Catatan Pamonaspati 2021: Balada Sumarah oleh Teater Matahari Kalimantan Selatan -->
close
Pojok Seni
11 November 2021, 11/11/2021 04:00:00 PM WIB
Terbaru 2021-11-11T09:00:00Z
Resensiteater

Catatan Pamonaspati 2021: Balada Sumarah oleh Teater Matahari Kalimantan Selatan

Advertisement

Oleh: Rudolf Puspa, Teater Keliling

Email: pusparudolf@gmail.com


“Balada Sumarah” karya Tentrem Lestari setelah minggu lalu dimainkan teater dari Sumatera Barat kini Kembali mengudara oleh Teater Matahari Kalimantan Selatan. Sutradara Edi Sutardi dengan aktris Rine Sundhari. Sebuah naskah yang baik akan banyak bisa memberi kekuatan daya tafsir yang berbeda beda bagi pemroduksinya.  Dari dua kelompok ini saja bisa dirasakan perbedaan yang cukup kuat. Salut kepada penulis naskah dan juga para sutradara dan aktrisnya. 


Edi Sutardi lebih memilih ruang kosong dengan hanya satu bangku ditengah ruang sebagai set prop bagi permainan aktrisnya. Sutradara kurasakan lebih ingin menyediakan ruang imajinasi bagi pemainnya untuk berkembang secara maksimal lewat alat expresi utama aktris yakni tubuh dan emosinya.Terasa sekali sangat kuat dalam mengarahkan emosi pemainnya untuk mengaduk-aduk perasaannya sehingga daya tafsir tentang penderitaan seorang wanita keturunan seorang ayah yang hilang setelah ditangkap dengan tuduhkan PKI. Sebuah cap yang bukan hanya menyengsarakan diri namun juga merembet ke keluarga dekatnya paling terutama yakni istri dan anak2nya. Dalam hal ini gambaran penderitaan Sumarah memang lebih tampak sedih hingga menyayat hati. Kesakitan yang sungguh mengaduk perasaan sehingga di depan dewan hakim di negeri Arab yang menjatuhkan hukuman mati karena membunuh majikannya ia berani minta waktu untuk menceritakan perjalanan hidup yang tidak ada sinar terangnya. Penggarapan daya tafsir sutradara yang ditumpahkan kepada aktrisnya untuk menjadikan sebuah sajian teater monolog yang tentunya tepat sesuai arahannya.


Rine Sundhari telah berlakon sesuai arahan sutradara. Aktris yang patuh terhadap sutradaranya yang dipercaya mengantar kehadirannya di panggung yang pasti penuh daya tarik.  Tiap aktris punya kelebihan dan kekurangan masing2 dalam usaha mendalami peran dan memainkannya. Sangat terasa betapa merasuknya penderitaan batin Sumarah yang diluapkan didepan  hakim yang memberi waktu tanpa ada interupsi sedikitpun. Penyampaian cerita latar belakang kesengsaraan yang diterimanya sepanjang hidup akibat ayahnya harus hilang karena tuduhan menjadi anggota ormas PKI. Sumarah tak mengenal bapaknya namun mewarisi nama yang baginya justru terus mengikuti hidupnya bagai hantu, sehingga mengakibatkan ia menjadi anak bangsa yang tidak punya hak bekerja walau hak pendidikan didapat selama 12 tahun dengan lulus nilai terbaik. Jika umumnya hakim hanya mau dengar hal2 yang berkaitan dengan perkara yang harus dinilainya maka Sumarah diberi waktu cerita yang secara bukti materi tak ada kaitan masalah hukum yang dijalani. Ini hakim tentunya layak di apresiasi walau hakim di negeri luar yang akan menjatuhkan hukuman mati sesuai tuntutan jaksa.


Penting untuk selalu menajamkan daya takar daya emosi agar mampu mengatur agar tidak terjadi kelebihan emosi. Secara nyata memang orang tertindas belasan tahun ketika mendapat ruang bebas berbicara maka akan meluap2 bagai demonstran yang tak peduli berhadapan dengan senjata yang tiap saat siap menghabisi nyawa. Bahkan mungkin bisa jadi hilang kesadarannya hingga pingsan. Rine Sundhari sampai ke emosi yang begitu dalam dan diangkat keluar habis2an hampir sepanjang cerita. Air mata mengalir hingga sering justru menjadi kendala ketika harus memainkan dua peran. Kedua peran menangis semua hanya beda yang tua lebih dibuat serak dan “ngeden” suaranya. Ini typist teknik acting banyak pemain2 di tanah air ketika berperan tua langsung serak dan suara ngeden seperti tersiksa.


