Review Pementasan Teater: Menetas Sebelum Pentas -->
close
Pojok Seni
16 September 2021, 9/16/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-09-16T00:00:00Z

Review Pementasan Teater: Menetas Sebelum Pentas

Advertisement
Pentas teater Suara Kedua
Pentas teater Suara Kedua oleh Teater Ngaos Art

Oleh: Ridwan Hasyimi*


Betapapun canggihnya teknologi, rasa tetaplah purba. Rasa rindu mau tak mau harus tuntas dengan bertemu. Sejak pandemi melanda, perjumpaan-perjumpaan fisik sangat tidak dianjurkan. Teater, yang mensyaratkan perjumpaan fisik antara pemain dan penonton, sekarat. Teater virtual lalu ditawarkan sebagai obat. Penonton bisa menonton pertunjukan via gawai, tidak perlu bertemu. Lalu, apa bedanya dengan film? Bukankah yang membuat teater menjadi teater adalah peristiwa panggung yang disaksikan langsung, “di sini”, dan sementara.


Tapi, sebagai teater masa darurat, teater virtual patut diapresiasi. Dalam kondisi sesak, teater masih berupaya untuk bernapas, meski susah payah, megap-megap, dan dibantu berbagai instrumen yang asing buat panggung.


Setelah hampir dua tahun Indonesia dihantam corona, situasi kini (semoga) membaik. Salah satu kota kecil di Jawa Barat, Kota Tasikmalaya, yang beberapa waktu silam tergolong zona merah, di penghujung bulan Agustus 2021 terdegradasi ke zona kuning. Ini kabar gembira buat para pelaku seni pertunjukan. Teater sudah bisa bernapas lebih lega. Bara panggung harus kembali dinyalakan.


Merespon hal itu, Ngaos Art menggagas serangkaian pentas di bulan September 2021 di Studio Ngaos Art di Kota Tasikmalaya dengan tajuk Menetas Sebelum Pentas. Direktur Ngaos Art, Ab Asmarandana, menyebut bahwa rangkaian pentas ini diharapkan mampu menyalakan kembali bara panggung yang kemarin-kemarin hampir padam. Juga sebagai penawar rindu para pelaku dan penonton teater untuk berjumpa, untuk “berupacara”. 


Menetas Sebelum Pentas #1 dilaksanakan pada 5 September 2021. Yang manggung Kahfi Nurul Asror. Ia membawakan monolog berjudul “Tukang Obat” karya Y.S. Agus Suseno yang disutradarai oleh Ab Asmarandana. Monolog tersebut seyogyanya adalah materi untuk Lomba Monolog Virtual yang diadakan Asosiasi Prodi Pendidikan Sendratasik Indonesia (AP2SENI). Kahfi mewakili Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS).


Meski diperuntukan untuk virtual, namun Abuy—sapaan akrab Ab Asmarandana—ingin agar pengambilan gambar sekalian dijadikan tontonan. Menghindari membludaknya penonton yang berpotensi menciptakan kerumunan, panitia tidak menyebarluaskan poster di media sosial. Hanya kenalan dekat yang diundang. 


Malam itu, yang menonton hanya delapan orang. Itu pun sebagiannya tim kreatif Ngaos Art. Yang terundang banyak yang berhalangan. Atau mungkin masih was-was untuk sebuah perjumpaan fisik. Meski sedikit, penonton tetaplah penonton. Dua atau tiga orang pun harus dihargai sebagaimana mestinya sebab penonton adalah bagian tak terpisah dari peristiwa teater. 


Menetas Sebelum Pentas #2 dihelat pada Sabtu, 11 September 2021. Yang digelar dua pertunjukan sekaligus, “Suara Kedua” dan “Menunggu Kematian”. “Suara Kedua” disutradarai oleh Kiki “Kido” Ihsan Pauji dan dimainkan oleh Ridwan Hasyimi dan Rika R. Johara. Sementara “Menunggu Kematian” disutradarai Teguh Bangbara, dimainkan Kahfi Nurul Asror dan Krisma Jayanti. Keduanya karya Ab Asmarandana yang pada mulanya adalah bagian dari naskah “Aktor Amatir”.  


