Simulakrum Literasi: Imitasi untuk Manipulasi -->
close
Pojok Seni
21 February 2021, 2/21/2021 04:46:00 AM WIB
Terbaru 2021-02-21T20:05:55Z
Artikel

Simulakrum Literasi: Imitasi untuk Manipulasi

Advertisement

Ketika seluruh Indonesia terkejut dengan hasil penelitian terkait rendahnya tingkat literasi di Indonesia, maka proyek dengan tajuk besar literasi berkobar di seluruh penjuru negeri. Namun, mengutip esai Jamal D Rahman bertajuk "Aksara yang Membingungkan", bahwa memang budaya baca Indonesia rendah karena dalam kehidupan praktis kita sudah terbiasa dengan kelisanan.


Datanglah ke stasiun, terminal hingga bandara, lalu mencoba untuk membeli tiket, meletakkan barang, menunggu antrian dan mengetahui bus mana yang akan datang duluan sambil menutup telinga. Istilahnya, cobalah telusuri semua informasi yang kita butuhkan tanpa mendengar. Dengan kata lain, coba untuk tidak bertanya, tapi hanya mengandalkan membaca. Apa yang kita dapatkan? Yah, kita tersesat, atau kita ketinggalan pesawat.


Di seluruh wilayah Asia, Indonesia adalah salah satu yang terendah budaya membacanya. Dan mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa kita selalu mengandalkan lisan, ketimbang membaca. Termasuk dalam kasus ke stasiun, terminal, bandara, kantor pemerintahan macam Dukcapil, Imigrasi hingga bayar pajak. Ketimbang membaca (yang informasinya memang tidak begitu lengkap), kita lebih memilih untuk bertanya. Kita akan tersesat bila tidak bertanya secara lisan, karena negeri ini sejak dulu memang terbiasa dengan lisan.


Lalu, bagaimana bila tiba-tiba semuanya musti berganti dengan "keberaksaraan". Bagaimana bila tiba-tiba seseorang yang biasa bercerita dengan jelas, detail, lengkap dan lengkap harus berpindah ke tulisan?


Gagap. Yah, gagap. Keterkejutan itu harus dibarengi dengan keterkejutan lain. Pemerintah dan para cerdik pandai telah (seakan) mempostulasikan bahwa literasi kita beranjak "naik". Minat baca meningkat "tajam" dibuktikan dengan meningkatnya pembelian novel pop di seluruh negeri. Juga betapa banyaknya orang yang menulis puisi saat ini. Ribuan buku antologi puisi terbit bergantian. 


Meski demikian, harus dikatakan bahwa bacaan yang hanya di "permukaan" adalah pilihan yang terbaik untuk keterkejutan dan kegagapan ini. Itu masih lebih nyaman ketimbang harus mati-matian menyelami sebuah bacaan yang terlalu dalam untuk dimengerti. Makanya, buku-buku di toko buku ternama juga dibanjiri dengan buku yang gampang dimengerti. Sastra tidak kebagian tempat di sana, apalagi filsafat.


Maka situs penjawab pertanyaan semacam Brainly jadi naik daun. Buku pegangan siswa SMA ada di depan mata, namun ia memilih bertanya dengan Google untuk sekedar pertanyaan yang bahkan tidak butuh begitu banyak analisa. Jawaban akan langsung muncul, lengkap. Itulah pengganti budaya lisan, budaya Googling. Sama cepatnya, bukan?


Jadi, apakah literasi kita meningkat seperti yang digembar-gemborkan? Bukankah perpustakaan semakin ramai, namun karena ada Wi-Fi. Sulit mengidentifikasi mereka datang untuk bermain game online atau mau baca novel Dilan.


Informasinya, literasi memang terus menggeliat. Hasilnya adalah sebuah laporan yang menyenangkan. Yah, literasi meningkat tajam dan buku-buku dengan judul-judul baru terus berdatangan. Namun semua adalah simulakrum. Simulakrum literasi.


Yah, lebih mirip dengan seorang yang berasal dari masyarakat menengah ke bawah, untuk mencari makan pun susah sebenarnya, tapi mati-matian membeli smartphone flagship harga selangit. Cuma untuk tidak kelihatan miskin di mata teman-temannya. Berpadu pula dengan sepeda motor gede, 125 CC yang dibayar kredit per bulan. Tampak gagah di luarnya, tapi sangat rapuh di dalamnya. Riasan-riasan khas krisis eksistensialis.


Literasi menjelma sebagai imitasi, yang ditujukan untuk menjawab dahaga publik. Dahaga karena malu, dibilang negara paling tolol se-Asia. Sebuah riasan palsu, agar negara tampak lebih baik di mata masyarakatnya. Padahal, keberaksaraan memang tetap tak bisa diandalkan di negeri ini. Untuk ke kota yang baru Anda tuju saja, Anda bisa tersesat bila hanya mengandalkan aksara. Tapi tenang, ada Google Map yang bisa menjawab pertanyaan Anda, dengan lisan. Selamat datang di negeri lisan yang berpura-pura sedang giat dengan tulisan.