Kesubliman dan Teror Estetis Menurut Edmund Burke -->
close
Adhyra Irianto
24 September 2021, 9/24/2021 12:15:00 AM WIB
Terbaru 2021-09-23T17:15:05Z
ArtikelEstetikaEvent Flight 612

Kesubliman dan Teror Estetis Menurut Edmund Burke

Advertisement
kesubliman dan teror estetis

PojokSeni.com - Untuk membahas tentang "kesubliman" kita kembali dulu ke pembahasan Cassius Longinus yang (dianggap) menulis karya berjudul Peri Hupsous (The Sublime atau Kesubliman). Dari tulisan panjang itu, Longinus mengarahkan bahwa estetika tidak lagi pembahasan terkait keindahan, kebaikan, fungsi, dan proporsi. Tapi, justru membahas kesubliman. Kesubliman berarti ekstase, namun tidak wajar, dan kesatuan dari karya tersebut secara utuh.


Karya yang sublim berarti karya yang agung, begitu kata Longinus. Karena kesubliman akan menghasilkan ekstase (keterlepasan pada diri sendiri), mengandung bahan renungan yang dalam, dan dapat mengejawantahkan karya yang mungkin tampak tidak indah di luarnya. Akan muncul pula semacam keakraban dari pertemuan karya dengan seorang manusia. Kemudian, alih-alih kagum, manusia akan merasa ada keterikatan dengan karya yang disaksikannya tersebut. Bahkan meski karya tersebut tak tampak "indah", karena kesubliman justru tidak terkait dengan keindahan. Kesubliman juga hdair dalam karya-karya yang ganjil, tak masuk akal, dan di luar kewajaran.


Bicara lebih lanjut tentang kesubliman yang menjadi bahan dasar pembicaraan estetika, ternyata ada banyak pandangan yang mulai berubah di era modern terkait kesubliman. Bila Longinus memastikan bahwa kesubliman itu dikandung oleh karya seni, maka ada estetikawan di abad ke-18 yang menilai kesubliman itu adalah sifat dari alam (liar), bukan karya seni.


Longinus juga menilai seorang seniman yang belajar dan berlatih pada akhirnya mampu menciptakan kesubliman tersebut. Namun, pandangan itu dibantah di era modern, seperti Joshua Reynolds yang menyebut teknik dan latihan apapun tidak akan mencapai kesubliman, karena sublim itu tak terdefinisikan. Maka dari itu, beralih ke era modern, kita bertemu dengan nama Edmun Burke yang bicara banyak tentang kesubliman di abad ke-18.


Edmund Burke (1729-1791) selain dikenal sebagai pemikir di bidang politik, nyatanya juga menulis A Philoshopical Inquiry into the Origin of Our Ideas of the Sublime and the Beautiful. Dari karya tersebut, konsep sublimitas atau kesubliman kembali menjadi pembicaraan hangat. Semua pandangan Burke terkait kesubliman itu, pondasinya adalah pandangannya terhadap estetika menjadi seperti kajian psikologi.


Sebab, menurut Burke, hal yang dikaji atau objek kajian estetika ialah gejolak batin, perasaan, cinta, dari seseorang yang bertemu dengan "keindahan". Namun, keindahan yang dimaksud Burke sangat berbeda dengan keindahan era klasik.


Bila di era klasik, keindahan sangat tergantung pada proporsi karya, namun hal itu ditolak oleh Burke. Proporsi menurutnya ialah perkara matematika dan bisa dipersepsi dengan kognisi. Namun keindahan ialah perkara perasaan dan dipersepsi dengan imajinasi. 


Selain itu, bila di era klasik, keindahan juga terkait dengan kegunaannya, maka Burke lebih tegas lagi menolak itu. "Moncong babi hutan itu sangat berguna bagi babi hutan, tapi sangat tidak indah," kata Burke.


Kenapa seperti itu? Yah, kata Burke, karena moncong babi hutan tadi tidak menghadirkan kesubliman. Bahkan hal-hal yang "negatif" seperti kecil, rapuh, lemah, dan sebagainya merupakan keindahan itu sendiri. Perempuan menjadi indah ketika ia tampak malu-malu, peka dan sensitif, juga hal lain yang "mirip" dengan kelemahan. Sehingga, suatu yang kuat, kokoh, dan sebagainya justru tidak terkait bahkan berlawanan dengan keindahan.


Rasa sakit, kepedihan yang tak terperih, atau hal-hal lain yang menyentuh situasi batas seorang manusia, disebut Burke sebagai teror estetis pada kesubliman. Dan kesubliman memiliki nilai yang lebih tinggi daripada keindahan. Yah, kehancuran dan kengerian, kesedihan dan kepedihan, menurut Burke, memang menerbitkan teror bagi pemirsanya. Namun, dengan "jarak" antara tontonan dan penonton maka hal-hal tersebut bisa diapresiasi secara estetis.


Berbeda bila kehancuran, kengerian, kesedihan, ketakutan, dan kepedihan tersebut dirasakan "tanpa jarak" oleh seseorang. Misalnya, ia berada di atas kapal dan kapal tersebut akan tenggelam. Maka, kepanikan dan ketakutan yang dirasakan orang-orang di atas kapal membuat mereka tidak akan "mau" mengapresiasi kejadian tersebut secara estetis. Berbeda halnya dengan seseorang yang menonton film Titanic, lalu melihat kejadian yang sama; kapal yang akan tenggelam dan orang-orang yang ketakutan. 


"Maka kesubliman juga berarti kengerian yang dihadirkan lewat jarak atau simulasi sebuah kengerian," terang Burke.


Ketika pemirsa melihat "kesubliman" tersebut, maka pemirsa akan terpana. Mereka mungkin akan panik, dan cemas, tapi jarak antara penonton dan tontonan membuat pemirsa merasa "aman".  Saat itu, bahasa dan segala rasionalisasi dari karya yang disaksikan seakan terseret di arus kengerian. Itulah yang dikatakan Burke sebagai momentum kesubliman.


Selain teror, ada perasaan lain yang bagi Burke juga berkait dengan kesubliman. Antara lain kengerian, kekaburan, keluasan, ketakhinggaan, kekuatan, dan kegelapan.