Catatan Pamonaspati 2021: Corona oleh Teater Halaman Rumah -->
close
Pojok Seni
10 November 2021, 11/10/2021 04:00:00 PM WIB
Terbaru 2021-11-10T09:00:00Z
Resensiteater

Catatan Pamonaspati 2021: Corona oleh Teater Halaman Rumah

Advertisement

Oleh: Rudolf Puspa

Email: pusparudolf@gmail.com


Tertulis di poster pentas monolog dari “Teater Halaman Rumah” Banyuwangi Jawa Timur. Judulnya adalah Corona adaptasi dari karya Putu Wijaya. Dimainkan oleh Rohmatullah dengan sutradara Ingkan Prio Manunggal.  Pertunjukkan monolog secara virtual hari ke 13 urutan ke 14 parade monolog nasional pelaku teater Indonesia.


Mohon maaf aku belum baca naskah asli karya Putu Wijaya dan kini menonton adaptasinya. Dugaanku yang mengadaptasi tentunya sang sutradara karena beliaulah yang boleh dikatakan yang punya gawe produksi “Teater Halaman rumah” yang aku hormati. Akan lebih bagus disebutkan nama adaptornya sehingga catatanku menjadi lebih jelas mengarah kepada siapa soal naskah “Corona”. Pengin tau apa judulnya memang aslinya Corona? Yang pasti sampai mengadaptasi naskah Putu berarti punya alasan kuat misalnya menjadi lebih jelas tentang pesan kemanusiaan bahwa harus disiplin menjalankan aturan pemerintah dalam menghadapi Corona. Jika demikian halnya maka pertunjukkan monolog ini dapat dipahami terang benderang. Didukung lewat penataan set rak buku, kursi dan beberapa bunga kaktus yang samar asli atau plastik dalam pot warna putih yang pasti plastik dan ada meja kecil didepannya untuk taruh semprotan air dan secangkir minuman yang tampaknya kosong. Penataan ini terkesan hanya simbolis untuk menunjukkan sebuah ruang, entah kamar tidur atau bukan karena ada tanaman bunga dan yang pasti dikatakan tempat isolasi mandiri.


Perjuangan seorang aktor Rohmatullah perlu di apresiasi dalam memainkan monolog Corona adaptasi dari Putu Wijaya. Tampak sekali aktor memiliki disiplin latihan yang baik sehingga garis2 arahan sutradara sangat baik dilaksanakan. Bermain dalam mindset teater panggung memang sudah tampak dikuasai sehingga tertata rapi dan ada kesadaran bahwa ditonton walau virtual. Ada usaha untuk berkomunikasi dengan penonton yang abstrak secara kasat mata pemain.


Sebagai aktor muda memainkan orang tua umur 73 tahun tentu membutuhkan perjuangan tersendiri karena tak mungkin punya perbendaharaan yang nyata dari pengalaman pribadinya. Bila sang aktor berumur 25 tahun saja perlu daya abstraksi yang berjarak 48 tahun dengan perannya. Dalam hal ini make up sering hanya menjadi garis2 tanda untuk mengatakan peran adalah sudah tua. Rambut kepala diberi warna putih yang kurang putih ketika dibuka kopiahnya maka rambut yang tertutup kopiah rupanya masih hitam. Bisa saja terjadi orang beruban hanya yang tidak tertutup kopiah atau jurus riasnya lupa dan pemain ikut arahan sutradara harus buka kopiah. Absurd tapi bisa mungkin terjadi dan jika sengaja begitu bisa jadi unik jika diberi tekanan khusus. Bongkok punggung atau pinggang tentu perlu ada pilihan agar konsisten memainkannya. Juga apa memang tuntutan naskah begitu? Kan umur 73 tahun masa kini tidak mesti bungkuk. Aku sudah 74 th dan tetap tegak nggak serak2 suara, jalan masih tidak tertatih tatih. Dalam monolog ini sang peran aku lihat masih mampu loncat naik kursinya. Jika bungkuk tanpa alasan maka artinya terjebak kebiasaan lama ketika aktor disuruh mainkan karakter tua langsung membungkuk, batuk2, serak dan ngeden bicaranya dan jalan tertatih2. Lupa kalau orang tua tidak mesti sakit kan? Otomatisasi yang sudah manarism.  


