"Barabah" Dalam Wajah Sandiwara Tarling -->
close
Pojok Seni
13 October 2021, 10/13/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-10-13T00:00:00Z
ArtikelResensiteater

"Barabah" Dalam Wajah Sandiwara Tarling

Advertisement
Sandiwara tarling barabah


Oleh: Arung Wardhana Ellhafifie


Elaborasi Budaya Sandiwara Tarling


Saya ingin memulai tulisan ini dari tulisannya Jean Benedetti (1930-2012, sutradara, penerjemah dan dramawan Inggris), yang selama ini dikenal meneliti secara serius teori akting Konstantin Stanislavski, yang pernah menjadi penasehat seorang dramaturg kenamaan Inggris yang praktik kerjanya banyak di Jerman, Kenneth Tynan.


Sets were as stereotyped as the acting: wings, back drops taken from stock, doors conventionally placed, standing isolated in space with no surrounding wall. The costumes were also ‘typical’. When Stanislavski attempted to have costumes made to specific designs he was told, with some as perity, that there were standard designs for character types and would continue to be (Jean Benedetti: Stanislavski an Intoduction. New York, 2000 (cetakan ketiga), hlm. 7). 


Kutipan di atas sebagai pengantar saya untuk memulai ini, di mana analisis Jeans Benedetti terhadap praktik kerjanya Stanislavski merupakan bahan saya selanjutnya untuk membaca praktik kerja elaborasi yang sudah dilakukan oleh Mata Art Community. Benedetti menganggap bahwa set sebenarnya sama stereotipnya dengan akting: sayap kanan dan kiri (pada prosenium), backdrop, lalu pintu ditempatkan secara konvensional, belum lagi berdiri kokoh gerbang yang terisolasi di ruang tanpa dinding di sekelilingnya. Kemudian biasanya juga kostum yang digunakan para tokoh dalam pertunjukan Stanislavski juga 'khas' kebudayaan Rusia. Hingga suatu saat, Stanislavski berusaha membuat kostum yang didesain khusus demi peran atau cerita yang tidak biasanya, maka orang-orang sekitarnya mewonta-wanti dengan banyak hal mengingat standarisasi desain, pembacaan karakter, sampai proses elaborasi masyarakat yang hendak disatukan menjadi kebudayaan lainnya. Sebab nampaknya mereka merasa kesulitan ketika cara berkebudayaannya dipaksa masuk dalam satu ekosistem budaya yang sudah mapan untuk menelaah kembali historiografi kerakyatannya dalam peristiwa teater. 


Teater rakyat tidak selalu dipahami sebagai pertunjukan yang hanya dekat dengan masyarakat yang menciptakannya pada keinginan atau selera agar tersampaikan hasrat ekspresifnya, tetapi dia seperti gambaran filosofis, psikologis dan geografis sekelompok manusia dalam hubungan interaksional antar mereka sendiri, semesta maupun dengan makhluk lainnya seperti bangsa jin yang tidak dapat dilihat secara langsung. Teater rakyat selalu memberikan dimensi yang berbeda dalam pembacaan demografinya sehingga bukan perkara gampang ‘mencaplok’ begitu saja ke dalam sebuah pemanggungan. Ketika memunculkan sandiwara tarling, memang sebaiknya membaca historisnya yang dimulai pada tahun 1930-1938, hingga tahun 1940, dimana Jayana, Abdul Majid, Sunarto, Dadang, Daryah sebagai penemu sandiwara tersebut yang berangkat dari perpaduan gitar dan seruling; berdasarkan bukunya Supali Kasim “Tarling: Migrasi Bunyi dari Gamelan ke Gitar Seruling”, harus membaca pada lingkungan biografinya. Ada banyak cerita seperti Saedu Saedi, Pegat Balen, Laik Batin, Baridin Ratminah di dalam sandiwara tarling yang terkenal, kemudian saat ini kita melihat ada Barabah; naskah modern yang dtulis oleh orang Sumatra (Motinggo Busje), dipindahkan dan disesuaikan latar belakang kebudayaannya. 