Tak seperti Menetas Sebelum Pentas #1, yang kedua ini penontonnya lebih banyak, sekitar dua puluh orang. Panitia memang membatasi hanya dua puluh orang yang diperkenankan menonton. Itu pun dengan prokes ketat. 


“Upacara” dibuka dengan sholawatan. Lalu, sutradara dan aktor disilakan menceritakan proses kreatif, konsep garap, dan “kegelisahan” selama garapan. Di Tasikmalaya, ini hal semacam ini tergolong di luar dari kebiasaan. Diskusi pertunjukan biasanya digelar usai menonton, bukan sebelum. Namun, Abuy ingin menawarkan sesuatu yang lain.


Umumnya, konsep garap atau sinopsis pertunjukan dipresentasikan secara tertulis dalam leaflet yang diberikan kepada penonton sebelum pertunjukan dimulai. Tulisan tersebut sejatinya adalah juru pandu bagi penonton agar “tidak kesasar” ketika menonton. Ngaos Art mengalihwahanakan presentasi tersebut dari tulisan ke lisan. Untuk konteks Tasikmalaya, presentasi lisan semacam itu terasa lebih komunikatif, informatif, dan relatif lebih mendapat perhatian ketimbang presentasi tulisan. 

Usai menonton, barulah tanya jawab dibuka. Dengan “tata upacara” demikian, Abuy meyakini pertunjukan diapresiasi dengan lebih khusyuk. Pertunjukan dihantar agar pemain dan penonton sama-sama siap “mengalami teater”.


Sibuknya “Suara Kedua”


Dua orang, sepasang kekasih, makan di suatu tempat yang nampak agak mewah. Mulanya saling lempar basa-basi. Lalu mulai menukik membicarakan rindu, ingatan, dzikir, dan lain sebagainya. Sebagaimana teks-teks karya Abuy lainnya, “Suara Kedua” kuat di kata-kata. Dialog-dialognya lebih seperti rangkaian aforisme filosofis ketimbang percakapan sehari-hari yang umum antar dua orang yang sedang berkasih.


Meski yang duduk hanya berdua, namun, yang bicara bukan hanya antar mereka. Seringkali “aku bicara dengan diriku sendiri”, dengan suara “keduaku”: saling sanggah, saling jagal, saling menidakan, saling mengiyakan, saling mengingkari, saling caki, saling puji, saling afirmasi, saling negasi, saling menggoyahkan, dan saling mengokohkan. 


Ada banyak “aku” dalam “aku”. Oleh ilmu psikologi, hal ini terkonfirmasi. Freud mengatakan, alam psikis manusia terdiri dari tiga struktur, Id, Ego, Superego. Id adalah kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Ia tak kenal baik-buruk dan salah-benar. Id hanya tahu terpenuhi atau tidak. 


Superego adalah aspek moral sosial dari kepribadian seseorang. Berbeda dengan Id, Superego sangat paham baik-buruk dan salah-benar. Di antara keduanya, Ego adalah struktur yang bertugas menghadapi realitas dan mengambil keputusan. 


Id ingin makan. Kondisinya, tidak ada yang bisa dimakan kecuali makanan milik tetangga. Superego  yang meyakini mencuri adalah buruk tentu tidak setuju jika harus mencuri. Lebih baik meminta baik-baik, tapi dengan resiko malu. Id tidak peduli dengan moral. Hasrat ingin makan harus terpenuhi, entah dengan cara apa. Ego berpikir dan menimbang-nimbang tindakan apa yang akan dilakukan. Bayangkan jika tiga struktur ini bisa bicara. Betapa riuh dan sibuknya “aku”?

     

Kesibukan itu yang tergambar dalam “Suara Kedua”. Apa yang disampaikan kepada lawan bicara sering disanggah oleh suara keduanya sendiri. Atau diejek. Kadang dipuji atau diuji. Kedua tokoh sibuk dengan diri sendiri, sibuk berprasangka, sibuk dengan kata-kata. Ada kalanya dialog bertabrakan. Itu bukan kesalahan, tapi gambaran betapa berisiknya “aku”. Karenanya, sunyi adalah kemewahan. Apalagi di zaman sekarang yang nyaris ngga ada matinye. 


