Catatan Pamonaspati 2021: Perempuan dan Panci Nasi oleh Riau Beraksi -->
close
Pojok Seni
19 November 2021, 11/19/2021 02:00:00 PM WIB
Terbaru 2021-11-19T07:00:00Z
Resensiteater

Catatan Pamonaspati 2021: Perempuan dan Panci Nasi oleh Riau Beraksi

Advertisement


Oleh: Rudolf Puspa

Email: pusparudolf@gmail.com


Nurul Inayah menulis monolog “Perempuan dan panci nasi” dimainkan oleh Ika Elyzar dan sutradara Willy Fwi. Produksi teater Riau beraksi studio seni peran dari Pekanbaru. Turut merasakan kebahagiaan tersendiri seperti yang dirasakan kawan2 Riau beraksi yang selama 1,5 tahun harus bertapa dari “beraksi”nya.


Ada sebagian anak bangsa sering mengatakan suara rakyat adalah suara Tuhan; lalu membaca judul sebuah monolog “perempuan dan panci nasi” yang meneriakkan tentang hak bicara perempuan, aku jadi tersenyum penuh tanda tanya tentang suara perempuan adalah suara siapa ya? Perempuan sendiri atau perempuan pada umumnya?   Bukankah perempuan juga bagian dari rakyat? Jika pembawa acara pentas monolog yang kebetulan seorang wanita pasti ketika mengucapkan kalimat “luar biasa” akan jauh lebih dalam menyentuh nurani kewanitaannya merasa ikut tersuarakan hak bicaranya. Itupun jika merasa kehilangan hak bicara atau justru tidak tau kalau ada hak bicara atau memang tak pernah peduli walau tau atau tidak peduli karena tidak tau.


Nurul Inayah telah menyuarakan melalui karya tulisnya yang aku yakin memiliki segudang data yang valid sehingga wanita Indonesia (?) sedemikian kehilangan hak bicaranya sehingga untuk menuntut haknya tersebut sepertinya tidak ada ruang tersedia. Aku terus menelusuri perjalanan cerita si pasien rumah sakit jiwa yang kabur dan berada di sebuah café dan tiba2 berteriak dan selanjutnya berbicara lepas bebas. Yang aku ingin tau jawabnya adalah kenapa harus wanita yang tidak waras yang bercerita? Apa ini cara terbaik menghindari tuduhan merusak nama baik seorang politikus?  Karena orang tidak waras maka secara hukum akan terhindar dari tuduhan pencemaran nama baik tersebut. 


Salah satu kekuatan seni adalah apa yang sering kita dengar istilah surealisme. Kritik yang tajam akan terbungkus indah dengan melepaskan imaji untuk mengembara bebas. Kejadian Dahlan dengan wanita yang terbuai oleh janji2 politik untuk mensejahterakan bangsa hingga hamil adalah awal dari kekecewaan sang wanita. Selanjutnya “mimpi” surealistiknya mengembara pada gambaran betapa suram dan menyedihkan tentang dirinya yang  diusir   hingga melahirkan  dan pergi ke daerah pinggir yang sunyi; bahkan ketika ada kampanye capres ia tak peduli. Ketika ada kabar anaknya jatuh terinjak2 dan mati barulah ia marah dan ketika sang capres datang ke rumahnya ia makin memuncak amarahnya karena capres tersebut Dahlan. Cerita Pun berhenti karena ia ditangkap pegawai rumah sakit jiwa untuk dibawa kembali ke rumah sakit. Nurul Inayah melempar pertanyaan apakah encik2 dan tuan2 menyesal mendengar celotehan wanita ini?


Aku tertawa gembira mendengar pertanyaan Nurul. Inilah indahnya surealisme kehidupan. Coba kalau yang bicara bukan orang tidak waras? Aku banyak menulis pengembaraan otak dan perasaan surealistik yang ketika kubaca aku tertawa sendiri. Aku merasakan Nurul tentu juga sama yakni tidak menyesal. Sebab jika menyesal maka akan mengubah naskah ini menjadi cerita realistik dan perannya wanita waras. Pasti akan lebih menggebrak dengan logika2 kewarasannya. Namun tampaknya sang penulis lebih nikmat berada dalam mimpi indah sehingga tidak menyakitkan siapa2.  Namun percayalah suara perempuan tetap terdengar dan laki2 akan tergerus perasaannya sehingga “menyesal” jika telah menyengsarakan wanita apalagi yang sudah memberikan kenikmatan. Betapa kejamnya laki2 jahanam yang bernama Dahlan.


