Raih Golden Leopard di Festival Film Locarno, Film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas Akan Cetak Sejarah? -->
close
Pojok Seni
03 September 2021, 9/03/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-09-03T00:00:00Z
ArtikelBeritaFilm

Raih Golden Leopard di Festival Film Locarno, Film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas Akan Cetak Sejarah?

Advertisement
Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas

PojokSeni.com - Sebuah novel yang baik kadang-kadang menjadi kurang menarik ketika difilmkan. Atau sebaliknya, naskah berdasar novel yang kurang menarik, justru menjadi cerita yang menarik ketika difilmkan. Proses alihwahana antara karya sastra menjadi karya film memang mesti berada di tangan yang tepat.


Tepat yang dimaksud adalah novel yang baik, dialihkan menjadi naskah atau skenario film oleh penulis yang baik, dipegang oleh sutradara yang baik, serta dimainkan oleh aktor-aktor yang baik. Itu mungkin menjadi syarat agar sebuah karya film berdasar novel bisa menjadi sebuah mahakarya.


Dan akhirnya, film berdasar novel yang baik, juga ditangani oleh orang-orang yang tepat telah lahir. Sepertinya, film ini bahkan akan mencetak sejarah baru.


Film yang dimaksud adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang disutradarai oleh Edwin dan dibintangi oleh Ladya Cheryl, Marthino Lio, dan didukung oleh sejumlah aktor kenamaan Indonesia, mulai dari Reza Rahadian, Christine Hakim, Ratu Felisha, Lukman Sardi, sampai nama-nama seniman kenamaan tanah air seperti Yudi Ahmad Tajudin, Djenar Maesa Ayu, Ayu Laksmi, Cecep Arif Rahman, hingga Sal Priadi.


Tentunya, Anda sudah mengetahui bahwa cerita ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Eka Kurniawan. Novel yang terbit di tahun 2014 itu sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing dan mendapatkan sejumlah penghargaan. 


Sejak 2019, gaung film ini sudah diperdengarkan. Bahkan, Ladya Cheryl sudah disebut-sebut akan memerankan Iteung, tokoh wanita petarung di novel ini. Tidak tanggung-tanggung, Eka Kurniawan juga dilibatkan bersama sutradara Edwin untuk menulis skenario. Untuk menata musik, dipercayakan pada Dave Lumenta. Sedangkan Sinematografer asal negeri sakura, Akiko Ashizawa juga ikut mendukung film ini menjadikannya karya yang "naik level".


Setelah proses yang panjang, lebih dari dua tahun tepatnya, film ini pertama kali dirilis justru di luar negeri. Tepatnya, film ini diputar di Locarno Film Festival, salah satu festival film yang cukup disegani di dunia. Ketika pemutaran perdana, film ini mendapatkan apresiasi yang sangat baik, bahkan diganjar dengan penghargaan Golden Leopard, yang merupakan penghargaan tertinggi di Locarno Film Festival.


Belum cukup sampai di situ, film ini juga sudah masuk seleksi resmi Festival Film Internasional Toronto di bulan September ini. Dengan berbagai permulaan yang menjanjikan, apakah film ini akan mencetak sejarah sebagaimana novelnya?


Impoten dan Feminisme


seperti dendam rindu harus dibayar tuntas


Seorang lelaki bernama Ajo Kawir mendapatkan sebuah hal yang cukup mengerikan ketika kecil. Hal itu berdampak pada kemaluannya yang tidak bisa berdiri lagi, alias impoten. Ia berkali-kali ingin memotong alat vitalnya, juga pernah "menyiksanya" dengan cabai. Kemudian, untuk melampiaskan kemarahannya itu, ia kerap berkelahi. Ia bahkan berlatih beladiri hanya untuk berkelahi.


Suatu waktu, ia bertemu dengan Iteung lewat sebuah perkelahian. Namun, pada akhirnya mereka saling jatuh cinta. Iteung mencintai Ajo Kawir yang sudah dipastikan tidak bisa memuaskan hasrat batinnya. 


Itu sinopsis dari kisah yang memadukan cerita silat, maskulinitas, juga feminisme, dalam satu cerita yang mengasyikkan. Setidaknya, dari trailer yang sudah beredar bulan Agustus lalu, sudah ditangkap bahwa cerita filmnya benar-benar mengangkat kisah yang ada di novel.


Berbeda dengan proyek sutradara Edwin sebelumnya berjudul Aruna dan Lidahnya yang dibintangi Dian Sastro. Film yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Laskmi Pamuntjak tersebut sangat jauh berbeda antara kisah di buku dengan film. Sepertinya, hal itu tidak terjadi film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas ini.


Eka Kurniawan yang telah diganjar sejumlah penghargaan kepenulisan atau literatur di mancanegara itu juga disebut-sebut sebagai sastrawan masa kini Indonesia. Ia bahkan telah masuk daftar panjang Man Booker Prize Award, yang hanya satu trip saja di bawah nobel literature. Sehingga, wajar bila ada yang menilai bahwa Eka Kurniawan bahkan bisa saja mendapat penghargaan nobel literatur.


Maka ketika novelnya diangkat menjadi film, ada banyak pula yang menantinya. Seperti apa film itu nantinya, apakah benar akan semanis novelnya?


Namun langkah pertama film ini berbuah Golden Leopard Award. Itu hal yang (sangat) menjanjikan. Namun, hal yang masih menjadi pertanyaan adalah, bagaimana nanti bila film ini diputar di Indonesia? Mengingat bila mengacu ke novelnya, ada terlalu banyak konten vulgar, kekerasan, dan sebagainya yang tentunya akan banyak hilang ketika melewati filter KPI, bukan?

Ads