Apa Itu Bunuh Diri Filosofis? Dan Kenapa Itu Menjadi "Pilihan Favorit" -->
close
Adhyra Irianto
26 December 2021, 12/26/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-12-26T13:33:55Z
ArtikelBerita

Apa Itu Bunuh Diri Filosofis? Dan Kenapa Itu Menjadi "Pilihan Favorit"

Advertisement
Bunuh diri filosofis


pojokseni.com - Bunuh diri filosofis (philosopical suicide) muncul sebagai salah satu dari tiga kemungkinan solusi yang diambil manusia untuk menghadapi kehidupan yang absurd. Tentunya, bicara tentang bunuh diri filosofis, mau tidak mau kita akan kembali mengulang pembicaraan tentang "absurd". 


Pembicaraan tentang absurd sudah cukup banyak ditulis di PojokSeni. Setidaknya, beberapa artikel terkait "Absurd" bisa dibaca di link ini: "Artikel tentang Absurd di PojokSeni".


Bunuh diri filosofis, singkatnya adalah upaya (yang tak direncanakan) manusia untuk mendapatkan kejelasan tentang makna atau nilai hidupnya. Makna dan nilai tersebut tentunya inheren dengan kenyataan bahwa hidup ini memang tak bermakna juga tak bernilai. Setidaknya, itu yang diungkapkan oleh Albert Camus.


Ada inkonsistensi antara keinginan manusia dalam tujuan eksistensialnya, namun hidupnya berisi untuk bertahan hidup saja. Itu berarti, keinginan dengan apa yang dilakukan tidak sejalan. Agar terkesan "berjalan" maka manusia mengambil sebuah langkah yang kemudian disebut bunuh diri filosofis tersebut.


Apa saja itu? Yah, baik gagasan spiritual, religius, sampai transendental yang diambil untuk menjelaskan inkonsistensi menghadapi kehidupan, menurut Camus, adalah bunuh diri filosofis. Penulis juga sering menggunakan istilah "lompatan iman untuk berlari dari ketidaktahuan dan inkonsistensi" sebagai "kata ganti" dari bunuh diri filosofis. 


Bunuh diri filosofis mungkin terkesan lebih rumit, dibanding "menerima yang absurd". Bunuh diri filosofis juga terkesan lebih ribet penjelasannya ketimbang "bunuh diri secara fisik". Bila bunuh diri secara fisik adalah kegiatan mengakhiri hidup sebab sudah tidak mampu lagi mengakomodasi keinginan untuk hidup, ditolak oleh Camus karena "pengecut". Meski sebenarnya, saya melihatnya sebagai "penolakan karena pilihan ini tidak akan menyelesaikan masalah apapun."


Tapi bunuh diri filosofis, justru digambarkan karena manusia selalu percaya ada makna, nilai, dan sebagainya yang ada di dunia ini, namun tak bisa dilihat atau diraba (diakses) dengan pemikiran rasional. Camus sendiri sering menyebut nama Kierkegaard sebagai "contoh" seseorang yang memilih opsi bunuh diri filosofis.


Bagi Camus, ketika Sisyphus telah menyadari keberadaan dan absurditas kondisinya, justru Sisyphus berbahagia, puas dan merasa bebas. Meski demikian, ada banyak pandangan alternatif terhadap Sisyphus yang hadir setelah itu.


Bunuh Diri Filosofis dianggap Pilihan Terbaik


Bila melihat dan menelaah realitas sosiokultural di sekeliling kita, maka kita harus mengakui bahwa bunuh diri filosofis adalah pilihan terbaik bagi banyak pihak. Bahkan, pihak-pihak tersebut justru mengklaim bahwa pilihan itu merupakan pilihan yang terbaik dari tiga opsi yang disebut Camus.


Kenapa seperti itu? Alasannya adalah, sifat manusia yang paling disukai ialah mencintai kebohongan yang indah (beautiful lie) ketimbang kebenaran yang pahit. Bagaimana di negeri kita? Sepertinya kondisinya sama, ditambah (atau diperparah) dengan keinginan mendambakan jawaban namun pilihan yang suka yang sederhana dan lebih mudah dicerna oleh pikirannya.


Dampaknya ialah, kebanyakan orang mengalami delusi bahwa mereka ialah kaum yang paling istimewa, kaum yang paling unik, paling terpilih, paling beruntung, dan seterusnya. Tanpa mereka sadari sepenuhnya, bahwa ada tangga sosial yang mereka ciptakan sendiri, dan meletakkan posisinya di tempat yang terbaik.


Sebaiknya, kita mengasumsikan atau mungkin mempostulasikan bahwa kita adalah orang-orang yang mesti menerima keadaan, serta memiliki tanggung jawab yang sama. Kita mesti mengetahui bahwa memperjuangkan kesamaan, kebebasan sejati, kebebasan intelektual, dan sebagainya adalah tanggung jawab dari semua orang. Namun, proses memperoleh pengetahuan saat ini berubah menjadi sebuah "kerja komersial", sehingga kebanyakan orang berpikir semakin tinggi ia sekolah, maka seharusnya semakin tinggi pula penghasilannya.


Memiliki banyak ilmu, berarti harus memiliki banyak uang. Itu terminologi yang digunakan saat ini. Bila tidak seperti itu, maka berarti Anda berada dalam kondisi yang tidak ideal. Kacamata ekonomi seperti itu yang menjadi salah satu penyebab utama kenapa bunuh diri filosofis adalah (seakan-akan) menjadi jalan keluar satu-satunya. 


Menerima absurditas (opsi ketiga) dianggap sebagai pilihan yang konyol, karena manusia (dianggap) punya nilai yang lebih sebagai makhluk paling sempurna di muka bumi. Sedangkan opsi pertama, yakni bunuh diri (sesungguhnya) dianggap melawan dogma, khususnya dogma relijius. Maka, bunuh diri filosofis adalah pilihan yang terbaik di mata banyak orang.