Ada "Tembok" Memisahkan Sekolah Seni dengan Ekosistem Teater di Indonesia? -->
close
Pojok Seni
27 December 2021, 12/27/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-12-27T00:00:00Z
ArtikelSeni

Ada "Tembok" Memisahkan Sekolah Seni dengan Ekosistem Teater di Indonesia?

Advertisement
Tembok yang memisahkan

pojokseni.com - Menarik menyimak pemaparan Luna Kharisma, seorang alumnus jurusan teater angkatan pertama di ISI Surakarta dalam sebuah webinar bertajuk "Yang-Akademik Dalam Ekosistem Teater Indonesia". Dalam webinar yang digelar oleh Penastri pada hari Jumat (24/12/2021) lalu itu, Luna mengatakan bahwa ada tembok besar yang menghalangi sekaligus memisahkan antara ekosistem seni di Indonesia, dengan sekolah-sekolah tingi kesenian yang notabene diproyeksi sebagai "kawah candradimuka" lahirnya seniman-seniman berkualitas di Indonesia.


Tembok yang dimaksud membuat dua kondisi yang menyulitkan perkembangan ekosistem seni teater, yakni:


  • Ketidakpercayaan publik terhadap perguruan tinggi seni
  • Sedikitnya akademisi jebolan perguruan tinggi seni yang ingin menerjunkan dirinya ke tengah-tengah masyarakat.


Menurut Luna, publik menganggap bahwa mahasiswa yang kuliah jurusan teater justru karena "tersesat". Hal itu yang mengurangi kepercayaan publik, termasuk publik seni terhadap akademisi jebolan perguruan tinggi tersebut. Jadi, Luna menawarkan gagasan bahwa perkembangan pertukaran dan pembelajaran pengetahuan dan praktik seni teater di balik "tembok" perguruan tinggi seni, dan perlunya adanya tautan dengan ekosistem teater secara lebih luas.


Tembok Perguruan Tinggi Kesenian


Setidaknya ada ISI, ISBI, atau di Jakarta IKJ, sampai universitas umum yang juga membuka jurusan teater. Tentunya, semuanya bisa menelurkan akademisi seni (atau seniman 'akademik') mulai dari pencipta, pengkarya, hingga pengkaji, kritikus, dan seterusnya. Namun, bagi Luna, tembok perguruan tinggi seni tersebut masih terlalu tebal dan tinggi.


Istilah tersebut, menurut Luna, justru didengarnya dari para seniman di luar kampus untuk menyebut tempat mereka belajar. Maka hal tersebut membuat Luna berpendapat bahwa ada batas yang sinis dan tegas memisahkan mereka (seniman yang belajar di sekolah tinggi seni) dengan seniman lain (di luar kampus). Pengetahuan yang dimiliki oleh akademisi seni adalah milik mereka sendiri. Sedangkan pengetahuan yang dimiliki oleh praktisi seni di luar kampus, juga milik mereka sendiri. Keduanya terpisah sekat yang kemudian di sebut "tembok" tersebut.


Di balik "tembok", mahasiswa ditata dan disiplin dengan berbagai teori, estetika, sistematika, hingga birokrasi yang menjadikannya begitu mapan dan terstruktur. Tapi, para mahasiswa tidak melihat apa keriuhan yang terjadi di luar tembok. Mahasiswa teater tidak dipersiapkan untuk melihat kemungkinan dunia di luar tembok, baik gagasan, wacana, jejaring, sampai hal yang paling penting dan sangat dibutuhkan, yakni masalah ekonomi.


Ketika di balik tembok, mahasiswa akan selalu mempersiapkan karya (baik setiap semester, hingga ujian akhir) dengan modal yang cukup besar. Ketika lulus, maka seniman muda tersebut akan "ditagih" karya monumentalnya, dengan kondisi yang "pas-pasan". Ada grup dan tokoh-tokoh teater yang mempertanyakan mana karya mereka dan tidak begitu saja bisa "ditaklukkan" oleh seniman berusia muda. Seniman muda tersebut dihadapkan oleh pilihan; bergabung dengan grup atau tokoh yang sudah "mapan" di mata ekosistem teater, atau berjuang sendiri/dengan teman-teman sesama alumnus.


Pilihan pertama tentunya sulit diambil mahasiswa seni dengan berbagai alasan ideologis. Pilihan kedua berpotensi membuat mereka tidak punya ruang yang  luas untuk mengembangkan diri dan terus menghasilkan karya baru. 


Apa hasilnya? Sudah ditebak. Bahwa teater kemudian menjadi medan yang sangat sulit ntuk digeluti, sehingga banyak seniman muda yang banting stir ke bidang lain setelah lulus. Teater yang tampak asing sejak awal, menjadi jauh lebih asing ketika mereka sudah lulus. Bahkan, membicarakan teater saja sudah bukan sebuah urgensi lagi berikutnya. Hingga teater terus kehilangan penerusnya, ruang-ruang terus tertutup, diperparah lagi dengan kondisi pandemi yang membuat panggung semakin sepi.


Membocorkan Tembok?


Meski Benny Johanes (Benjon) sempat menyebut bahwa salah satu cara terbaik dengan "meruntuhkan" tembok tersebut. Namun, Luna justru berpendapat bahwa tembok tersebut jangan sampai runtuh. Sebaiknya, "dibocorkan" saja. Mungkin tujuannya, agar seniman di kampus dan di luar kampus bisa saling mengintip, agar bias saling bertaut.


Teater merupakan media untuk terus bisa mengurai persoalan di dalam diri, maupun di sekitar diri seniman. Karena itu, teater menjadi ruang pertemuan antar wacana, antar pengetahuan, dan informasi tentang fenomena sosial. Hal itu yang bisa menjadi lintasan atau tautan antar seniman "dari balik tembok" dengan seniman "di luar tembok".


Seniman akademik dan non akademis mesti saling bertaut, berkolaborasi, meleburkan jarak, saling terkoneksi, dan bertukar pikiran sehingga batas yang tegas dan sinis tersebut perlahan menghilang. Teater juga tidak lagi melihat hanya pada sutradara dan aktor, tapi ke ruang-ruang lain. Mulai dari pimpinan produksi, pencatatan, riset, kritik, inventarisir, dan sebagainya. Semuanya sama pentingnya dalam sebuah ekosistem teater yang berkelanjutan.


Dengan demikian, muncul sebuah ekosistem yang baik. Ada grup seniman baik pekerja artistik hingga pekerja produksi, juga ada pengkaji (kritikus, riset, dan seterusnya), juga ada tata kelola kelompok yang baik, ada pertautan kerja antara berbagai elemen, ada juga penonton (publik), dan terakhir ada dukungan dari pemerintah setempat.


Semuanya bermula dari membocorkan, atau kalau bisa meruntuhkan tembok tersebut. Karena publik seni pada akhirnya hanya akan melihat sebuah karya, terlepas siapapun pengkaryanya. Harus ada tautan antara seniman dari dua sisi tembok tersebut, baik di dalam maupun di luar. Pertanyaannya, siapa yang akan memulai? Dan, kapan itu akan terjadi?