Catatan Pamonaspati 2021: Lab Teater Bali -->
close
Pojok Seni
21 November 2021, 11/21/2021 02:00:00 PM WIB
Terbaru 2021-11-21T07:00:00Z
Resensiteater

Catatan Pamonaspati 2021: Lab Teater Bali

Advertisement



Oleh: Rudolf Puspa, Teater Keliling Jakarta


Monolog karya Putu Wijaya dimainkan oleh aktor Dewa Jayendra dan sutradara Kasu Wardana (Wayan Kasu) produksi Lab study teater Bali.


Si tua bangka tampak menjadi ironi kemerdekaan yang selama ini digembar gemborkan akan menghadirkan suatu rasa yang bebas, merdeka; namun bagi sang burung yang diberikan kemerdekaan justru menjadi ketakutan. Takut yang telah bertahun tahun segala keperluan hidup jasmaniahnya tersedia harus berada di udara bebas yang tiap saat muncul pemburu yang bisa membuatnya mati.


Disini sang tua bangka tetap berusaha memberikan kemerdekaan bahkan ketika cara halus gagal terpaksa menggunakan tangan besinya. Marah besar memukuli sarang burung dengan tongkatnya.  Apakah memang benar ada sebagian orang lebih memilih tidak merdeka? Aku jadi teringat cerita ironis di era orde baru seorang petani bertanya “kapan selesainya merdeka?” Namun cara pandang bisa berubah ketika justru yang menjadi hidup mewah seperti sang burung justru lebih memilih tidak merdeka. Burung2 beterbangan dan menebarkan “tai” yang mengenai sang tua bangka dan lemaslah tak memahami kenapa justru ia harus menerima “tai”.  


Sutradara bung Kasu Wardana menata panggung dengan apik sebagai cermin kehidupan rakyat jelata melata yang sangat alami menjalani kesehariannya. Wajah budaya hidup warga Bali pada umumnya yang mudah dikenali jika kita datang ke tanah Bali. Tinggal sedikit lebih diarahkan sang aktornya untuk menyadari arah sorot tata cahaya sehingga tidak sering kehilangan wajah bagi mata penonton. Penataan musik menjadikan suasana alam terbuka menjadi satu kesatuan dengan isinya, rumah, kayu2, pohon, sangkar burung dan sang pemainnya.  Musik bukan menjadi pengganggu dan ini salah satu bukti bagaimana pemain musik dengan aktor memang satu kesatuan. Ini yang sebenarnya dalam hidup sehari2 yang aku tangkap setiap datang ke Bali yakni telah menyatunya “seni dan agama”. Almarhum Netra sahabatku yang pertama kali mengatakan hal itu kepadaku. Tak ada dipermasahkan lagi atas laku sehari2nya yang selalu ingat untuk melaksanakan kewajiban relegiusnya. Tak ada laku yang selalu mengatakan keyakinannya adalah yang paling benar.


Ketika rasa sudah terbangun melalui adat budaya kehidupan sehari2nya yang mempersatukan kegiatan “seni dan agama” maka ketika mendapat ruang berksenian entah tari, teater, nyanyi, melukis, memahat maka peristiwa berkesenian bukan sesuatu yang diluar kebiasaan. Berangkat dari rumah ke panggung dan ke pura tak ada bedanya. Sama semangat yang membara dalam hati. Tampak hal ini ditunjukkan sang aktor Dewa Jayendra yang melepas bebas tanpa terkungkung oleh aturan2 atau teori pemanggungan. Jika dalam menata diri menjadi tua bangka yang beberapa kali disebutkan sang aktor tentu hal ini perlu ada penekanan lebih agar benar2 “rasa”tua bangka tersebut muncul. Dengan tongkatnya memukuli sangkar burung pasti lebih terasa keras dan tidak terkesan sekedar acting memukuli sangkar. Memang acting tidak selalu sungguh2 dilakukan secara natural namun tetap diperlukan kesan bahwa memang memukul dengan segala kekuatannya.  Demikian juga dalam tertawa yang diawal adegan cukup panjang tentu juga dituntut memang tawa muncul dari rasa tertawa. 


Ruang yang sempit barangkali membuat sang aktor terbatas dalam bloking2nya sehingga sering hanya mondar mandir seperti seterikaan yang hanya satu arah jalannya. Justru diruang sempit inilah aktor dituntut kreatif dalam memanfaatkan gerak dan bloking hingga jadi kaya warna. Kesadaran panggungnya tampak berusaha untuk tidak full back ketika bicara panjang dengan sang burung. Dewa Jayendra ambil posisi ¼ kearah sangkar. Baru full front ketika berbalik menjadi burung. Permainan yang tertata apik dalam membagi dirinya menjadi burung dan sang tua bangka. 