Monolog adalah teater yang hanya dimainkan satu pemain. Jika memerlukan menghadirkan peran lain maka sang pemain satu2nya itulah yang harus mampu memainkan berganti2 peran. Dalam hal ini Rine perlu berlatih lagi bagaimana menggunakan teknik berganti peran dengan cepat sehingga tidak terasa lamban. Apalagi dua peran yang menurut tafsirannya sedang bersedih jadi tak ada perubahan “rasa”. Padahal besar kemungkinan kesedihan Sumarah dengan mbahnya sangat berbeda takaran emosinya. Mungkin saja dua2nya menangis hingga keluar air mata, tapi ada beda takarannya. Dalam hal inilah monologer memiliki kehebatan tersendiri yang harus dimiliki. Barangkali bagi aktris terasa nikmat dengan sedih berlebihan. Namun mesti diingat ini teater yang artinya tontonan.  Teater dibatasi oleh ruang dan waktu sehingga dua hal ini mesti dikuasai. Bahkan kadang lama atau cepatnya pertunjukkan bukan ukuran keberhasilan. Tapi ketepatan ukuran lama dan cepat itulah ukurannya sehingga penonton  merasa bosan atau terbawa arus karena pas dihatinya. Bahanyanya jika terlalu larut maka artikulasi bisa hilang termakan emosi tangis yang terlalu kuat. Padahal mungkin kata2 yang diucapkan  penting untuk didengar. Dalam teater ada istilah “ham acting” artinya kalau daging terlalu banyak lemaknya. Hidup sehat tentu menghindari makan lemak yang berlebihan. Melihat daging yang bersih segar tentu akan beda dibanding melihat lemak yang menggunung yang justru membuat wajah berkerut.  


Sumarah, siap dan pasrah adalah sikap yang disampaikan oleh penulis naskah. Keteguhan hati menghadapi kematian tentu menjadikan Sumarah tegar dalam kesedihan sebesar, seberat, semenyiksa yang dialami sejak kecil dan disadari ketika mencari kerja begitu susahnya kesandung warisan kehidupan bapaknya yang mengerikan. Apalagi Sumarah tengah hidup di zaman kekuasaan yang dikenal memiliki senjata psikologis yang ampuh yakni kata indah yang pedas “bahaya laten PKI”.  Dari dua Sumarah yang sudah aku saksikan memang ada perbedaan tafsir . Bila Sumarah Sumatera Barat terasa tegar  dan memberontak terhadap ketidak adilan hidup tanpa cucuran air mata meminta belas walau ada tangis batinnya; sebab ia menuntut keadilan walau dihadapan hakim ia tidak ucapkan namun siap menerima kematian. Sumarah Kalimantan selatan lebih mengendap-endap mengorek kekecewaan sepanjang hidupnya hingga keitik nadir sehingga tak tampak ketegaran didepan dewan hakim walau tetap mengucapkan kalimat2 akhir yang kuat pasrah karena memang ada di naskah dan harus diucapkan. Sumarah Sumbar dimainkan 12 menit 30 detik dan Kalsel 34 menit 30 detik. 


Peran tidak akan jatuh jauh dari pemainnya. Pepatah lama yang terngiang mengingatkan untuk menjawab pertanyaan kenapa pelakon sering beda walau memainkan peran yang sama. Melihat dua Sumarah ini merasuk ke benakku melihat dua latar budaya yang beda sehingga melahirkan karakter hidup sehari2 yang bisa beda. Tentu perlu penelitian lebih seksama untuk mengenal adat, budaya etnis Sumatera Barat dan Kalimantan selatan. Sejauh mana mempengaruhi pemeranan pemain teater setempat? Kadang bisa jadi pembenaran ungkapan seorang pakar kebudayaan yang mengatakan jika mau lihat adat, budaya hingga karakter bangsa lihatlah pertunjukkan keseniannya.  


Salam jabat kerja erat wahai teman2ku dari Kalimantan selatan. Ucap syukur khusus kepada seluruh pendukung pentas monolog Teater Matahari Kalimantan selatan yang telah memberikan warna yang pasti memiliki kwalitas yang membanggakan. 


Disetiap catatan yang aku tulis tak henti2nya aku ingatkan bahwa aktor harus selalu memulai mempelajari peran dengan menjawab pertanyaan “apa,siapa,mengapa,kapan,dimana dan bagaimana”. Dengan demikian kita bisa melihat dan merasakan secara utuh pemain dipanggung ini siapa sedang berada di mana dan kapan lalu apa sih yang sedang terjadi pada dirinya kemudian bagaimana menyampaikan. Mungkin di naskah tak ditulis umur berapa, tempat tinggal di mana, masih punya orang tua atau tidak, adik kakak atau masih bujangan, masih sekolah atau sudah kerja dan kerja apa, profesinya apa dan seterusnya seperti umumnya tiap kita punya catatan biografi. Jika di naskah tak ada maka aktor wajib mencari tau dan menetapkan sendiri.  Jika ada akan menjadi bahan sangat kuat yang sangat berguna bagi menunjukkan karakter sang peran.


Parade monolog merupakan pestanya para seniman teater di Indonesia untuk berkiprah dan menjadikan pijakan kuat untuk tinggal landas menuju teater Indonesia seutuhnya bukan hanya bagi sesama seniman namun bagi seluruh bangsa Indonesia. Syukurlah bila berhasil merangkul yang tadinya tidak tau teater jadi kenal dan merasa membutuhkannya. Jadi mari ingat selalu bahwa penonton adalah bagian dari kerja seniman teater. 


Selamat merdeka berkarya.


Jakarta 31 Agustus 2021