepada para pendahulu yang sudah berhasil merebut kemerdekaan  dengan korban yang jumlahnya jutaan manusia, kehancuran rumah2 penduduk, perampasan kekayaan alam beratus tahun dan yang paling mengerikan adalah perusakkan moral yang justru ada pada para pejabat yang berada dilingkungan kekuasaan penjajah. Hanya dengan gelontoran materi yang sebenarnya dikeruk dari bumi kita sendiri mereka lupa daratan, lautan yang adalah milik kita yang justru harus dirawat untuk sebesar2nya kemakmuran bangsa sendiri.


Pesan Natal tahun ini yang terasa sangat penting adalah mengingat kembali bahwa rusaknya moral bangsa karena adanya senjata yang dibawa penjajah yakni “devide et impera”. Jika hingga hari ini masih saja terjadi tentu peringatan Bung Karno perlu kita dengar kembali bahwa bangsa ini akan menghadapi musuh paling sulit yakni sesama bangsa sendiri. Dan beberapa tahun ini kita merasakan bahwa “devide et impera” masih subur digunakan terutama dalam meraih kekuasaan. Lebih mengerikan karena tidak peduli menggunakan dalil2 religi yang seharusnya untuk kebaikan hidup bersama.


Sebuah kelahiran tentu saja bebas mau dirayakan atau tidak. Demikian pula mau ucapkan selamat atau tidak juga sebuah kebebasan. Namun dalam kejujuran hati perlu belajar menerima adanya kelahiran. Selanjutnya jika berkenan menghormati atau menghargai keberadaannya karena memang nyata ada. Kesadaran ini akan menjaga diri masing2 agar tidak terjadi perpecahan sebagai satu bangsa merdeka dengan kekayaan terbesarnya yakni “keberagaman”. Tuhan adalah pengasih yang paling maha; maka tirulah hal baik ini sehingga tidak menjadi sebuah bangsa yang terbelah-belah oleh aturan2 yang dibuat manusia. Perlu keyakinan yang kuat bahwa dalam menciptakan kehidupan tentu sang Pencipta tak berkehendak memecah belah. 


Terompet malaekat telah bernyanyi merdu membangunkan pikiran dan hati yang lelap tidur untuk bersama bergandeng hati sambut tebaran kasihNya yang tak pernah berhenti membelai lembut manusia untuk mencapai damai hingga ke alam keabadian yang telah dijanjikan.


Salam jabat kasih Natal.


Duren seribu Bojongsari Depok.

24 Desember 2021.


Rudolf Puspa adalah pendiri dan sutradara Teater Keliling Jakarta. Untuk menghubungi beliau, Anda bisa mengirim pesan ke email [email protected]