Dalam keadaan bloking yang tetap dengan sikap berdiri di panggung yang lazim maka kameramen sebaiknya bergerak sehingga bisa menangkap sang wajah aktor. Namun tampaknya sutradara ingin kamera hanya sebatas merekam pentas teater monolog ini. Padahal jika memang tetap mempertahankan teknik2 panggung maka tontonan seni panggung di Bali sebenarnya para penampil entah tari atau drama terbiasa selalu sadar penonton. Dengan mudah menyatu dan tak terjebak dengan teori2 teater yang mengatakan jangan memunggungi penonton misalnya. Walaupun tetap mengijinkan dengan motif yang kuat sehingga perlu melakukan hal tersebut. Sebaiknya Jayendra dan kawan2 di Bali tetaplah yakin pada kearifan teater lokal yang sudah mendunia lewat tarian dan juga drama gong atau sendratari.


Bagiku melihat monolog dari kawan2 lab study teater Bali merefresh kembali keyakinan bahwa Indonesia memiliki kekayaan seni teater yang kuat. Dua kebutuhan termaktup melalui kearifan lokal yang jika di Bali adalah menyatunya “seni dan agama” maka di kearifan lokal daerah lain pasti ada memiliki juga; yang mungkin tidak harus “seni dan agama”.  Aku semakin percaya bahwa teater Indonesia telah ada dan kaya warna lalu tinggal memetik dan mengolahnya seperti halnya budaya ngopi yang kini sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Tiap saat ungkapan “ngopi” menjadi satu pengucapan yang umum dalam menjawab berbagai peristiwa. Tak peduli pagi siang malam. Ngopi telah bebas dari kungkungan aturan atau waktu karena ia hidup bersama nafas bangsa. Tidak mengada ada bila kini berusaha menjadikan ungkapan “teater” atau “berteater” atau nonton teater atau apalah untuk menjadi satu salam keseharian sehingga teater memang sudah menyatu dengan bangsa Indonesia. Teater menjadi satu kebutuhan yang mengalir sepanjang hidup. Segala bisa jika justru para pelakon, pemuja, pekerja, pecinta teater yang memulai. Akhirnya teater akan menjadi milik seluruh bangsa Indonesia dan tak akan terdengar lagi keluhan yang hanya menyalahkan orang lain ketika tak bisa berlakon. Kalau Bali bisa kenapa yang lain tidak? Ada benarnya juga kata seorang penulis buku dengan judul menjadi bicara politik tanpa pernah belajar ilmu politik. Jika presiden telah menggaungkan untuk kembali kepada kuliner, pakaian asli yang telah ada ratusan tahun maka tak perlu harus menungguh perintah orang nomer satu untuk juga bergerak menggali potensi yang ada ditambang2 negeri tercinta Indonesia. Orang nomer satu itu juga tak bicara cinta kopi namun dengan kesadaran sendiri menemukan dan kini ternyata kopi dari Sabang sampai Merauke hidup berdampingan dengan yang dari mancanegara. Aku tidak mau mengatakan “mengalahkan” karena itu hahasa kapitalistik yang justru hanya saling membunuh.  Indoneia lebih kepada bersama dalam kebersamaan.


Disetiap catatan yang aku tulis tak henti2nya aku ingatkan bahwa aktor harus selalu memulai mempelajari peran dengan menjawab pertanyaan “apa,siapa,mengapa,kapan,dimana dan bagaimana”. Dengan demikian kita bisa melihat dan merasakan secara utuh pemain dipanggung ini siapa sedang berada di mana dan kapan lalu apa sih yang sedang terjadi pada dirinya kemudian bagaimana menyampaikan. Mungkin di naskah tak ditulis umur berapa, tempat tinggal di mana, masih punya orang tua atau tidak, adik kakak atau masih bujangan, masih sekolah atau sudah kerja dan kerja apa, profesinya apa dan seterusnya seperti umumnya tiap kita punya catatan biografi. Jika di naskah tak ada maka aktor wajib mencari tau dan menetapkan sendiri.  Jika ada akan menjadi bahan sangat kuat yang sangat berguna bagi menunjukkan karakter sang peran.


Parade monolog merupakan pestanya para seniman teater di Indonesia untuk berkiprah dan menjadikan pijakan kuat untuk tinggal landas menuju teater Indonesia seutuhnya bukan hanya bagi sesama seniman namun bagi seluruh bangsa Indonesia. Syukurlah bila berhasil merangkul yang tadinya tidak tau teater jadi kenal dan merasa membutuhkannya. Jadi mari ingat selalu bahwa penonton adalah bagian dari kerja seniman teater. 


Selamat merdeka berkarya.


Padang 10 September  2021