The Trolley Problem, Gesekan Antara Moral dan Logika -->
close
Pojok Seni
20 June 2021, 6/20/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-06-20T00:00:00Z
ArtikelBerita

The Trolley Problem, Gesekan Antara Moral dan Logika

Advertisement


Pojokseni.com - Tahun 1967, seorang filsuf moral di Oxford, Philippa Foot merancang dan memperkenalkan "The Trolley Problem" alias Masalah Troli lewat makalahnya berjudul "The Problem of Abortion and the Doctrine of the Double Effect". Lewat makalah tersebut, Philippa Foot memaparkan sebuah masalah yang melibatkan dilema etika.


Masalah troli yang dipaparkan oleh Philippa Foot yang paling tradisional adalah sebagai berikut:


Sebuah troli dengan seorang pengemudi meluncur di jalur rel. Masalah ditemukan ketika troli yang meluncur cepat tersebut bertemu lima orang yang berada di jalur utama. Namun, ada belokan sebelum bertemu dengan lima orang yang berdiri di jalur utama. Di belokan tersebut ada satu orang berdiri.


Dengan demikian, hanya ada dua kemungkinan, yakni:


  1. Tetap membiarkan troli melaju lurus dan menabrak 5 orang
  2. Berbelok, dan masuk ke jalur samping, kemudian menabrak 1 orang.


Apabila Anda berada di posisi tersebut, apa yang akan Anda lakukan? Kebanyakan orang berpegang pada etika, di mana membiarkan korban yang lebih sedikit lebih baik ketimbang korban yang lebih banyak. Maka lebih banyak yang akan memilih berbelok, meski sebenarnya jalur samping tak tahu mengarah ke mana.


Meski demikian, apapun pilihan Anda, akan tetap dipertanyakan secara moral. Karena, akan ada korban yang meninggal. Apalagi, kasusnya diperumit dengan fakta bahwa satu orang di jalur samping adalah seseorang yang didorong ke rel agar mati, karena ada orang yang menginginkan organ tubuhnya. Dengan kata lain, satu orang di jalur yang lain itu merupakan orang yang sengaja akan dibunuh.


Ada beberapa kasus lain yang pernah terjadi dan serupa dengan dilema tersebut. Misalnya dua kasus berikut ini:


Kasus 1


Ada lima orang yang sekarat dan membutuhkan transpalatasi organ tubuh, masing-masing membutuhkan organ yang berbeda. Sialnya, kelima orang itu tak kunjung mendapatkan donor. Di saat yang menentukan, ada seorang gelandangan yang melewati kota itu, kebetulan berteduh di rumah sakit. Keluarga dari lima orang itu menculik gelandangan itu, dan meminta rumah sakit untuk membunuh sekaligus mengambil organ tubuhnya.


Kasus 2


Seorang hakim dihadapkan dengan ratusan orang yang menuntut keadilan atas pembunuhan terhadap pemimpin mereka. Tak jelas siapa yang membunuh, namun ratusan orang itu berjanji akan mencari pelakunya dengan cara mereka sendiri apabila aparat hukum tak mampu menangkap pelaku pembunuhan tersebut. Di saat yang menentukan, seorang mantan napi kasus pembunuhan tertangkap tangan mencuri di mini market.


Kasus 3


Ingat bagaimana dua vaksin pertama Covid-19, yakni Oxford-AstraZeneca Covid-19 dan Johnson & Johnson Covid-19? Bukankah sudah ditemukan bahwa keduanya memiliki efek samping yang cukup berbahaya dan bisa mengakibatkan kematian. Hanya saja, kemungkinannya adalah vaksin tersebut "mungkin" membunuh dalam jumlah kecil, dibandingkan dengan kematian karena Covid-19.


Dengan kasus seperti di atas, tentunya mirip dengan masalah troli (the trolley problem), bukan? Anggap saja, kasus tersebut adalah "masalah troli tanpa troli".


Mungkinkah ada solusi untuk trolley problem?




