Catatan Rudolf Puspa: "Teater itu Wajar dan Indah" -->
close
Adhyra Irianto
22 June 2021, 6/22/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-06-22T00:00:00Z
OpiniteaterUlasan

Catatan Rudolf Puspa: "Teater itu Wajar dan Indah"

Advertisement


Pesan mas Arifin C Noer yang terus berada dalam benakku yang berawal ketika belajar bermain drama yang kemudian hari sangat mempengaruhi dasar warna langkah kehidupanku adalah “teater itu wajar dan indah”. Selanjutnya beliau mengingatkan bahwa dalam implementasinya hindari mewajar2kan atau mengindah2kan. Bagaimana caranya itu maka jawabnya sambil senyum “cari sendiri dong”. Baca buku2 yang ada di rumah kontrakkan mas Arifin di Jakarta seperti Stanislavsky, Brecht, Grotovski dan banyak lagi memanaskan hati dan otakku. Selanjutnya lebih banyak praktek saja di produksi Teater Ketjil. Selebihnya ketika malam tiba di panggung teater di Taman Ismail Marzuki tahun 1968., aku berlatih sendiri untuk menemukan jawaban. Teman2 stage crew yang sama sama menginap sering melihat tingkah polahku dan karena kebanyakan bukan berasal dari sanggar teater tentu saja tidak bisa memberi komen dengan alasan tidak mengerti. Sangat beruntung selama berada di Teater Ketjil aku sering mendapat peran2 dalam produksi mas Arifin dan makin dekat ketika menjadi astradara. Melalui kesempatan itulah bisa berbincang dengannya tentang ilmu acting yang diam2 sebenarnya aku mencari tau tentang apa si yang dimaksud “wajar dan indah”. Kebetulan suatu hari TIM mendatangkan wayang orang Sriwedari dari Solo. Lagi-lagi mas Arifin pesan agar saya melihat, memperhatikan sungguh2 bagaimana permainan para pemain wayang itu. Kelompok ini tidak asing bagiku karena aku sering nonton sejak masih sekolah dasar di Solo hingga SMA. Apalagi di akhir tahun acara perpisahan sekolah SMA banyak yang diadakan di gedung wayang orang Sriwedari dengan menonton pertunjukkan mereka. Suasana santai sambil makan minum ngobrol namun tetap mengikuti jalannya pertunjukkan, terlebih ketika punokawan Semar Gareng Petruk Bagong muncul, semua tersedot nonton karena memang sangat lucu dan leluconnya mengena di hati. Banyak kritik kemanusiaan tajam muncul dan disajikan dalam ucapan2 yang komedik. Itulah yang aku kenal dengan sebutan “guyon maton”. Lucu namun bukan omong kosong. Itulah salah satu kekuatan pentas wayang orang maupun kulit. Secara kasat mata acting wayang orang ada unsur gerak tari. Ucapan dialognya juga ada unsur nyanyi. Bahkan adegan perkelahian sebagai penyelesaian akhir sebuah masalah sangat kentara unsur tari dan tentu kepandaian silat atau bela diri yang lain. Namun lama kelamaan aku menangkap ada kedekatan dengan apa yang dikatakan mas Arifin. Enak ditonton dan tidak terasa sebagai sesuatu yang “ganjil”. Seperti kita ketahui sesuatu yang ada keindahannya akan selalu nikmat disaksikan. Hati yang bersih kita akan muncul ketika tersentuh oleh keindahan. Dan wayang orang yang tata pakaian, rias jelas tidak merupakan pakaian dan rias dari manusia sehari2 tetap saja tidak mengganggu kita untuk menyaksikannya. Untuk sementara kulupakan teori2 acting dari pakar2 mancanegara dan lebih mendalami wayang orang, ketoprak, topeng Jabung, lenong dan jenis2 teater tradisional kita yang banyak telah ada di Indonesia sejak sebelum negeri ini merdeka. Teringat kata Rendra ketika pulang dari Amerika mengajak agar kita kembali ke Timur. Dan memang benar ternyata kita sendiri punya kekayaan seni pertunjukkan yang begitu “dahsyat”. Pada umumnya ada empat hal yang mesti dikuasai para pemainnya yakni berdialog, nyanyi, tari, silat. Silat tidak ada keharusan karena banyak peran yang jarang atau tidak ada adegan perangnya. Tentu saja sukar bahkan hampir tak ditemukan apa teori akting mereka. Apalagi pelajaran apa yang mereka dapat dari ilmu2 mancanegara. Barangkali terkecuali Dardanela yang dipimpin Don Pedro yang asal Spanyol. Jikapun Belanda membuat perubahan hanya terbatas pada pembuatan panggung prosenium dan juga design costume serta dekorasinya. Namun jika menukik lebih dalam tentang ilmu pemeranan maka masih tetap asli dari mereka. Kesiapan individu menjadi dasar utama mereka. Sutradara bukan pelatih acting karena umumnya hanya