Musik itu Tidak Ada; Sanggahan Ekstrim dari Sextus Empiricus Terhadap Musik -->
close
Pojok Seni
23 September 2021, 9/23/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-09-23T00:00:00Z
EstetikaMusik

Musik itu Tidak Ada; Sanggahan Ekstrim dari Sextus Empiricus Terhadap Musik

Advertisement
Sextus Empiricus dari Alexandria
Sextus Empiricus dari Alexandria

pojokseni.com - Nama Sextus Empiricus (160-210 SM) tidak hanya dikenal sebagai filsuf dan pemikir dari Alexandria. Tapi, pemikir dari mazhab skeptis ini juga menjadi terkenal di eranya lantaran bantahannya terhadap musik. Ia menulis buku berisi bantahan-bantahan terhadap apa yang sudah ada di era itu. Kitab tersebut berjudul Adversus Mathematicos atau "Melawan Matematika". Ketika diterjemahkan ke Bahasa Inggris, kitab tersebut menjadi berjudul "Againts the Professors".


Di dalam kitab tersebut, ada sembilan poin yang dibantah oleh pemikir fenomenal satu ini. Salah satu di antaranya adalah musik. Bagian tersebut berjudul Adversus Musicos (Againts the Music). Premisnya ialah musik memiliki dua objek, yakni melodi dan ritme. Menurut Sextus, keduanya itu tidak ada. Dan itu berarti, musik itu sejatinya tidak ada. 


Seperti apa pemikiran yang ekstrim dan menjadi fenomena di eranya tersebut? Mari kita bedah bersama-sama.


Objek pertama dari musik adalah melodi. Melodi menjadi komponen utama pembentuk musik, dan menurut Sextus, melodi itu tidak punya substansi dan juga "tidak ada". Apa yang mendasari pernyataan Sextus ini?


Landasan dari musik itu adalah suara, dan suara ialah objek indrawi (pendengaran). Premis bantahan Sextus ialah, suara merupakan sebuah proses yang terdiri dari dua variabel, yakni "sedang menjadi ada" dan "sedang menjadi diam". Logika yang digunakannya adalah, "sedang menjadi ada tidak berarti ada", dan "sedang menjadi diam tidak berarti tidak ada". Maka garis di tengahnya adalah, berarti "tidak ada".


Sextus juga dikenal sebagai orang yang menyebut bahwa "jiwa" itu tidak ada. Dan argumen ontologisnya terhadap jiwa, maupun suara, sama-sama bermuara pada satu kesimpulan, bahwa musik itu tidak ada. Musik adalah suara-suara yang hadir setiap hari dari sebuah proses apapun. Berjalan, mengetuk, bernafas, denyut jantung, desir angin, gemericik air, dan sebagainya. Maka, hanya ada dua kemungkinan, semua suara itu adalah musik, atau semuanya hanya hasil dari proses tertentu yang menghasilkan suara. Bila merujuk ke ide kedua, maka semua proses yang ada di bumi ini adalah penghasil suara. Suara itu tidak punya substansi, sedangkan substansi berada di prosesnya. 


Seperti misalnya seseorang memotong kayu dengan gergaji mesin. Maka substansinya bukan terletak dari suara mesin, tapi proses memotongnya. Dengan demikian, menurut Sextus, suara tidak punya substansi. Suara tersebut bisa dianggap "ada", sekaligus "tidak ada". Suara yang tidak ada misalnya ketika Anda melihat rekaman video orang yang memotong kayu, namun suaranya dimatikan (mute). Maka, proses memotong kayu tersebut tidak berkurang dan juga tidak bertambah substansinya. Atau, Anda melihat lalu lalang orang-orang dan kendaraan yang sangat ribut suaranya. Lalu, Anda mencoba menutup telinga Anda sehingga suara ribut tersebut tidak ada. Substansi dari "kesibukan" dan "lalu lalang" tersebut tetap tidak berkurang, dengan ada atau tidaknya suara yang terdengar.


Sesuatu yang tidak punya substansi, berada di antara ada dan tiada. Karena berada di antara "ada" dan "tidak ada", maka sah-sah saja bila yang dipilih antara keduanya. Sialnya, Sextus memilih yang kedua. Yah, ia memilih "tidak ada".


Bagaimana dengan ritme? Ketika membahas ritme, Sextus membahas tentang satuan waktu. Yah, tempo, ketukan, dan sebagainya yang berada di dalam ritme adalah tentang satuan waktu. Bicara tentang satuan waktu, berarti harus membahas tiga kesatuan waktu, yakni masa lalu, masa kini, dan masa depan. Bagi Sextus, satuan waktu yang berpijak pada masa lalu adalah sesuatu yang "pernah ada", sedangkan yang berpijak di masa kini adalah sesuatu yang "sedang mungkin ada, mungkin juga tidak". Sedangkan yang berpijak di masa mendatang adalah sesuatu yang "belum atau tidak pernah ada". Bila satuan waktu yang digunakan dalam ritme adalah masa kini, saat ini, maka bisa jadi ada, bisa juga tidak. Dan lagi-lagi, karena berada di antara ada dan tidak ada, maka pilihan bisa ke salah satunya. Lagi-lagi juga, Sextus memilih tidak ada.


Premisnya yang cukup terkenal adalah "sesuatu yang dibangun dari ketiadaan, berarti sebuah ketiadaan". Jadi, karena musik dibangun dari sebuah "ketiadaan" maka musik berarti "tidak ada". Memang cukup membingungkan logika yang digunakan Sextus, namun hasil yang dipaparkannya adalah sebuah kejutan yang mengguncang para musisi di era itu. Yah wajar saja, bagaimana seorang yang bertahun-tahun memelajari musik, alat musik, dan semua teori musik. Kemudian, mencari ide dan lewat proses yang panjang dan keras akhirnya menciptakan sebuah karya musik. Eh, ketemu dengan seorang yang mengatakan bahwa musik itu tidak ada. Bayangkan bila Anda berada di posisi sang musisi. Tentu juga ingin menimpuk Sextus dengan Cello, bukan?