Pertunjukan dengan naskah modern yang dipanggungkan pada tanggal 5 Oktober 2017, di PPSB Jakarta Timur dalam perhelatan Festival Teater Jakarta 2017 (kota administrasi Jakarta Timur) tergolong pada keberanian tindakan, yang cukup menimbulkan banyak hal seperti risiko yang harus dipertimbangkannya. Ada semacam intelektualitas berpikir yang harus dilacak kembali, maka beberapa hal seperti; perspektif, ekosistem atau lingkungan, relevansi dalam fenomena, subjektivitas maupun objektivitas, dan hal lainnya akan selalu berkaitan dengan proses kebudayaan yang dielaborasi. Maka secara keseluruhan kebudayaan dari ceritanya tentu saja berbeda. Ini yang harus dicermati secara silsilah cerita, dan karakter. Barangkali itu dulu yang harus dipegang karena kebudayaan bukan hanya sekadar dekoratif dalam sebuah pemanggungan. Jika ada kebudayaan yang tidak sesuai, kita harus melakukan apa saja dalam elaborasi tersebut? Bagaimana mengembangkan tokoh agar sesuai dengan kebudayaan yang diusung?


Berdasarkan elaborasi kebudayaan yang masih sebatas dekoratif atau hanya sebagai latar belakang saja, bisa disebut sebagai ‘keinginan’ agar berbeda dari pertunjukan sebelumnya, Taufik Darwis (juri festival teater) menganggap bahwa guyonan hanya dipakai bahasa pertama, sementara logika drama selesai utuh. Bahasa pertama Banio adalah Cirebonan, yang mana konsekuensi penyutradaraan logika kerjanya yang sulit diterima. Menurut Dindon WS (juri lainnya) dinilai anyep selama 10 menit, tapi adegan selanjutnya hiduplah dalam sebuah pemanggungan. Inner acting ternuansa pada batasan dialek, jadi ngerasa menghidupkan bukan dihidupkan oleh dialektika tersebut. Kemudian pretensi sandiwara tarling mengarah pada live, dianggap gak ada itu juga gak papa karena tidak memberikan pengaruh yang besar. Sehingga teater rakyat yang diusung, gak ada fungsinya dalam visi dan misi berkeseniannya, karena tindakan sutradaranya menyikapi konsep drama yang dicermati secara utuh dan harus disikapi, bukan lagi sebagai kinerja dalam praktik elaborasi pada wilayah kontekstual dan melihat fenomena yang terjadi.


Realisme, Kebenaran, Kejujuran, dan Pengamatan dalam Deformasi


Berdasarkan postingan pada tanggal 28 September 2014, yang bisa diakses melalui link; http://murtikaafriani.blogspot.com/2014/09/sinopsis-naskah-drama-barabah.html, saya coba menyimpulkan ringkasan cerita Barabah yang dimulai dari pertanyaan-pertanyaan suaminya, Banio yang sudah berusia 70 tahun seputar; panggilan Ibah (Barabah) ke Banio dengan sebutan Bapak yang menganggap dirinya sudah mau mati dengan keadaan bongkok, pengandaian saat Banio mati nanti apa yang akan dilakukan Ibah, dan Banio menguji nama-nama atau cerita di balik dua belas istrinya yang tidak semuanya masih utuh—menguji kesetiaan Barabah yang masih 28 tahun dan cemburu ketika Banio mau menikah lagi, dan diduga kalau Banio mati justru banyak laki-laki yang akan meminangnya yang disangkalnya oleh Ibah sebagai bukti lain kesetiaannya pada Banio. Bagaimana kebenaran dan kejujuran Barabah diuji oleh kenyataan seorang yang sudah tua bangka seperti Banio;  diperlukan upaya realis yang berangkat dari realitas kebudayaan asalnya terlebih dulu sebelum dideformasi kepada kebudayaan baru akibat proses elaborasi tersebut yang disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat Cirebon pada umumnya. Sekalipun kata kebenaran menurut Seno Gumira Ajidarma dalam pidato kebudayaannya bisa mungkin berbeda dengan kebenaran Barabah: lebih baik tidak digunakan, dihindari, atau digunakan dengan hati-hati sekali, karena kebenaran meskipun ada, tidak bisa diketahui.


Keesokan harinya Banio dan Ibah dihadapkan pada kemunculan Zaitun, wanita 25 tahun yang tidak dikenali sebelumnya mengawali dengan tafsir cicak yang saling memburu dianggap oleh ibunya sebagai tanda perjodohan. Cicak-cicak bagi ibunya Zaitun merupakan tanda kebaikan yang mana Ibah tak percaya dengan segala macam takhayul tersebut. Zaitun semakin meyakini bahwa bakal ada pesta pernikahan yang megah. Jelas Ibah merasa cemburu ketika kedatangannya ingin bertemu dengan Banio. Apalagi dengan tegas Zaitun mengatakan kalau Banio akan menanam ladang yang ketiga belas semakin membuat emosinya bergejolak dan memilih pergi. Banio yang baru pulang bergegas untuk menyusuli kepergian Zaitun. Barabah pun semakin cemburu dengan reaksi suaminya yang langsung bergegas mencarinya hingga tamu baru lagi muncul, yakni Abidul, 30 tahun yang bekerja sebagai kusir sado. 


