12 July 2020

author photo

Baca Juga


PojokSeni.com - Banyak orang yang suka menulis memiliki mimpi yang sama, yakni bukunya diterbitkan penerbit yang punya kredibilitas. Maka wajar saja ketika bukunya selesai disusun, baik itu karya fiksi seperti novel atau kumpulan cerpen, maupun jenis tulisan lainnya, maka penulis akan mengirimkan karyanya ke penerbit.

Penerbit mayor di Indonesia yang paling sering menjadi pilihan untuk pengiriman karya adalah Gramedia, Mizan, Bentang Pustaka dan sebagainya. Kemudian, dalam beberapa waktu ke depan kira-kira 3 bulan, penerbit akan memberikan keputusan apakah karya itu ditolak, diterima dengan revisi atau diterima.

Ketika karya Anda diterima, ternyata tidak juga serta merta akan langsung diterbitkan. Biasanya, penerbit akan melakukan diskusi kapan waktu terbaik buku tersebut diterbitkan. Momentum tertentu, juga hal-hal yang memengaruhi penjualan buku tersebut menjadi bahan pertimbangan kapan waktu yang tepat untuk penerbitannya. Itulah kenapa ada banyak penulis yang sudah mendapatkan konfirmasi bahwa bukunya diterbitkan, tapi tidak jarang harus menunggu sampai 1 tahun sampai bukunya terbit dan muncul di toko buku.

Namun, pertanyaan yang paling sering diajukan adalah, bagaimana caranya agar karya kita lolos seleksi? Maka artikel kali ini akan membahas bagaimana cara penerbit menyeleksi suatu karya sampai ditentukan lolos atau tidaknya.

Dalam suatu seminar yang digelar oleh salah satu penerbit mayor ternama di Indonesia, mereka membagi setiap karya yang masuk dalam 4 kuadran.

  1. Karya yang bagus dan menjual
  2. Karya yang tidak bagus namun menjual
  3. Karya yang bagus tapi tidak menjual
  4. Karya yang tidak bagus dan tidak menjual

Apabila karya Anda masuk dalam kategori kuadran 1, maka bisa dipastikan karya Anda akan mendapatkan lampu hijau dan akan segera diterbitkan. Namun, bila karya Anda termasuk dalam kuadran 4 maka itu berarti sudah dipastikan akan mendapatkan lampu merah. Anda mesti memutar kepala untuk mencari ide lagi dan "membongkar" karya Anda. 

Bagaimana dengan karya yang termasuk dalam kategori kuadran 2 dan 3? Karya yang berada di kuadran 3 (bagus namun tidak menjual) bisa dikatakan sedikit lebih sulit mendapatkan peluang di penerbit tertentu. Sedangkan karya yang termasuk dalam kategori kuadran 2 (tidak bagus namun menjual) malah lebih memiliki peluang.

Karya para selebgram, influencer, dan tokoh tertentu sebagian termasuk dalam kategori kuadran 2. Biasanya, akan ada sedikit revisi dari pihak penerbit sebelum akhirnya dijual. Sedangkan karya yang termasuk dalam kuadran 3 sebagian besar adalah tulisan sastra yang bobotnya berat, penuh dialektika, kedalaman makna dan diksi yang menarik.

Tiga Meja


Karya-karya tersebut setidaknya akan melalui "tiga meja". Apalagi untuk buku yang termasuk dalam kuadran 2 dan 3, bisa jadi pembicaraan di "tiga meja" ini menjadi lebih alot.

Meja Kualitas


Di "meja" satu ini, akan dibahas kualitasnya secara detail. Dari meja ini ditentukan karya tersebut "bagus", "sedang" atau "tidak bagus". 

Meja Visi


Selanjutnya, karya tersebut mesti sesuai dengan visi yang diusung oleh penerbit tersebut. Bila penerbit tertentu dikenal dengan visinya membangun pendidikan, maka buku-buku yang diterbitkannya biasanya akan berkisar di tema itu. Begitu juga tema besar lainnya seperti cinta, reliji dan sebagainya. Bisa jadi, karya yang sebenarnya bagus tapi kurang sesuai dengan visi penerbit akan ditolak. 

Misalnya penerbit yang dikenal dengan buku-buku cerita berlatar Korea, atau Jepang, namun yang dikirimkan adalah sebuah cerita berlatar pedesaan di Indonesia. Itu berarti karya yang datang ke tempat yang salah.

Meja Produksi (Marketing)


Nah, inilah kunci kelulusan sebuah karya tersebut. Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa di setiap penerbit ada banyak pekerja yang harus mendapatkan gaji. Di toko buku juga ada banyak pekerja yang mesti digaji. Darimana gaji mereka kalau bukan dari keuntungan penjualan buku? Maka buku yang kadang-kadang sudah sangat baik masih bisa ditolak karena "tidak menjual".

Jadi, wajar saja buku kumpulan puisi pendek karya selebgram ternama bisa tembus penerbit mayor. Sedangkan buku kumpulan puisi yang keren dari orang tak ternama akan kesulitan. Meski demikian, bukan tidak mungkin Anda bisa membuat sebuah mahakarya yang indah, menarik, menginspirasi dan tentunya... menjual. 
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement

Loading...