Catatan Pamonaspati 2021: Perempuan Dalam Mata oleh Teater Kinayungan Jawa Barat -->
close
Pojok Seni
20 November 2021, 11/20/2021 02:00:00 PM WIB
Terbaru 2021-11-20T07:00:00Z
Resensiteater

Catatan Pamonaspati 2021: Perempuan Dalam Mata oleh Teater Kinayungan Jawa Barat

Advertisement


Oleh: Rudolf Puspa

Email: pusparudolf@gmail.com



Megah Ayu Cahayati sesuai namanya hadir dalam “kemegahan” seorang pembawa acara teater. Menyatu dengan peristiwa yang dibuka dan ditutup yakni pentas monolog. Malam ini 8 September 2021 melalui Youtube hadir Cinaya melakonkan karya dan sutradara Khonde Kinayungan berjudul “Perempuan dalam mata”. Produksi dari teater Kinayungan Jawa Barat.


Sesuai namanya pentas monolog yang hanya dilakukan satu orang, aktris Canaya memiliki daya pikat individualnya sehingga terasa kehangatan darahnya mengalir terukur. Expresi melalui wajah dan tubuhnya memiliki tatanan yang kuat terutama mata dan bibir. Pancaindera sangat penting dikuasai oleh seorang pelakon teater karena dari sanalah akan terasa ada kejujuran atau tidak. Kejujuran itulah yang membangun daya “rasa” seorang pelakon sehingga apa yang sering dikatakan bahwa hidup perlu satunya kata dan perbuatan menjadi nyata. 


Pengucapan kalimat2 dalam bahasa sunda dan Indonesia justru terasa merupakan satu kekuatan sang pelakon sehingga justru warna lokal menjadi kekuatan utama. Terasa Canaya menjadi pelakon yang mengenal budaya lokalnya yang terolah menjadi warna dasar penciptaan acting secara keseluruhan. Gerak tari Sunda, irama warna logat Sunda menjadi senjata andalan dalam pemeranannya dalam seni acting. Hilanglah teknik berdialog yang selalu menekan kuat dan naik pada suku kedua dari belakang tiap kata. Aku menemukan jawaban apa yang sering kutanyakan ini yakni manfaatkan logat bahasa daerah pelakon walau berbahasa nasional.  


Menyatunya gerak dengan alunan musik terasa saling mengikat. Jika ikatan tersebut dapat juga terwujud ketika Canaya berdialog pastilah semakin mendekati sempurna daya pikat pemeranannya. Memang menyatukan irama berdialog dengan diiringi musik tidak mudah. Namun pelakon teater dituntut untuk mampu dobel konsentrasi yakni pada suara musik dan juga suasana batiniahnya. Yang satu datang dari luar dan yang satu dari dalam dirinya. Dengan demikian akan terwujud kecepatan dalam merubah tiga tokoh yang dimainkan sendiri. Dan itulah kehebatan seorang monologer. Sudah bagus menggunakan selendang sebagai alat bantu untuk berubah karakter. Hanya perlu penggarapan tempo perubahan yang cepat.  Bravo Canaya; anda telah memberikan sajian yang meyakinkan aku bahwa Indonesia punya aktris teater dan perlu terus menerus diberikan ruang berkarya.


Penggarapan sutradara dengan menghadirkan topeng2 tradisi lokal dimana bung Khonde kuasai, ditambah modifikasi wardrobe yang juga berdasar tradisi ditambah alunan musik daerah telah menjadikan tontonan teater modern tetap hadir dengan kekuatan yang telah ada dan hidup hari ini. Bukankah kebudayaan Indonesia adalah puncak kebudayaan daerah? Aku menjadi semakin paham apa yang telah digulirkan bapak proklamasi apa yang dikatakan berkepribadian dalam kebudayaan; salah satu dari Trisaktinya yang telah mewarnai perjalanan bangsa. 