lebih kepada memberikan alur cerita, ide2 pesan yang perlu disampaikan ke publik. Oleh karenanya pertunjukkan mereka secara kasat mata yang namanya pengadeganan, bloking, tata panggung tetap tak pernah ada perubahan. Namun kenapa memiliki daya tarik yang kuat sehingga pada masa itu pertunjukkan mereka tak pernah sepi penonton. Suatu kali pernah menemui pemain Dasamuka dan aku tanya bagaimana bisa tampak berbadan besar dan gagah serta karismatik di panggung? Beliau tak mampu menerangkannya dan akhirnya hanya berkata bahwa ketika saatnya muncul tiba ia berdiri di wing panggung dan tepat beberapa detik sebelum masuk panggung ia gedruk atau menghentakkan kedua kakinya ke lantai lalu masuk. Begitu juga pemain Gatutkaca mengatakan begitu mau masuk ia pakai bedong, atau sayap dipunggung lalu menepuk dada dan merasa ia terbang dan baru masuk panggung dan terbang. Sekian tahun kemudian aku menemukan jawabannya bahwa cerita wayang sudah melegenda di hati penonton. Peran2 wayang sudah ada di benak penonton bahwa misalnya Gatutkaca bisa terbang, Srikandi wanita ahli memanah dan sebagainya. Ketika muncul di panggung maka mereka itu memindahkan apa yang dimiliki penonton dalam benaknya ke panggung. Pemain Gatutkaca hanya lari mengitari panggung dengan mengibaskan kain selendangnya sambil menunduk maka kita telah merasakan dia sedang terbang di angkasa. Loncat dan kita merasa dia turun ke bumi. Demikian juga adegan romantis, adegan berdebat, adegan perang; semua dilakukan dengan teknik yang sangat bagus. Tidak ada harus cium atau adegan ranjang seperti film Holywood, tidak ada kata kasar atau maki2an, tak ada tusuk pisau atau tertancap panah atau pukulan2 hingga wajah dan dada berlumuran darah. Semua dilakukan dengan “wajar dan indah” sepeti yang dikatakan mas Arifin. Aku menyadari bahwa untuk memberikan gambar kekerasan tak perlu dengan menunjukkan bagaimana kekerasan berlangsung. Inilah kehebatan seni yang jika mau meneliti telah ada di bumi pertiwi dalam kurun waktu ratusan atau mungkin ribuan tahun lalu. Bahwa orang jatuh cinta lalu pacaran itu wajar. Bahwa perbedaan sikap dan pikiran bisa jadi perdebatan hingga keras, itu wajar. Bahwa harus ambil jalan berkelahi untuk menyelesaikan itu juga wajar. Namun karena semua itu ketika menjadi sebuah tontonan maka ada usaha mengemas menjadi kewajaran yang indah. Inilah hal yang kemudian aku temukan dari pesan mas Arifin tentang “wajar dan indah”. Sayang sekali kehebatan seni pertunjukkan yang telah ada dengan umur panjang kemudian pelan tapi pasti menjadi senyap bahkan hilang. Tentu hal ini yang perlu dipelajari untuk menemukan solusi bagaimana keilmuan mereka bisa dipelajari bahkan menjadi sebuah teori acting asli Indonesia. Menjadi bahan utama pendidikan acting baik di sanggar2 teater hingga perguruan tinggi kesenian. Saya percaya barangkali sudah ada yang melakukan terutama para sarjana teater kita yang punya kemampuan untuk riset hal ini. Pasti akan menemukan ilmu yang tepat untuk menariknya keluar dari sarang seni tradisional tersebut menjadi kekuatan dasar teater Indonesia post modern. Tentu bukan yang sekedar memodern modernkan seni tradisional namun lupa mengenal “roh”nya. Pasti akan bisa menyadari dan menghilangkan gaya tutur aktor2 kita yang terjebak pada bentuk yang justru tidak wajar dan tidak indah. Misalnya ada kecenderungan secara nasional ketika mengucapkan kata atau kalimat maka suku kedua dari belakang diberi tekanan naik. Kalimat bertanya karena tertutup oleh kefatalan tersebut menjadi sebuah lagu yang bukan bertanya. Dan ketika aku suruh pemain mengucapkan “om aku kangen kepadamu” secara langsung dalam bahasa sehari2 mereka ternyata wajar. Tapi ketika di panggung kenapa jadi tidak wajar? Lalu aku sendiri merenung apa semua sutradara di Indonesia tidak menyadari hal ini ? Dan pertanyaan ini juga selalu aku dengar dari mas Arifin sepanjang aku bersamanya. Iapun senyum berkata “penyakit nasional”. Mari mengikuti ajakan Rendra untuk kembali ke Timur menangkap roh seni pertunjukkan yang telah pernah mengakar di bumi pertiwi serta peringatan mas Arifin bahwa seni teater itu “wajar dan indah”. Salam jabat teater. Jakarta 18 Juni 2021. Rudolf Puspa

Ads