Sesembahan Natura -->
close
Adhyra Irianto
11 November 2021, 11/11/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-11-11T00:00:00Z
ArtikelNarasi

Sesembahan Natura

Advertisement
Sembah


Oleh: Prof. Yusmar Yusuf


Realitas primitif itu berkait dengan alam besar. Untuk menjinak alam besar, manusia menyusun sejumlah fetisisme (semacam azimat) yang melekat pada tubuh. Istilah fetis berasal dari bahasa Portugis feitico, kemudian diadopsi bahasa Inggris kuno dengan sebutan fetys. Secara harfiah, fetis itu bermakna “buatan”,  yang “dibuat”, sesuatu yang dibuat menjadi semacam azimat atau jimat yang dikenakan pada tubuh manusia. Sebagai jimat, para pelaut Portugis yang mengarungi samudera,   memakai fetis (jimat) yang melekat di tubuh, demi menjinakkan dewa-dewa laut yang melihat mereka selama perlintasan segara besar. Terutama terhadap dewa-dewa sesembahan orang pantai barat Afrika. 


Ihwal ini berlangsung sekitar abad ke-18. Fetisisme, pun menjadi bagian dari ibadah dalam tradisi Katholik Roma periode ini. Seorang peneliti agama, De Brosses dari Prancis mengaitkan fetisisme ini sebagai istilah untuk agama ras rendah. Lantas, kebingungan pun muncul, sebab istilah fetis juga pernah digunakan oleh Auguste Comte dan para penulis lain, yang berkaitan dengan bangsa-bangsa yang menyembah langit dan segala perkakas yang berada di langit.


Sejarah agama-agama primitif tak bisa dilepaskan dari orientasi langit dan makhluk tinggi yang diciptakan dalam pikiran manusia primitif yang bersemayam di atas langit. Jupiter itu sendiri adalah langit. Legenda Yunani kuno melekatkan nama matahari itu sebagai Helios,  dewi Selene sebagai dewi bulan. Di Cina, langit langsung disembah sampai saat ini. Sementara orang-orang Babel(onia) menyembah bintang. Mincopies memuja matahari sebagai dewa dermawan dan bulan sebagai dewa rendah. 


Bangsa Inca di benua merah menyeru sang Pencipta , Matahari dan Guntur. Demikian pula bagi bangsa Jerman kuno, Guntur adalah dewa agung. Orang Samoyede saban pagi sujud ke arah matahari seraya bergumam; “Kala Engkau bangun, kami jua bangun. Ketika Engkau rebah, kami pun rehat”. Api, bagi orang Ojibways adalah makhluk ilahi nan suci, dan kepadanya orang tak boleh berbuat sekehendak hati. Mengutip Lewis Campbell; “Eter langit dan angin adalah sayap yang tak kenal letih”. Inilah sederet sembahan alam besar yang dirayakan manusia kuno dan primitif di awal-awal peradaban.


Instink menyembah Yang Berkuasa itu turun mengarah ke alam kecil; sungai-sungai, laut, mata air, pohon, kebun, tanaman, buah-buahan, hewan dan batu. Pada fase ini, tanah Inggris dipenuhi sejumlah sumur-sumur suci. Sungai Nil, Gangga, Indus, Irawadi disebut dalam catatan peradaban manusia menjadi orientasi suci dan menentukan lanskap perkotaan dan pemukiman manusia kala itu, bahkan kini. Belum puas dengan alam kecil, manusia menurunkan lagi sembahan itu ke roh leluhur.


Inilah era suku dengan kantong-kantong pesukuan terpencil, dilanjut era kedatuan (chiefdom), juga melakukan pemujaan roh leluhur. Mereka berkeyakinan bahwa setelah mati, majelis roh itu masih tetap menyelenggarakan kehidupan di alam sana. Bahkan pada era ini, demi meletakkan roh pemimpin suku atau kepala rumah tangga (bapa) pada posisi mulia. Ketika kepala suku atau seorang lelaki berada, meninggal dunia, maka para pelayan harus dibunuh agar roh pelayan ini menjadi pengawal roh leluhur itu. Bahkan tak sedikit pula isteri secara sukarela ikut bersama (mencebur ke dalam api pembakaran) demi kesetiaan kepada sang suami dan menjaga roh tetua pemimpin kedatuan itu.   


