Pengetahuan Seni atau Keterampilan Seni? -->
close
Adhyra Irianto
14 October 2021, 10/14/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-10-14T00:00:00Z
Artikel

Pengetahuan Seni atau Keterampilan Seni?

Advertisement
Pengetahuan seni dan keterampilan


Ferdinand A. Soputan (Kandidat Master Seni Institut Kesenian Jakarta)


Pojokseni.com - Pengalaman berkesenian seorang seniman, diyakini amat tergantung kepada berbagai hal, antara lain ketrampilan atau kemampuan memainkan sebuah alat musik, atau kecakapan memproduksi sebuah karya, dan lain sebagainya. Dalam kondisi yang sama, seorang seniman tentu, harus diperkuat oleh pengetahuan seninya dan tentu saja ketrampilan seninya. 


Sering terpentas dalam kenyataan di industri musik dan perkembangannya, bahkan perkembangannya terkini, kita bisa melihat adanya kepincangan dalam pemahaman dan ketidaksinkronan dalam memahami mana yang terpenting antara ketrampilan seni atau pengetahuan seni.


Loho dalam sebuah ulasan tentang pentingnya sebuah pengetahuaan di laman pojokseni.com memaparkan bahwa sebuah pemahaman, didasarkan oleh sebuah pengetahuan. Bahkan jika orang memahami sesuatu berarti dia mengetahui sesuatu. Jadi dia mengetahuai untuk memahami. Maka karena telah diperkuat oleh pengetahuan seseorang akan memahami. Maka dari itu, pengetahuan adalah penting bagi setiap subjek-manusia-individu, dan dengan pengetahuan pun, subejk bisa memiliki kekuasaan, dan atau memiliki kekuatan tertentu, terutama dalam kehidupan sosial. 


Sejalan dengan itu, seniman tentu harus diperkuat oleh pengetahaun tentang musik. Pengetahuan akor, pengetahuan tempo dan pengetahuan ambitus, serta pengetahuan alat-alat musik atau alat berkesenian. Demikian juga pengetahuan ini menjadi sebuah dasar bagi kegiatan berkesenian seseorang. Dalam laman pojokseni.com juga penulis merasa tertarik dengan sebuah tajuk berjudul: Dasar-dasar Pengetahuan. Dasar pengetahuan ini terikat penuh dengan sesuatu fondasi yakni sumber pengetahuan. Dalam dunia ilmu pengetahuan, sumber pengetahuan bisa kita pahami antara lain: Pengalaman, ingatan, kesaksian, minat dan rasa ingin tahu. Dari sumber ini, seorang seniman harus diperkuat oleh sumber pengetahuan ini. Demikian jelaslah peran sebuah pengetahuan, utamanya pengetahuan seorang seniman.


Dalam praksis yang penulis geluti saat ini, yakni musik berbasis tradisi Minahasa musik kolintang, terjadi sebuah perbedaan pemahaman tentang mana yang terpenting, skill atau keterampilan atau pengatahuan. Ada pendapat ‘miring’ yang mengatakan bahwa ketrampilan adalah yang utama, karena ketrampilan menentukan seseorang dikatakan professional dalam sebuah bidang kesenian. Kendati begitu, ketrampilan tanpa pengetahuan adalah mubazir. Karena menurut hemat penulis, ketrampilan atau seniman yang sudah trampil, tidak mungkin tidak memiliki pengetahuan. Dia pasti sudah memiliki pengetahuan yang diperolah melalui pembelajaran yang sifatnya otodidak. Dan dalam kenyataaannya, banyak seniman juga mendapatkan pengetahuan salah satunya dari pembelajran otodidak.


Sejalan dengan itu, kita tentu tidak bisa lupa, bahwa ketika sebuah ketrampilan berkesenian yang ada pada sesosok seniman apa pun, dipraktekkannya, secara otodidak pula kepada generasi selanjutnya, melahirkan sebuah pengetahuan bagi generasi tersebut. Fakta ini akan semakin menegaskan bahwa pengetahuan ketrampilan bak kedua sisi mata uang. Kita tidak bisa mengelak bahwa sebuah pengetahuan dan ketrampilan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Semakin kuat pengetahuan justru akan semakin kuat pula ketrampilan memainkan sebuah alat seni.


Maka dari sini dapatlah ditegaskan bahwa adanya anggapan bahwa ketrampilan lebih penting dibandingkan pengetahuan, perlu ditolak. Argumen tersebut adalah argument yang tidak mendasar, karena tidak bisa membuktikan secara rasional tentang ketrampilan yang tanpa pengetahuan. 


Dengan demikian, sebuah pengetahuan akan semakin memperkaya ketrampilan. Hal itu tampak dari beberapa seniman yang melanjutkan studi akademiknya di bidang seni musik, kendati yang bersangkutan telah memiliki ketrampilan yang mumpuni dalam hal berkesenian musik. Pendek kata, seorang maestro pun, akan terus belajar mengembangkan musiknya, kendati beliau telah digelari maestro. 


Akhirnya, penulis berkeyakinan penuh bahwa, sebuah kesenian akan maju apabila diperkuat oleh cara pandang tentang pentingnya seni serta pentingnya pengetahuan. Seniman harus terus belajar, harus terus trampil dan keduanya saling memperkuat. Demikianlah bahwa semua anggapan mana yang lebih penting di antara keduanya, itu tidak mendasar. Yang mendasar adalah keduanya memiliki kesetaraan dalam memajukan sebuah kesenian.