Tanpa melupakan kekuatan bung Willy sebagai sutradara yang telah menata ruang terbuka menjadi ruang pertunjukkan teater; aku berandai2 jika sutradara naskah ini seorang wanita mungkin akan lebih terasa sayatannya tentang hak bicara wanita. Akan sangat berbeda hasil olahan panggungnya karena wanita akan lebih banyak menggebrak lewat perasaannya sehingga bila memerlukan air mata maka akan begitu deras mengalirnya dan seluruh isi ruang akan menjadi lautan yang mengamuk memperjuangkan hak bicaranya. Pengunjung café yang bukan settingan seperti umumnya acara2 televisi barangkali akan lebih berani melepas emosinya dengan bebas terkena imbas emosi dari sang wanita yang sedang menderita karena kehormatannya dipecundangi politikus. Pengunjung café akan berubah bukan figuran pasif karena merasa menjadi bagian dari penderitaan wanita, terlebih pengunjung café lebih banyak wanita. Sayang pengunjung café di pentas ini lebih banyak tampak bingung karena mungkin tidak tau harus berbuat apa?


Ika Elyzar akan lebih terasa penderitaan batinnya jika lebih banyak observasi wanita yang berpengalaman hidup seperti peran yang dimainkan. Bagaimana rasanya merasa ditipu laki2 hingga tak sedikitpun bisa melawan? Bagaimana menyesalnya wanita yang berjilbab yang artinya menandakan wanita beriman seharusnya,  hingga bisa tertipu bahkan mau dengan mudahnya menyerahkan kekayaan di balik pakaiannya? Bagaimana perasaannya tetap bekerja di kantor partai yang teman2 kerjanya tau peristiwanya? Apa Dahlan itu politikus bujangan atau sudah berkeluarga sehingga takut menuntut pertanggungjawaban? Itu sebuah peristiwa batin yang benar2 memiliki kekuatan besar untuk mengerang, menggeram bahkan merusak jiwanya sehingga menjadi tidak waras. Pasti tangisnya akan benar2 menusuk perasaan siapapun yang mendengar; walaupun sedang tidak waras. 


Kadar kegilaan peran yang dimainkan Ika perlu dikenal seberapa kuatnya. Semakin kuat maka yang pertama hilang adalah daya komunikasi. Namun sebagai aktris harus memiliki daya komunikasi sehingga bisa mengkomunikasikan peran tidak waras ke penonton. Gaya bicara, gerak gesture, tubuh, pandangan mata akan spesifik bagi peran wanita tidak waras.  Itulah hal paling sulit ketika memerankan peran sakit jiwa. Ika Elyzar akan mampu mencapainya dengan banyak observasi yang dengan mudah dengan sering berkunjung ke rumah sakit jiwa. Hal ini perlu dilakukan jika pengalaman pribadi tidak dimiliki. Pesan mas Arifin C Noer kepadaku adalah “segala bisa asal mau”. Selamat berkarya aktris Ika dari Riau beraksi.


Masalah pengambilan gambar aku tidak punya keahlian untuk itu sehingga tak banyak bisa bicara tentang terjadinya banyak gambar goyang, cahaya gelap, terlambat merekam expresi sang pemain yang blokingnya pindah2. Aku hanya rasakan hal2 tersebut mengganggu kenikmatanku menonton. 


Setiap catatan yang aku tulis tak henti2nya aku ingatkan bahwa aktor harus selalu memulai mempelajari peran dengan menjawab pertanyaan “apa,siapa,mengapa,kapan,dimana dan bagaimana”. Dengan demikian kita bisa melihat dan merasakan secara utuh pemain di panggung ini siapa sedang berada di mana dan kapan lalu apa sih yang sedang terjadi pada dirinya kemudian bagaimana menyampaikan. Mungkin di naskah tak ditulis umur berapa, tempat tinggal di mana, masih punya orang tua atau tidak, adik kakak atau masih bujangan, masih sekolah atau sudah kerja dan kerja apa, profesinya apa dan seterusnya seperti umumnya tiap kita punya catatan biografi. Jika di naskah tak ada maka aktor wajib mencari tau dan menetapkan sendiri.  Jika ada akan menjadi bahan sangat kuat yang sangat berguna bagi menunjukkan karakter sang peran.


Parade monolog merupakan pestanya para seniman teater di Indonesia untuk berkiprah dan menjadikan pijakan kuat untuk tinggal landas menuju teater Indonesia seutuhnya bukan hanya bagi sesama seniman namun bagi seluruh bangsa Indonesia. Syukurlah bila berhasil merangkul yang tadinya tidak tau teater jadi kenal dan merasa membutuhkannya. Jadi mari ingat selalu bahwa penonton adalah bagian dari kerja seniman teater. 


Selamat merdeka berkarya.


Jakarta 8 September  2021.