sandiwara tarling Barabah
Adegan lainnya, tokoh Zaitun (menenteng tas) dan Abidul (baju kuning) dalam Sandiwara Tarling ‘Barabah’ yang dipanggungkan Mata Art Community (Foto: MAC)

Hal yang penting berdasarkan peristiwa ini, perlunya pengamatan yang terperinci dan tertulis dalam bagan-bagan maupun diagram-diagram untuk mendeformasi kondisi semula yang terjadi di Lampung, kemudian pada kondisi di Cirebon, untuk memetakan hal-hal kecil seperti benda-benda atau binatang bisa menjadi kajian yang sangat penting bahwa realitas tentunya bisa disiasati dengan cara realisme; proses berpikir kita dalam menentukan pilihan dan keberanian menyatukan atau memindahkan kebudayaannya. Saya sejujurnya masih agak khawatir ketika hanya sebatas dipindahkan dan disesuaikan, karenanya dari awal saya melihat pemanggungan Mata Art Community sebagai proses elaborasi budaya karena banyak menyisakan kebudayaan pertamanya.


A fundamental shift had taken place in Stanislavski’s thinking during those two months. Acting was no longer though to fas imitation but as process. It was no longer a question of purely external control, of technique, of skilfully reproducing a facsimile of experience but of creating and conveying inner life, a sense of being, fresh each time  (Jean Benedetti: Stanislavski an Intoduction. New York, 2000 (cetakan ketiga), hlm. 45). 


Elaborasi budaya yang saya maksudkan berhubungan dengan pemikiran Stanislavski yang menganggap bahwa akting tidak lagi sebagai imitasi, melainkan sebuah proses perjalanan kebudayaan dari pemainnya itu sendiri. Karenanya kalau hanya sebatas dipindahkan dan disesuaikan kebudayaannya karena alasan yang tidak signifikan, proses pemindahan itu akan menjadi semacam problem ketika berkaitan dengan banyak pertanyaan tentang kontrol eksternal, teknik, reproduksi, maupun kemampuan setiap personal. Bagaimanapun akting menurut Stanislavski tidak berkutat pada hal tersebut dalam transportasi perjalanan rumusan metodologinya. Kita pun harus menciptakan dan menyampaikan kehidupan batin yang sudah terjadi atau dialami oleh Banio, Barabah, maupun Zaitun hingga setiap perasaan yang ditimbulkan itu terasa segar setiap ditonton. Karena setiap orang sangat memungkinkan mengalami peristiwa yang sama, tapi juga situasi perasaan kita berbeda. Termasuk pada saat Banio yang baru datang melihat istri tercintanya sedang bersama lelaki lain.


Kita bisa saja berada pada situasi yang sama dan membuat cemburu, tapi aksi dan reaksi berikutnya juga mempengaruhi seperti yang ditunjukkan istrinya ketika mengusir Abidul yang disebut sebagai tamu tak sopan. Malah Banio semakin memuji istrinya yang baik bukan hanya bisa memasak di dapur, juga pemberani dan suka memberi semangat, ia juga disebut tidak mau kehilangan dirinya. Barangkali kita juga akan bereaksi lain jika perasaan kita berbeda dengan Banio. Sekalipun sama, pasti kita tidak bisa menyamakan perasaan batinnya. Kemudian kehadiran Zaitun kembali, yang langsung dituduh Ibah kalau Zaitun adalah perempuan yang suka menjinakkan suami orang. Kecemburuan Ibah semakin menunjukkan cintanya pada Banio; yang mana Zaitun tak lain anak dari istri keenamnya yaitu Rabiah. Dan Abidul calon suaminya yang ingin meminta restu kepada Banio. 


Kita pun juga harus memahami istilah realis dengan realisme yang cukup berbeda; dan kadang kala kita campuradukkan semua istilah yang masuk. Maka perlunya indeks dalam karya inovatif menurut saya mutlak dilakukan, sekalipun dalam penerapan metodenya di lapangan kita juga selalu mengalami kesulitan. 


There were, however, more fundamental problems concerning his general approach to the art of acting over which he did receive assistance from others: first his lack of method, any method, in his playing of a role; second his susceptibility to theatrical cliché as soon as he started to rehearse. What ever his intellectual perception of the necessity for realism, for truth, for honesty, for observation, time and time again he would fall back on standard formulae (ibid., hlm. 28). 


