Konsep Filosofis "Kolintang Bersholawat" -->
close
Pojok Seni
01 October 2021, 10/01/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-10-01T00:00:00Z
ArtikelMusikOpini

Konsep Filosofis "Kolintang Bersholawat"

Advertisement

Oleh: Ambrosius M. Loho, M. Fil.*


Geliat pemajuan kebudayaan tak pernah henti di kisaran 3 tahun terakhir. Hal itu tentu bukan tanpa dasar. Sebut saja Undang Undang Pemajuan Kebudayaan, yang menyiratkan pesan bahwa semua insan Indonesia bertanggung jawab dalam upaya pemajuan budaya. Termasuk berbagai sektor lain juga memiliki tanggung jawab yang sama, dalam memajukan budaya itu. Di Minahasa upaya pemajuan kebudayaan terus berlangsung, terutama pemajuan seni-seni berbasis tradisi yang secara gencar diupayakan terus menerus, agar generasi muda penerus cita-cita leluhur bangsa bisa menikmatinya sebagai sebuah kekayaan. 


Upaya pemajuan kebudayaan secara nyata terjadi misalnya dengan pelaksanaan kegiatan Lomba Tutur Cerita Rakyat yang diikuti oleh anak-anak usia sekolah dasar. Kegiatan ini tentu menyiratkan pesan bahwa warisan tradisi lisan di Minahasa turut memperkuat pengetahuan anak-anak sejak usia dini. Dari cerita rakyat konsep filosofis tentu sangat kuat dan mendalam. Seirama dengan kegiatan itu, musik tradisional kolintang juga tak kalah dalam hal upaya untuk pemajuan. Berbagai kegiatan tentu dilangsungkan agar gaung musik kolintang ini tak berhenti. Teranyar, dilaksanakan lomba bertajuk Kolintang Bersholawat.


Hal pertama yang perlu diutarakan adalah bahwa musik kolintang memang memiliki kekayaan serta kekhasan yang tidak dimiliki oleh musik tradisional lain di Indonesia. Sebut saja, alat musik ini berbahan dasar kayu, musik ini mampu memainkan berbagai genre musik bahkan bisa dikodifikasikan. Itu fakta-fakta yang tidak bisa dielakkan. Sejalan dengan itu, musik kolintang memang memiliki konsep filosofis yang kuat seperti cerita rakyat yang dilombakan sebagaimana uraian di atas.


Dari kedua upaya pemajuan kebudayaan ini, penulis kembali menegaskan bahwa yang paling penting dan kuat didalamnya adalah adanya konsep filosofis yang justru ‘mendarah daging’ pada kedua bidang itu. Terkait kuat dan pentingnya konsep filosofis yang dimaksud, pada dasarnya konsepsi filosofis memang secara jelas menunjuk pada makna yang menjadi acuan bagi eksistensi sesuatu. Demikian pun makna musik memiliki sifat intrinsik. Makna filosofis adalah juga nilai-nilai yang ada dibalik benda atau peristiwa, dan nilai yang terkandung dalam suatu benda atau peristiwa tersimpul hubungan antara benda dan atau peristiwa itu dengan subjek yang berhubungan dengannya.


Dalam konteks atau tajuk Kolintang Bersholawat, apa makna filosofis yang perlu dikemukakan dan diangkat ke permukaan? Menjawab pertanyaan ini, penulis berangkat dari arti dasar sholawat dan fakta keterbukaan musik kolintang terhadap berbagai genre musik yang ada. 


Dalam beberapa literatur yang penulis telusuri, paling tidak ditemukan arti penting dari sholawat yakni: bahwa shalawat merupakan pujian atau kemuliaan kepada Nabi Muhammad SAW, seperti doa atau dzikir kepada Allah SWT.  Shalawat, jika datangnya dari Allah, bermakna rahmat dan ke-ridha-an, dan jika dating dari para malaikat, berarti permohonan atas pengampunan. Demikian juga, jika dating dari umatnya, sholawat bermakna sanjungan dan pengharapan, agar rahmat dan ke-ridha-an Tuhan dikekalkan. 


Sebanding dengan hal tersebut, shalawat dapat dibedakan dalam dua hal: Pertama, langsung dari Nabi Muhammad SAW sendiri dan yang kedua dari manusia, yang berbentuk syair, sastra, dan atau karya lainnya. Dari dua bentuk ini, yang utama tidak lain adalah sanjungan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai rasa atau wujud cinta dan syukur terhadap Allah SWT, yang telah menciptakan Rasulullah SAW, sebagai makhluk pilihan dan penerang bagi dunia serta menjadi suri teladan. Maka dari sini, tampak bahwa paling banyak pengamalan sholawat adalah sesuai dengan kepentingan dan tradisi yang dikehendakinya. (http://repo.iain-tulungagung.ac.id/3938/3/AGUS_BAB%20II.pdf). 


Maka sholawat yang sedemikian bernilai penting bagi setiap umatNya itu, menjadi juga sebuah ungkapan syukur umat yang percaya kepadaNya. Sholawat pada kenyataannya bisa diungkapkan atau diwujudkan berdasarkan cara manusia masing-masing. Manusia yang mendapatkan berkat dan ridho dari Yang Mahakuasa, mewujudkan rasa syukur dan rasa cinta, dengan bersholawat.


Sejalan dengan itu, musik kolintang yang sejatinya memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh berbagai musik tradisional lainnya, mampu beradaptasi dengan musik bernada islami sekalipun. Dalam konteks penyelenggaraan Kolintang Bersholawat sebagaimana diuraikan di atas, membuktikan bahwa ungkapan rasa cinta dan syukur umat, bisa diwujudkan dengan alat musik tradisional kolintang. Di sisni, tampaklah makna filosofisnya. Musik kolintang yang bermakna filosofis: Terbuka, setara (egaliter), kreatif serta berpijak dari tradisi Minahasa yakni mapalus, bisa menyatu dengan makna filosofis sholawat yang bisa diwujudkan dengan berbagai media seni yang ada, sebagai bentuk syukur dan rasa cinta umat kepada Yang Mahakuasa.


Akhirnya, makna filosofis menunjuk dengan jelas kepada dimensi aksiologis suatu benda atau peristiwa serta perwujudannya. Di balik musik kolintang dan sholawat bahkan dalam tajuk kolintang bersholawat, juga terkandung nilai-nilai, berupa gagasan yang termanifestasikan ke dalam bentuk musikalitas, yang bertujuan yang menjadi sarana pengungkapan syukur atas kekayaan budaya serta ungkapan rasa cinta bukan hanya oleh kreator (pelatih dan pemain kolintang) tapi juga penyanyi yang bersholawat itu. Maka dibalik konsep Kolintang Bersholawat, bukan hanya kekhasan musik kolintang yang semakin digaungkan, tetapi juga ungkapan syukur umat serta rasa cinta manusia kepada tradisi yang berasal dari Yang Mahakuasa.



*Penulis adalah Dosen Universitas Katolik De La Salle Manado, Pegiat Estetika, Pemerhati Musik Tradisi.