Aktor yang “Menunggu Kematian”


Pentas Aktor Menunggu Kematian
Pentas Aktor Menunggu Kematian

Hidup, konon, adalah menunggu mati. Dalam masa tunggu itu berkelindan persoalan antara idealitas dan realitas. Manusia punya cara berbeda menari dalam tegangan antara harapan dan kenyataan. Manusia punya cara berbeda menunggu kematian, menjadi aktor teater salah satunya. 


Seorang aktor teater sedang latihan di rumahnya. Di belakang, suara piring berjatuhan. Istrinya masuk membawa makanan dan minuman. Wajahnya masam. Aktor berusaha fokus latihan, sedang istrinya menyapu. Wajahnya masih masam.


Listrik rumah tiba-tiba padam lantaran kehabisan pulsa. Dalam remang cahaya lilin mereka berbicara, membincangkan masa depan, keinginan, kebutuhan, drama, dan lain sebagainya. 


Bagi seorang pelaku teater yang telah berumah tangga, yang pernah tahu, atau mengalami berumah tangga dengan seorang penteater di Indonesia, suasana batin kedua tokoh itu mudah sekali diterka. 


Bukan rahasia jika teater di Indonesia belum bisa menjanjikan secara ekonomi. Namun, meski tahu tidak menjanjikan, entah karena saking sadar, saking tidak sadar, terjangkit “adiksi seni”, pilihan hidup, atau karena justru tak ada pilihan lain, ada saja orang yang memilih dan mencintai “jalan pedang” ini. 


Ketika berumah tangga, idealisme seniman harus bertumbuk dengan realitas kebutuhan hidup: bayar kontrakan, listrik, beras habis, dan lain sebagainya. Dalam “Menunggu Kematian”, tokoh aktor mewakili idealisme seniman yang melangit, sementara istri mewakili realitas yang membumi. Dialog antara keduanya adalah potret kehidupan rumah tangga seniman-seniman teater di Indonesia pada umumnya. 

 

Menetas Sebelum Pentas #3


Rangkaian Menetas Sebelum Pentas direncanakan berlangsung dalam tiga volume selama tiga minggu. Volume ketiga akan diselenggarakan pada Sabtu, 18 September 2021 di Studio Ngaos Art. Pada kesempatan itu akan dipentaskan dua monolog dengan judul yang sama, “Raksasa” karya Putu Wijaya”, namun dengan konsep garap dan interpretasi teks yang berbeda. 


Sebagai “gong” dari rangkaian tersebut, pada penghujung September 2021 akan dipentaskan pertunjukan teater “Aktor Amatir” karya/sutradara Ab Asmarandana. Abuy meyakini, meramaikan panggung, selain agar bara tetap menyala, menjadi penting untuk menambah jam terbang para aktor Ngaos Art.


Aktor yang menguasai teknik namun miskin jam terbang akan kepayahan menguasai dan mengenali dirinya. Akibatnya, yang muncul ketika bermain adalah akting yang pura-pura, yang palsu. Bukan akting yang jujur, yang menjadi untuk kemudian mengada: menciptakan realitas baru di atas panggung.


*Penulis bernama Ridwan Hasyimi, lahir di Wonosobo, Jawa Tengah. Belajar teater sejak di MAN 2 Ciamis sampai sekarang. Mendirikan kelompok Teater Tarian Mahesa Ciamis (TTMC) pada 2010. Bersama istri, mendirikan dan bergiat di Gardu Teater sejak 2018–sekarang. Belajar menari di Padepokan Seni Budaya Rengganis Ciamis. Belajar menulis di Majelis Sore Malam (Marlam) dan Rumah Koclak. Kini belajar teater di Ngaos Art, Kota Tasikmalaya. Menulis naskah dan esai budaya sejak 2014 serta menyutradarai dan bermain beberapa lakon teater sejak 2007 hingga kini. Tahun 2019 mengikuti lokakarya penulisan esai bertajuk Program Penulisan MASTERA: Esai. Beberapa cerpen pernah dimuat di Kabar Priangan dan Radar Tasikmalaya. Menulis esai untuk blog pribadi https://ridwanhasyimi.blogspot.com.

Ads