Berkaitan dengan elaborasi kebudayaan pun, tentu penggunaan indeks juga patut dipertimbangkan sebagai cara yang paling mendasar, kalau kita mencermati tulisan Jean Benedetti di atas. Benedetti juga bukan tidak beralasan selama melakukan penelitian dalam rumusan metodologi yang dilakukan Stanislavski pun juga bermasalah dengan pendekatan pada tindakan seni. Indeks maupun pemahaman-pemahaman orang lain yang ada di sekitar kita juga bertumpu pada hal lainnya, karena itu perlunya banyak orang yang fokus pada kajian tertentu agar pekerjaan sutradara juga lebih berkurang, karena metode juga tidak akan berjalan baik pada pemainnya jika berada pada banyak tegangan-tegangan yang justru memperburuk kondisi. 


Selain kita selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan klise setiap memulai latihan. Jadi kita selama ini selalu menafikkan persepsi intelektual realisme, yang menurut Benedetti perlunya dikaji ulang pada formula standarnya, yang berkaitan dengan kebenaran, kejujuran, pengamatan, dan waktu juga akan mengembalikan form-form yang sudah mapan sebelumnya, bukan new form yang juga memerlukan kajian waktu yang masih juga panjang.


Sistem Latihan dalam Proses Elaborasi


Benedetti sudah menyebutkan bahwa kita selalu dihadapkan pada persoalan yang klise setiap memulai latihan, maka yang dibutuhkan adalah sistem latihan yang tepat dan efisien dalam proses elaborasi. Terkadang kita menemukan di lapangan banyak sutradara yang tampak kebingungan untuk menerapkan latihannya sehubungan dengan keinginan di atas panggung, maka alibi eksplorasi sering digunakan yang sebenarnya bisa membuat hal semacam itu tidak efektif. Karena keinginan sudah terbangun lebih dulu melalui imajinasi di kepala, maupun teks tertulis yang ditulis oleh pengarang ataupun interpretasi sutradara. Saya yang memang sering kali menonton proses latihan Mata Art Community sekalipun dari jarak yang cukup jauh; sudah melihat rumusan-rumusan yang akan diterapkannya, hanya saja latar belakang pemindahan dan penyesuaian kebudayaan yang masih tidak bisa dikatakan ajeg, seperti berjarak dengan pemainnya. Latihan aksentuasi berbahasa bukan sekadar terampil dan enak didengar, tapi ada problem kebudayaan lewat gesture yang ditawarkannya luput dari sistem latihan elaborasi.


Ada banyak cara untuk menerapkan sistem latihan yang bisa dilakukan oleh sutradara termasuk berkolaborasi dengan pemateri yang berhubungan untuk capaian yang diinginkannya. Sering kali juga kita mendatangkan rehearsal director yang tidak sesuai dengan keinginan di atas panggung, maupun keinginan konsepsi dalam teks pengarang. Kecuali pemanggungan memang berawal dari eksplorasi tubuh, bunyi, suara, rekaman, ceramah, pidato kebudayaan atau keagamaan, maupun penggalian memori, hingga performatif yang nantinya dirumuskan menjadi teks pertunjukan. Kalau memang tujuannya sebagai produksi pengetahuan, mungkin bukan pada saat yang tepat menjajal sistem latihan yang tidak relevan dengan pemanggungan yang akan diterapkan.


Sandiwara tarling barabah
Tokoh Banio (kanan) dan Ibah (kiri) dalam Satu Dialog Sandiwara Tarling ‘Barabah’ di PPSB Jakarta Timur, Jl. H. Naman, No. 17, Pondok Kelapa (Foto: MAC)

Proses elaborasi perlu sistem latihan yang konkret dan terukur untuk menyatukan dua kebudayaan tersebut, agar para pemain yang menjalankan latihan tidak berada pada situasi yang ‘bodoh’ atau ‘menyedihkan’ layaknya orang-orang yang bingung mau berbuat apa dalam sistem yang sudah diterapkannya. Benedetti mencatat bahwa banyak aktor Rusia ketika berdatangan kebudayaan dari negara lain, sementara keinginan pemanggungannya juga berbeda sehingga hasilnya akan terbaca sebagai karya yang jauh dari logika penyutradaraan seperti yang sudah dipaparkan Taufik Darwis. 


The situation of the Russian actor is pitiful. All about him a young nation pulsates and seethes and they give him characters he has never set eyes upon. What can he do with these strange heroes, who are neither French men nor Germans but bizarre people totally devoid of definite passions and distinct features? Where can he display his art? On what can he develop his talent? For heaven’s sake give us Russian characters, give us our selves – our scoundrels, our eccentrics (ibid., hlm. 14). 

