16 November 2020

author photo

Baca Juga



PojokSeni.com - Penulis cerita kerap menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga dalam ceritanya.


Lebih lengkap tentang sudut pandang, baik sudut pandang orang pertama maupun sudut pandang orang ketiga sudah dipaparkan PojokSeni dalam artikel sebelumnya.


Baca selengkapnya di sini: Sudut Pandang Orang Ketiga Dalam Sebuah Cerita


Namun ada yang cukup jarang digunakan namun bisa menjadi ide eksperimentasi Anda untuk menulis cerita. Yakni, menggunakan sudut pandang orang kedua. Bisa dikatakan masih cukup sedikit penulis Indonesia yang menggunakan sudut pandang orang kedua.


Beberapa novel yang menggunakan sudut pandang kedua di dalam tulisannya misalnya Cala Ibi karya Nukila Amal dan Dadaisme karya Dewi Sartika.


(Belum baca kedua novel tersebut, Anda bisa mendapatkannya di sini)


Bila sudut pandang orang pertama menggunakan "aku" dan sudut pandang orang ketiga menggunakan "dia" maka sudut pandang orang kedua menggunakan "kau" atau "kamu" atau dalam jumlah yang lebih banyak bisa menggunakan "kalian". Tujuan utama penggunaan sudut pandang orang kedua ini adalah untuk mengajak pembaca seperti melakukan komunikasi langsung dengan tokoh di dalam cerita.


Atau dalam kondisi lain, penulis dalam hal ini bertindak sebagai pencerita, sedang menciptakan suasana bahwa ia sedang berbicara langsung kepada pembacanya. Maka, dalam hal ini pelaku utama di dalam cerita salah satunya adalah pembaca. Pembaca menjadi sedemikian dekat dengan tokoh utama dalam cerita, bahkan seakan-akan terus berbicara bersama.


Syarat yang harus dipenuhi salah satunya adalah tidak menggunakan "aku" dalam tulisan tersebut, sehingga sudut pandang tetap menjadi milik orang kedua, baik tunggal (kau, Anda, kamu) maupun jamak (kalian).


Contoh Penggunaan Sudut Pandang Kedua


Contoh 1:



Kau akan tiba di suatu masa ketika semua orang, termasuk kekasihmu, akan meninggalkanmu. Kau hanya akan tinggal sendirian, duduk di kursi butut yang pernah indah di dalam katalog. Lalu menggenggam secangkir kopi yang mungkin sudah kurang kental. Usiamu sedemikian senja, sehingga kau tak mampu lagi mengingat apa saja yang pernah kau lakukan untuk kejayaanmu. Apa saja mimpimu, apa saja yang telah kau raih dan apa saja yang gagal.



Contoh 2:


Selalu ada cinta di dalam hatimu, untuk sekedar tidur dengan tersenyum atau bermabuk-mabukan di jalanan sepi. Kau mungkin akan terpukau dengan pepohonan, atau sekedar suara jangkrik malam. Kemudian, ketika perlahan sekat tipis antara cinta dan benci itu akhirnya tembus, kau akan merasakan semua menjadi bias. Seperti ombak, pepohonan itu menggelombang menghempasmu ke daratan sepi.


Bagaimana Menggunakan Sudut Pandang Kedua


Anggaplah ada kecelakaan motor di jalan raya yang ramai. Kemudian, ada banyak orang yang beramai-ramai mengerubungi korbannya. Seorang korban pingsan dan satunya lagi menderita luka berat meski masih sadar. Ada banyak orang yang membantu atau sekedar melihat-lihat kejadian.


Kita bagi orang-orang di dalam itu menjadi empat orang saja.


  1. Korban pingsan
  2. Korban luka-luka yang sadar
  3. Orang yang pertama melihat kejadian (dari awal sampai selesai)
  4. Orang yang datang belakangan.



Ketika berbicara dengan orang nomor 2, maka Anda akan mendapatkan sebuah cerita utuh dari sudut pandang orang pertama. Dia akan bercerita mungkin remnya blong, atau terlalu cepat, atau mengambil lintasan orang lain. Dia juga akan bercerita betapa sakit yang dirasakannya, betapa banyaknya biaya yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki motornya dan sebagainya. Anda mendapatkan sebuah cerita dari sudut pandang orang pertama.


Ketika berbicara dengan orang nomor 3, maka Anda akan mendapatkan sebuah cerita yang lebih detail juga utuh, namun tidak sampai tahu betapa sakitnya luka tersebut, atau apa yang dirasakan oleh para korban sebelum kecelakaan itu terjadi. Namun orang nomor 3 ini bisa menjadi pencerita yang baik karena melihat kejadiannya dari awal. Bila Anda mendapatkan cerita dari orang nomor 3 ini, maka Anda akan mendapatkan sebuah cerita dari sudut pandang orang ketiga.


Bagaimana dengan orang nomor 4? Yah, dia tidak tahu apa yang terjadi. Dia yang sibuk bertanya sana-sini untuk memastikan bahwa yang kecelakaan itu bukanlah orang yang dia kenal, apalagi saudara kandungnya. Orang nomor empat ini bila bercerita, maka Anda akan mendapatkan sebuah cerita dari sudut pandang orang ketiga terbatas.


Sedangkan orang nomor 1 sekarang sudah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Ia tidak sadar apa yang terjadi, mungkin juga terlupa. Ia tahu-tahu sudah terbangun dan ada di rumah sakit. Seseorang mungkin orang nomor 2, atau nomor 3 akan menceritakan detail apa yang terjadi pada orang nomor 2. Nah, inilah sudut pandang orang kedua itu.


Kurang lebih ceritanya seperti ini:


"Kau tadi sebenarnya sedang melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya. Kau sedang menikmati pemandangan kota ini, mungkin kau baru pertama ke sini. Kau juga berada di jalur yang tepat, menggunakan helm dan sarung tangan. Tapi, dari arah berlawanan, lelaki itu membawa motor begitu cepat. Ia memotong laju bis di depannya dan akhirnya berhadapan dengan motormu. Ia terlalu laju, hingga kehilangan kendali. Saat itu, ia baru menyadari bahwa remnya blong. Maka, tabrakan antara dia dengan kamu tak bisa terhindarkan.


Dalam sudut pandang orang kedua, maka penulis mesti mampu membawa pembaca agar dapat merasakan dirinya berada di lokasi, suasana, situasi terberi dan kondisi yang digambarkan. Beberapa tulisan sanggup menggedor hati pembacanya, membawa sebuah lukisan yang begitu nyata di kepala pembacanya.


Novel Dadaisme tadi misalnya, bahkan juga mampu keluar sebagai juara penulisan Novel DKJ di tahun 2003 silam. Bagaimana, siap untuk bereksperimen dengan sudut pandang kedua?

your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

RajaBackLink.com

Advertisement

Loading...