Pengembaraan sang penulis dalam melihat perjalanan hidup wanita hingga jauh ke lubuk hati Kartini dan Citroresmi dapat menyadarkan betapa mulianya wanita Indonesia sejak zaman jauh sebelum kemerdekaan. Wanita ingin terlihat sebagai fitrahnya yang sering justru dikaburkan oleh tingkah lakunya sendiri. Perjuangan Kartini untuk keluar dari kungkungan adat budaya feodal sehingga sejajar dengan pria seharusnya kini di abad digital tidak lagi menjadi problem tanpa jawaban. Monolog karya Khonde sebenarnya menyadarkan kita atau setidaknya aku bahwa nyata tergambar betapa seorang Canaya adalah wanita yang berada dalam fitrahnya dan menjadi pandangan yang meyakinkan bahwa wanita Indonesia itu “ada” sebagai pribadi yang bukan hanya berada dibelakang panggung. Untuk itu Canaya masih perlu keyakinan diri pada fitrahnya sekaligus fitrah sang peran sehingga lebih terasa “gregetnya” atau lebih menggigit.


Canaya seorang diri muncul di panggung yang dibelakangnya para crew pendukung seperti penata cahaya yang bekerja bagus, penata artistik, para pemusik, kameramen dan teman2 lain yang jelas lebih banyak kaum pria. Kerjasama yang kuat dan itulah karya seni teater yang adalah hasil kerja kolektif. Dengan dikomandoi seorang sutradara tentulah segalanya menjadi teratur dalam mengekspresikan pesan moral yang terkandung dalam cerita. Sutradara perlu lebih kuat dalam mendengar suara bunyi orkestra dari alat2 musik sehingga bisa tetap berada dalam satu kesatuan dengan pelakonnya. Dengan demikian tidak akan terdengar kekuatan pendukung justru memakan yang didukung. Diperlukan latihan2 mengasah rasa saling dengar dan lihat dengan memberi ruang dan waktu berlatih adegan baik gerak maupun dialog secara improvisasi dengan pemusik. Bukan hanya pemusik yang menguasai alat2 musiknya namun sang pelakon juga mampu mengenal melalui daya dengarnya bunyi yang dihasilkan alat2 musik. 


Salah satu kekuatan teater tradisional dari daerah2 di seluruh Indonesia yang bukan hanya kaya air dan hutannya namun juga adat budaya keseniannya dapat dibaca bahwa umumnya teater rakyat kita merupakan satu kesatuan dari dialog, musik, tari. Sang pelakon tanpa disadari selalu dituntut mampu bicara, nyanyi, menari. Itulah kekuatan utama warna teater Indonesia yang perlu dikembangkan. Tidak masalah bila peralatan lama seperti gamelan kini menggunakan peralatan digital yang super modern yang sudah bisa mengeluarkan bunyi gamelan sehingga tak perlu bawa peralatan gamelan yang tidak sedikit namun cukup satu peralatan saja namun dapat menciptakan berbagai bunyi perangkat gamelan. Perlu terus dicoba, dikeruk, dianalisa dan dilakukan  kegiatan sadar budaya sendiri sehingga bangga dengan kebudayaan yang berkepribadian sendiri. Teater Kinayungan telah melakukan dan salut serta hormatku kepada anda semua.


Setiap catatan yang aku tulis tak henti2nya aku ingatkan bahwa aktor harus selalu memulai mempelajari peran dengan menjawab pertanyaan “apa,siapa,mengapa,kapan,dimana dan bagaimana”. Dengan demikian kita bisa melihat dan merasakan secara utuh pemain di panggung ini siapa sedang berada di mana dan kapan lalu apa sih yang sedang terjadi pada dirinya kemudian bagaimana menyampaikan. Mungkin di naskah tak ditulis umur berapa, tempat tinggal di mana, masih punya orang tua atau tidak, adik kakak atau masih bujangan, masih sekolah atau sudah kerja dan kerja apa, profesinya apa dan seterusnya seperti umumnya setiap kita punya catatan biografi. Jika di naskah tak ada maka aktor wajib mencari tau dan menetapkan sendiri.  Jika ada akan menjadi bahan sangat kuat yang sangat berguna bagi menunjukkan karakter sang peran.


Parade monolog merupakan pestanya para seniman teater di Indonesia untuk berkiprah dan menjadikan pijakan kuat untuk tinggal landas menuju teater Indonesia seutuhnya bukan hanya bagi sesama seniman namun bagi seluruh bangsa Indonesia. Syukurlah bila berhasil merangkul yang tadinya tidak tau teater jadi kenal dan merasa membutuhkannya. Jadi mari ingat selalu bahwa penonton adalah bagian dari kerja seniman teater. 


Selamat merdeka berkarya.


Padang 9 September  2021