Saya mengutip ini bermaksud bahwa kaitannya adalah dengan pemindahan atau penyesuaian yang terkesan memaksakan diri bagi aktor-aktornya yang sama sekali cukup ‘kurang paham’ dengan kultur Cirebonan. Akhirnya menjadi kaku secara tubuh, tidak bisa menjadi tubuh kedua, tubuh hanya sebagai pengantar kebudayaan asalnya sebagai orang-orang urban yang ada di Jakarta tanpa membongkar terlebih dulu tubuh-tubuh urbannya. Termasuk pada saat itu aktor Rusia mengalami situasi yang menyedihkan pada saat berhadapan dengan bangsa/pemuda intelektual dari Jerman dan Prancis dalam penerapan latihannya yang dianggap ‘aneh’ karena ciri-ciri dan gairah bekerseniannya cukup berbeda.


Akhirnya yang terjadi, aktor Rusia mengeluhkan tentang kemampuan dirinya sebagai orang ‘asli’, bukan proses paksaan dari kebudayaan yang hadir melalui intelektual seni Jerman dan Prancis. Orang Rusia yang merasa eksentrik, ‘bajingan’, keras, pemberontak, tidak bisa melakukan apapun dalam sistem latihan tersebut yang didominasi oleh tekanan agar berbeda dengan pertunjukan sebelumnya. Maka yang terjadi tubuh pertama sebagai orang Rusia seperti tertekan akibat proses sistem latihan tersebut. Begitu juga dengan penampilan aktor-aktor Mata Art Community berada di antara kegamangan mau menjadi tubuh pertama atau tubuh kedua, atau tubuh migrasi atau perpindahan, atau tubuh elaborasi sekaligus. Namun kenyataannya jauh dari tubuh elaborasi. Bagaimana orang urban menyatukan budaya Lampung dengan Cirebonan; sekalipun kedua budaya tersebut juga tidak bisa dikatakan asli, percampuran juga yang akhirnya menjadi milik dan bisa menjadi baru. 


Kebaruan ini juga penting diutamakan dalam cara realisme yang berhubungan dengan sistem latihan. Saya melihat secara kasat mata dari pola permainan setiap aktornya tidak nyaman dengan apa yang dihasilkan. Jangankan Zetbier Mustaqiem (sutradara Mata Art Community) yang tentu saja secara tidak disadari memiliki ruang pemisahan dalam sistemnya yang digunakan, bahkan Stanislavksi pun juga pernah mengalami hal tersebut berdasarkan catatan Benedetti: 


Stanislavski confronted once more the problem of the actor divided against him self. But where as in Red Square it was the actor as human being which was separated from the actor as performer, now the system, which had been designed to over come that division, was, in its turn, dividing mind from body, knowledge from feeling, analysis from action (ibid., hlm. 90). 


Catatan di atas menekankan pada sistem latihan yang diterapkan Stanislavski dalam menghadapi problematika, dengan cara: (1) membagi pikiran setiap pemainnya dari problematika manusia dalam realitasnya, (2) melatih pengetahuan aktornya lewat perasaan sehari-hari para pemainnya sebagai karakter baru, dan (3) analisis dari setiap tindakan para pemainnya dalam setiap latihan. Barangkali sistem latihan juga bisa berbeda dalam proses elaborasi tersebut, bisa ditekankan pada analisis kebudayaan Lampung dan Cirebonan, mengolah dua kebudayaan dalam satu kesatuan, maupun menggali sensibilitas kebudayaannya sebagai tubuh urban atau tubuh pertama; sehingga kita tidak serta merta memaksakan masuk kepada suatu kebudayaan yang kemungkinan sulit jika ditetapkan pada satu kemapanan, ketimbang mencari kemungkinan dari kebudayaan yang baru: sekalipun juga tidak bisa bernilai, paling tidak kita memiliki nilai tawar dalam proses kebaruan, menggunakan indeks yang tepat juga bisa diterapkan dalam pelatihan elaborasi. 


Barangkali hal itu yang cukup mengurangi kecanggungan dan kegagapan dalam kebudayaan yang terpisah sebelumnya dari setiap pemainnya. Bahkan saya sempat berguyon pada Zetbier, tinggal dulu setahun lebih di Cirebon, mungkin akan menyatu. Saya selalu melihat orang Jawa yang tinggal di kampung saya; Burneh, Madura bertahun-tahun juga tidak seorganik saya yang tumbuh dan lahir di sana, maka yang terjadi hal yang terlihat baru dari proses elaborasi tersebut.