Ihwal menyembah yang dilakukan manusia adalah sebuah respon atas zat nan kudus, nan tinggi dan nan agung. Saban detik menjadi pikiran manusia yang lemah. Manusia memposisikan dirinya sebagai tak berdaya di atas ayunan alam besar (makro), juga tak kuat berdepan dengan fenomena serba tak terduga dari alam kecil seperti luapan banjir, gempa, tsunami, gelombang pasang, kekeringan atau kemarau panjang, gangguan hewan buas dan hama tanaman. Peralihan orientasi sembahan ini secara antropologi, tetap dalam pandangan keselamatan bagi manusia. Akunya adalah manusia. Manusia memposisikan egonya sebagai orientasi alam. 


Keselamatan ego menjadi perihal utama dan pertama. Segala sesuatu diukur berdasarkan parameter keselamatan dirinya (ego)  di tengah kepungan alam raya yang maha luas dan tak terduga. Agama awal muncul tersebab rasa takjub dan rasa ingin dinaungi oleh sebuah kekuatan prima yang mampu melindungi keberlanjutan hidup dan warisan manusia dalam bentuk pemikiran dan perkakas fisikal (ragawi);  bangunan, irigasi, alat berburu-meramu, instrumen musik yang dihajatkan untuk merayu yang maha kuasa.  Semua ini berasal dari kaidah yang melekat pada diri manusia yang kemudian disebut sebagai “tangkal”, azimat, jisim, wafak atau yang lebih populer: jimat.


Agama awal terlahir dari jimat yang melekat pada tubuh. Agama yang dimaksud adalah sesuatu yang taksub atas kekuasaan maha tinggi dan maha besar. Bukan agama dalam makna langit dan wahyu. Agama dalam kajian antropologi, merupakan suatu sistem penyelamatan diri dalam interaksinya dengan kekuasaan yang maha tinggi. Dan, azimat atau fetis itu diperluas posisinya. Tak hanya melekat pada tubuh, akan tetapi memasuki ruang lebih luas. Misalnya di atas palang pintu sebelah dalam. Pun, di sebelah dinding luar rumah. Ihwal ini masih bergelung dalam kehidupan harian suku-suku terasing dan terpencil. Lalu, era modern perkotaan, bentuk-bentuk ekspresi jimat ini pun muncul dalam ragam varian. Kerap  dikaitkan dengan fenomena sinkretisme kepercayaan: Masyarakat yang menjadi pendukung suatu agama, masih berada pada fase transisional. Sebelah kakinya menghayat agama tauhid, namun sebelah kakinya yang lain masih terantai dengan kepercayaan lokal (leluhur), sehingga terjadi tarik menarik antara kaki masa kini dan kaki masa lalu (serba lokal).

 

Jimat, bisa berbentuk serba ragam;  bak makhluk khayali, animasi,  bentuk non-manekin, wujud  imajinal, bahkan bisa tanpa bentuk. Ketika azimat   dianggap tak mampu melindungi dan tak memenuhi kehendak, tak sedikit pula manusia  menumpahkan sumpah seranah lewat kata-kata zalim dan amarah. Bahkan seseorang bisa memukul secara keras terhadap jimat itu, dengan maksud agar dia melayani kehendak manusia yang menciptakannya lebih baik dan lebih purna di hari-hari mendatang. Kita telah meninggalkan fase-fase ini. Perjalanan peradaban, tidaklah berjalan secara revolutif, namun selalu merangkak secara berayun-ayun. Membuai-buai...

Ads