Kegiatan Bermakna dalam Kesenian Tradisional -->
close
Pojok Seni
18 June 2021, 6/18/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-06-18T07:55:57Z
BudayaEstetikaOpini

Kegiatan Bermakna dalam Kesenian Tradisional

Advertisement
Tari Maengket asal Minahasa (sumber foto: Blogkulo)

OlehAmbrosius M. Loho, M. Fil. (Dosen Universitas Katolik De La Salle Manado – Pegiat Filsafat - Estetika)


PojokSeni.com - Pertanyaan sentral yang menggelitik penulis adalah: apakah kegiatan berkesenian berbasis tradisi, merupakan sebuah kegiatan bermakna? Pertanyaan ini menggelitik penulis, karena tak bisa dipungkiri adanya sebuah anggapan bahwa dengan berkesenian tradisional, kita dianggap ‘jadul’, atau ketinggalan zaman. Berbanding terbalik, kegelisahan ini justru memicu penulis untuk menunjukkan apa kekhasan kesenian tradisional, serta apa saja yang menjadi kekuatan dalam kesenian tradisional itu.


Sudah menjadi hal yang lumrah bahwa kesenian yang berbasis tradisi, tidak bisa lepas dari konteks kebudayaan tertentu. Budaya Minahasa misalnya, turut membentuk dan memperkuat eksistensi musik kolintang dan tari Maengket, demikian pun tari Saman juga diyakini merupakan wujud eksistensi budaya Aceh. Maka jelaslah bahwa kesenian-kesenian berbasis tradisi ini adalah wujud ekspresi dari nilai-nilai budaya setempat. 


Kesenian tradisional merupakan wadah dominan, untuk mengartikulasikan atau mengejawantahkan kebudayaan sebuah tempat. Maka tak menutup kemungkinan, kemajuan kebudayaan bangsa, juga ditunjang oleh kemajuan kesenian tradisional, karena kesenian merupakan salah satu unsur kebudayaan. Pendek kata, kesenian tradisional pada dasarnya sangat berperan penting, karena akarnya adalah budaya masyarakat. 


Berkesenian tradisional, hemat penulis, merupakan sebuah kegiatan yang penting, dan tentu saja bermakna. Mengapa bermakna? Karena kegiatan ini telah berawal dari sebuah konsep penciptaan karya seni bahkan sampai pada pertunjukannya. Maka dari itu, konsep kegiatan bermakna filosof Irlandia Alasdair MacIntyre sejalan dengan konsep berkesenian ini. Bagaimana kita melihat keselarasan kedua konsep ini? Hal penting yang harus kita ketahui adalah bahwa sebuah kegiatan bermakna mengungkapkan dan mengembangkan kemampuan-kemampuan manusiawi yang penting, yang dimantapkan secara sosial. Kegiatan bermakna juga dicapai melalui kegiatan-kegiatan tertentu, yang tentu saja menentukan sebuah tujuan yang akan dikejar. Demikian juga, melalui kegiatan bermakna ini, nilai-nilai internal kegiatan itu terealisasikan. 


Lebih lanjut MacIntyre menekankan bahwa terdapat dua macam nilai internal dalam sebuah kegiatan bermakna: yakni mutu atau kualitasnya dan makna dan nilainya. Semakin sebuah kegiatan disebut atau termasuk dalam golongan kegiatan bermakna, maka tentu saja, hal itu semakin bernilai bagi saya. Makin banyak kegiatan bermakna yang saya lakukan, makin bernilai lah hidup saya. (Magnis Suseno 2000: 201). Maka dengan demikian nilai-nilai universal sebuah kesenian tradisional, yang penulis sebutkan merupakan sebuah wujud kegiatan bermakna, bisa menjadi patokan normatif dalam eksistensi lanjut dari kesenian tradisional itu.


Kendati demikian, pada kenyataannya para pelaku kesenian tradisional terus berjuang dengan caranya masing-masing untuk mengembangkan, mempertahankan serta melestarikan berbagai kesenian tradisional yang ada itu. Upaya-upaya nyata mereka tidak bisa dipungkiri, didominasi oleh spirit dan keyakinan bahwa kedepannya kesenian tradisional akan mampu bertahan di tengah arus globalisasi dan modernisasi, termasuk globalisasi dan modernisasi dalam seni itu sendiri. Keyakinan dan spirit inipun ditopang oleh pandangan bahwa kesenian tradisional adalah identitas kultural yang merupakan wujud positif identitas mereka, di mana kesenian tradisional ini adalah salah satu media yang mampu melegitimasi dan mempertahankan identitas yang dimaksud. 


Maka berangkat dari berbagai uraian di atas, perlulah suatu upaya untuk: Pertama, mengidentifikasi kesenian-kesenian tradisional tertentu yang dominan dan berkesinambungan, yang memiliki peluang untuk dikembangkan dan diperkaya, serta dapat menarik munculnya apresiasi masyarakat baik lokal maupun global. Kedua, kesenian-kesenian tradisional yang terpilih lebih diartikulasikan sesuai dengan tuntutan perkembangan sosial, sehingga mudah beradaptasi dan mendorong kepekaan umum terhadap nilai-nilai seni. Ketiga, mendorong dinamika seni menjadi kreasi dan santapan segar untuk kelengkapan kehidupan sehari-hari, dalam arti menjadikan kesenian tradisional sebagai semacam way of life. Idealnya, kesenian sebagai bagian dari kebudayaan nasional memperoleh maknanya dalam kaitan dengan pemahaman dan apresiasi terhadap nilai-nilai kultural.