18 November 2020

author photo

Baca Juga

 

Bagaimana jika panggung teater bukan panggung? Di mana peran (akting) dalam tokoh ditempatkan di tengah dinding layar hari ini? Bagaimana dengan teater virtual? Tubuh masihkah menyimpan 'aura'nya? Negara ada di mana? Apakah ini satu pertanda matinya teater?


Pertanyaan-pertanyaan yang terus bertumbuh, tetapi semangat pertanyaan ini 'seolah' akan mengguncang kegagahan teater, mempertebal keraguan 'iman' para pelakunya akan fleksibilitas teater. kenapa, tentu saja realitas wabah dengan segala aturan-aturan; sosial distance, phisical distance, lockdown, karantina, rapid test, masker, larangan berjama'ah- dan hiruk pikuk wacana perteateran hari ini, kebaruan dan tawaran yang diusung. membangun kecemasan lain dari persoalan politik dan kesejahtraan sosial.


Wacana bermunculan, teater digital, teater virtual, streaming teater, threemenit one man show, serasa ada yang mendesak untuk diuji. apakah benar semakin kesini, teater justru sibuk memikirkan dirinya sendiri? Teater seperti kehilangan kepekaannya kalau boleh kita menyebutnya, teater seperti benar-benar telah kehilangan auranya.


Bagaimana seharusnya teater menaruh dirinya (memposisikan, mengkonstruksi, melemparkan pengetahuan). sehingga teater akan terus bekerja sebagai medan-medan sosial-cultural. satu sisi menempatkan dramaturgi (disiplin, metode, lab) sebagai ruang kesadaran, disisi lain menyentuh akar kesadaran sosial budaya masyarakatnya.


Sebab dari sekian genre kesenian, teater paling banyak mempergunakan disiplin, medium, memori, emosi berbagai produksi budaya maupun tekhnologi. dimana produksi tekhnologi, entitas dan identitas (daerah) kota - sebagai ekosistem- merupakan sumber penciptaan. karena demikian kompleksnya teater, dan ketika kegaduhan ini tidak dielaborasi secara baik, maka teater seharusnya tidak menjadi gaduh bagi dirinya sendiri. begitupun bagi publik masyarakatnya.


Sehingga memunculkan statemen kematian teater dan hilangnya aura teater. lantas kalau teater sudah kehilangan auranya apa yang akan kita harapkan pada teater. sementara para penganut teater terus diburu kecemasan akan hilangnya teater.


Demikian kami merasa perting membuat sebuah pola. sebagai kerja mencipta garis keterhubungan yang jelas didalam kerja proses. sehingga dengan pola tersebuat akan terurai persoalan-persoalan yang sebenarnya. semacam pintu keluar bagi kecemasan, dramaturgis hingga pengembangan. maka tema kurasi dari program jambore teater Jatim 2020 adalah EXIT. sebuah usaha menemukan pola dari kerja 'menempatkan pintu' keluar teater dari kejenuhan dan kecemasan dalam aktivisme teater hari ini.


Pola (ekosistem dan distribusi) dan laboratorium komunitas digunakan sebagai dasar untuk melihat sejauh mana proses exit 'akan' terjadi. hasil dari proses membangun 'pola' ini akan terlihat pada produksi pertunjukan.


Tiga kelompok terpilih berdasarkan basik ruang penciptaan, diantaranya kelompok bermain kangkung berseri malang, teater kala pondok pesantren nurul jadid paiton probolinggo dan UKM seni teater nanggala universitas trunojoyo bangkalan. Persentasi karya akan dilakukan tanggal 20-22 November 2020 bertempat dilokasi masing-masing. Ketiga kelompok ini dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan kuratorial, dengan menimbang militansi proses (aktivisme kelompok) dan berharap akan menjadi pintu untuk melihat kemungkinan jalan keluar yang bisa terus bertumbuh. Tabik!


Departemen Teater Dewan Kesenian Jawa Timur

Galuh Tulus Utama, Mohammad Sinwan, Mahendra Cipta

your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

RajaBackLink.com

Advertisement

Loading...