Perbedaan Standar Tuning Alat Musik Selama Puluhan Tahun: A tengah 440 hertz atau 432 hertz? -->
close
Pojok Seni
08 Juli 2021, 7/08/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-07-08T00:00:00Z
BeritaMusik

Perbedaan Standar Tuning Alat Musik Selama Puluhan Tahun: A tengah 440 hertz atau 432 hertz?

Advertisement
perbedaan standar tuning alat musik 440 hertz atau 432 hertz

PojokSeni.com - Bila Anda mendengarkan musik di era tahun 1990-an, maka Anda tentu akan menyadari bahwa setelan (tuning) gitar di lagu-lagu lawas tersebut rata-rata "turun" setengah nada dari lagu-lagu di era saat ini. Apa penyebabnya?


Ternyata, hal itu dikarenakan perbedaan setelan standar untuk alat musik yang digunakan. Bila di era tersebut rata-rata musisi menggunakan setelan A tengah di frekuensi 432 hertz, maka saat ini rata-rata musisi menggunakan setelan A tengah di frekuensi 440 hertz.


Bagaimana bisa berbeda? Simak sejarah panjangnya berikut ini.


Jadi, dulunya musisi menggunakan garpu tala untuk menjadi setelan standar gitar khususnya di nada E (senar 6 dan senar 1), dan nada A (senar 5). Namun, diketahui bahwa nada yang didapat dari garpu tala tersebut berbeda di seluruh dunia.


Lalu, sebuah Kongres Musik Internasional di Inggris pada tahun 1953 menetapkan bahwa nada dasar A berada di frekuensi 440 hertz. Hal itu yang kemudian digunakan menjadi setelan standar di seluruh dunia.


Masalah bermula ketika musisi dan komponis Perancis tidak ada yang hadir dalam kongres tersebut. Perancis di negaranya justru tetap menggunakan frekuensi 432 hertz untuk nada standar A di setelan mereka. 


Perdebatan ideologis dan politis


Perancis kemudian mengajukan usulan untuk tetap menggunakan frekuensi 432 hertz, setidaknya di negara mereka. Hal tersebut membuat perpecahan di kalangan komponis dunia, khususnya di Eropa. Ada yang berpendapat bahwa komponis Perancis tidak diundang ke kongres musik tersebut dikarenakan mereka akan tetap berkeras dengan menggunakan frekuensi 432 hertz.


Seperti yang diprediksi, Perancis tetap bersikukuh untuk mempertahankan setelan standar mereka. Beberapa musisi yang sempat belajar di Perancis, ketika kembali ke negaranya juga tetap memperkenalkan frekuensi 432 hertz sebagai nada standar A.


Masalahnya menyerempet ke mana-mana. Sebuah artikel yang muncul di akhir tahun 1988 menyebut bahwa Adolf Hitler pernah menggunakan musik dengan gelombang 432 hertz untuk propaganda, baik untuk menyebarkan kebencian, rasa takut, maupun menakuti lawannya. Hal itu justru membuat ada anggapan bahwa musisi atau komponis yang tetap menggunakan frekuensi 432 hertz untuk standar nada A adalah "pro Nazi".


Tidak hanya perdebatan politis, namun pada akhirnya perdebatan tersebut mengarah ke ranah spiritual. Banyak peneliti menemukan fakta bahwa musik yang digunakan sejak era Yunani, Mesir, Romawi, bahkan Arab di era terdahulu menggunakan setelan dasar pada frekuensi 432 hertz. Musik untuk meditasi, menenangkan jiwa, menggetarkan hati, diklaim akan lebih tepat sasaran bila menggunakan frekuensi tersebut.


Maka tahun 1990-an tepatnya, musisi lebih banyak menggunakan setelan di frekuensi tersebut. Banyak grup orkestra yang mencoba mengenalkan musik dengan nada standar 432 hertz di setiap konser mereka. Kemudian, frekuensi 432 hertz ini disebut sebagai Kundalini Frequency.


Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa frekuensi 432 hertz atau Kundalini Frequency akan menghasilkan musik yang bulat, utuh, dan menenangkan. Kundalini Frequency disebut pula sebagai penghasil musik yang mendamaikan suasana.


Italia, Inggris dan Amerika tetap 440 Hertz


Inggris tetap menghormati hasil kongres musik yang digelar di negara mereka. Semua alat musik dibuat dengan setelan khusus 440 hertz. Amerika yang sudah terlebih dulu memberi aturan 440 hertz sebagai setelan standar untuk semua instrumen musik (tepatnya tahun 1917) juga tetap membuat alat musik di nada A dengan frekuensi 440 hertz.


Hasil penelitian di dua negara tersebut menyatakan bahwa frekuensi 440 hertz adalah yang terbaik untuk ruangan konser. Ditambah lagi, di Inggris penelitian lain menyebutkan bahwa frekuensi 440 hertz juga sangat baik untuk membuat alat musik menjadi tahan lama, apalagi yang terbuat dari bahan kayu.


Di kemudian hari, frekuensi 440 hertz dikenal dengan nama Stuttgart Pitch. Karena frekuensi ini ditemukan dan diperkenalkan pertama kali di kota Stuttgart, Jerman. Maka Stuttgart Pitch vs Kundalini Frequency masih menjadi perdebatan, bahkan hingga hari ini.


Ternyata, Italia jauh lebih dulu mematenkan nada dasar untuk instrumen musik harus berada di 440 hertz. Pemerintah Italia melalui komisi musik di kementerian kesenian memberi ketegasan tentang penggunaan frekuensi "Stuttgart Pitch" tersebut di tahun 1885, hingga hari ini. 


Jalan tengah, Phi Emas


Pernah dengar istilah "phi emas". Yah, emas perbandingan ini selalu menjadi patokan untuk menyatakan sesuatu sebagai "indah secara matematis". Dari perhitungan Phi emas ini, menghubungkan perhitungan frekuensi nada dasar ini dengan "hal-hal indah namun alami" seperti cangkang nautilus, piramida Mesir, dan taman gantung Babilonia, juga keindahan-keindahan alami lainnya.


Apa hasilnya? Banyak yang percaya bahwa 440 hertz untuk nada A adalah hal yang terlalu keras dan "keji" untuk alam. Sedangkan frekuensi 432 adalah nada matematika yang murni untuk alam. Namun, untuk menghitung lebih "alami" dan "konsisten", maka frekuensi yang sangat alami untuk A tengah adalah 438 hertz.


Jalan tengah ini justru malah menghadirkan alternatif lain yang menambah kepusingan bukan? Pada akhirnya, pada musisi akan menyetel alat musiknya di tiga frekuensi tersebut untuk nada A. Kemudian, mereka akan mencari di antara tiga frekuensi tersebut, mana yang paling "damai" di telinga mereka.


Namun, bila Anda tidak mau pusing dan tetap ingin berada di nada standar, maka ikut saja A tengah 440 hertz. Baik Anda membeli piano di Tiongkok, Jepang, Inggris, Kanada, Amerika, sampai membeli di Indonesia pun, nadanya akan tetap terdengar sama.


Mungkin akan berbeda bila Anda membeli piano Anda di Perancis.