Latihan “olah rasa” menjadi sangat penting karena kekuatan utama memainkan karakter peran adalah perasaannya, emosinya. Bisa saja melakukan acting fisik bahwa sedang menangis, sedang tertawa, sedang sedih, sedang marah namun semua dilakukan sekedar tanda saja, bukan memiliki “rasa”. Banyak cara melatih kemampuan memainkan rasa peran. Salah satunya obeservasi. Perbanyak melihat secara teliti macam2 orang tua yang ada disekitar kehidupan sehari2 aktor.  Awalnya menirukan bentuk lahirnya dan kemudian lanjut dengan berusaha merasakan apa yang dirasakan para orang tua tersebut. Alangkah menguntungkan jika ketemu orang tua yang suasana kebatinannya, fisiknya mirip dengan peran yang sedang akan dimainkan. Ikuti saja terus orang itu dan sering dialog dengannya.


Ilustrasi musik lebih menonjol dibanding aktornya. Sering karena ambil rekaman jadi yang memang sudah merupakan karya yang bagus sehingga kurang tepat untuk mengikuti permainan sang aktor. Sutradara perlu menguasai kemampuan aktor dan kemudian mencari musik pendukung yang selaras dengan aktornya. Kadang jauh lebih tepat bila menggunakan life music. Pemain musiknya dengan sang aktor bisa diarahkan sang sutradara dan dengan latihan bersama yang cukup waktunya pastilah menghasilkan kerjasama pemusik dengan aktor yang baik. Perasaan, emosi pemusik akan satu nafas dengan aktonya. 


Jika mengingat drama2 karya Putu yang sering intinya sebuah “teror” baik lewat kata, gerak, bloking, musik, set, tata cahaya tentunya perlu penyiapan yang lebih teliti. Teror yang menurutku berbahasa positif bukan menyakitkan sehingga marah2pun terasa sebagai sebuah peringatan yang membangun kesadaran berbuat kebajikan. Untuk kesekian kalinya lewat monolog2 hingga hari ini kudengar kata “gotong royong”  muncul. Sebuah tamparan besar yang terasa mengingat gotong royong hilang perlahan2 dalam hidup sehari2 kita di  era 1966-1998. Jika sejak tahun 1914   ini mulai terdengar sayup2 hingga menguat betapa eloknya teman2 seniman yang sudah dan sedang berusaha mengingatkan.  Nilai-nilai lima sila mengalir kesetiap aliran darah bangsa yang mendidih oleh semangat gotong royong. Kita genggam trisakti bapak proklamasi kemerdekaan bangsa menjadi senjata ampuh menuntaskan segala bentuk penjajahan dimuka bumi. Merdeka berkarya teman. 


Sangat berbahagia bertemu teman2 Banyuwangi yang beberapa kali teater keliling pernah hadir dan pentas. Teater terbuka Blambangan sungguh memilki sejarah yang tak pernah terlupakan bagi kami. Jika masih ada rindu sekali kembali manggung di sana. Kali ini datang untuk berkolaborasi dengan teman2 di Banyuwangi sehingga lebih terasa kebersamaan sebagai sesama pelaku teater Indonesia. Salam jabat kreatif kawan2.


Disetiap catatan yang aku tulis tak henti2nya aku ingatkan bahwa aktor harus selalu memulai mempelajari peran dengan menjawab pertanyaan “apa,siapa,mengapa,kapan,dimana dan bagaimana”. Dengan demikian kita bisa melihat dan merasakan secara utuh pemain dipanggung ini siapa sedang berada di mana dan kapan lalu apa sih yang sedang terjadi pada dirinya kemudian bagaimana menyampaikan. Mungkin di naskah tak ditulis umur berapa, tempat tinggal di mana, masih punya orang tua atau tidak, adik kakak atau masih bujangan, masih sekolah atau sudah kerja dan kerja apa, profesinya apa dan seterusnya seperti umumnya tiap kita punya catatan biografi. Jika di naskah tak ada maka aktor wajib mencari tau dan menetapkan sendiri.  Jika ada akan menjadi bahan sangat kuat yang sangat berguna bagi menunjukkan karakter sang peran.


Parade monolog merupakan pestanya para seniman teater di Indonesia untuk berkiprah dan menjadikan pijakan kuat untuk tinggal landas menuju teater Indonesia seutuhnya bukan hanya bagi sesama seniman namun bagi seluruh bangsa Indonesia. Syukurlah bila berhasil merangkul yang tadinya tidak tau teater jadi kenal dan merasa membutuhkannya. Jadi mari ingat selalu bahwa penonton adalah bagian dari kerja seniman teater. 


Selamat merdeka berkarya.


Jakarta 30 Agustus 2021