Sembilan tahun pasca makalah Philippa Foot diterbitkan, giliran Judith J Thomson yang menerbitkan makalah dengan judul "Killing, Letting Die, and The Trolley Problem". Sedikit berbeda karena meski ceritanya sama, namun ada tambahan satu orang lagi, yakni lelaki gemuk.


Lelaki gemuk itu adalah orang yang dilemparkan dari atas lintasan troli. Ia satu-satunya beban berat yang bisa menghentikan troli tersebut, sehingga tidak menabrak lima orang yang lain mati. Pertanyaanya, kenapa si gemuk itu harus dikorbankan? Apakah yang ia dapatkan dengan pengorbanan itu? Bagaimana keluarga atau orang yang ditinggalkannya?


Secara moral, tentunya tidak ada yang benar di antara keduanya. Baik membunuh satu ataupun lima orang, tentu saja sama-sama sebuah kesalahan. Bila Anda adalah pengemudi troli tersebut, apakah Anda akan mengambil jalan yang sama. Menggunakan manusia sebagai penyelamat manusia lainnya seperti dipaparkan dalam berbagai contoh di atas. 


Masalah troli ini merupakan satu masalah yang "diciptakan" untuk menggantikan masalah yang terjadi di kehidupan, namun tidak ada solusi. Masalah troli bukanlah tentang mencari "solusi" tapi melihat bagaimana seseorang akan bertindak. Bila dogma tertentu meminta seseorang untuk berjalan lurus, meski ada lima korban, itu akan dipilih ketimbang dia harus "belok". 


Masalah ini seperti masalah filosofis lainnya, meminta seseorang untuk berpikir jernih dan mempertimbangkan orang lain, alih-alih dogma, keselamatan diri, dan kepentingan diri sendiri. Karena itu, banyak yang berkata bahwa masalah troli diciptakan hanya untuk direnungkan, karena tidak ada solusi yang pasti untuk masalah ini.


Diangkat ke film dan televisi


Trolley problem di film Spiderman
Trolley problem di film Spiderman, tangan kanan Green Goblin memegang rantai yang terkait ke kereta gantung, sedangkan tangan kiri memegang Mary-Jane Watson, pacar Spiderman

Trolley problem diangkat oleh Marvel menjadi salah satu masalah filosofis yang harus dipilih Spidermen ketika musuhnya, Green Goblin memegang kereta gantung berisi puluhan orang, dan di tangan satu lagi memegang satu orang yang paling dicintai Spiderman, yakni Mary-Jane Watson. Dalam waktu yang sangat kritis, Spiderman hanya bisa memilih salah satu untuk diselamatkan. 


Kemudian, film Walking Dead juga mengangkat trolley problem di dalam kisahnya. Tokoh bernama Rick Grimes harus memilih antara mengalah pada gubernur dengan cara menyerahkan teman sejatinya, Michonne ada Gubernur. Atau, memilih risiko kota Woodbury akan menyerangnya. Kematian satu orang, atau kematian orang banyak yang harus dipilih membuat dilema baginya.


Bahkan drakor (drama korea) juga tidak ketinggalan membawa trolley problem dalam kisahnya. Seorang jaksa muda memilih antara menyetujui donor dari seorang yang mati otak untuk menyelamatkan tujuh orang. Tujuh orang tersebut, salah satunya adalah anak dari teman dekatnya. Di saat bersamaan, untuk menyelesaikan kasus dari pasien yang mati otak tersebut, tentunya jenazah perlu diotopsi. Apabila diotopsi terlebih dulu, tentunya tujuh orang tadi tidak bisa diselamatkan.


Kondisi trolley problem ketika diangkat ke film, atau mungkin di televisi, karya sastra, panggung, dan sebagainya menjadi sebuah kondisi dilematis yang tidak hanya memusingkan pemeran. Tapi, bahkan penonton juga akan ikut memusingkan masalah tersebut karena terjebak antara moral, atau logika.