Aktor Harus Pandai, Minimal Selangkah di Depan Penontonnya: Catatan Rudolf Puspa -->
close
Pojok Seni
13 June 2020, 6/13/2020 02:42:00 PM WIB
Terbaru 2020-06-13T07:43:02Z
Artikelteater

Aktor Harus Pandai, Minimal Selangkah di Depan Penontonnya: Catatan Rudolf Puspa

Advertisement
Ilustrasi pementasan teater


Pesan Arifin C Noer yang selalu kuingat setiap mengolah peran: “Aktor itu harus pandai dik. Minimal selangkah didepan penontonnya”.

Pesan yang kudengar pertama kali ketika tahun 1965 berkenalan di Yogya dan selanjutnya sering aku ke Yogya ke rumah kosnya untuk mendapatkan latihan menjadi aktor. Beliau sarankan banyak baca buku selain datang ke senior-senior berdiskusi tentang apa saja. Bahkan jika tidak punya uang “curi” aja buku di perpustakaan. Hal ini diucapkan untuk mendukung pendapatnya bahwa menjadi aktor itu tingkat intelektualitasnya harus diasah terus. Waktu itu belum ada internet yang bisa mencari bacaan dari seluruh dunia. Satu-satunya yang tersedia cuma buku, majalah, surat kabar.

Akibat dari arahannya aku menjadi aktor yang kutu buku. Sekian tahun kemudian ketika melanglang buana pentas keliling tanah air sejak 1974 hingga ke mancanegara selalu luangkan waktu ke perpustakaan atau museum dan tak lupa ke toko buku. Pulang keliling uang sering habis untuk ongkos ke museum dan beli buku. Membaca hingga kini masih terus berjalan sampai sering gelisah karena kehabisan waktu segar. Pulang latihan atau pentas jauh malam dan kekuatan mata sudah tak bisa diajak kompromi lagi dan minta istirahat. 

Belum tentu bisa tidur tapi untuk baca sudah mengeluarkan air mata. Lansia harus menyadari untuk melatih diri berdamai dengan kekuatan tubuhnya.  Ingat petuah bapakku “ Le, nek wis tuo mengko nek kroso kesel terus turu. Ora sue ora popo. Tangi nyambut gae maneh”. (Nak, kalau sudah tua nanti kalau merasa lelah langsung tidur. Tidak lama nggak apa. Bangun kerja lagi.)

“Pandai” ternyata memang menjadi kebutuhan aktor. Ketika memainkan peran dokter, filsuf, menteri, presiden, raja misalnya; aktor dituntut mampu menampilkan peran tersebut lahir batin. Untuk itu punya tugas untuk mengenal siapa perannya secara lengkap. Bukan hanya bentuk fisiknya namun juga tingkat intelektualitas perannya. Misalnya seorang menteri ekonomi tentu harus terlihat seorang yang pintar di bidang ekonomi dan terlihat dari cara bicaranya, lagak lagunya, gesture tubuhnya. Untuk itu mau tidak mau wajib belajar, bisa lewat bacaan atau observasi. 

Dengan demikian semua dialog yang meluncur dari mulut sang aktor akan terdengar sebagai seorang menteri, jaksa, kepala daerah, professor, yang tepat. Seluruh yang diucapkan bukan lagi milik pengarang atau sutradara tapi milik aktornya. Penonton datang melihat dan mendengar aktor bukan pengarang atau sutradara. Risikonya kalau gagal ya aktor yang disoraki.

Ketika pentas keliling untuk mengurangi rasa bosan tiap hari mainkan peran yang sama hingga lebih 20 kali maka seluruh pemain yang ikut keliling wajib bisa memainkan semua peran. Bahkan sering ada yang minta untuk memainkan peran beda gender. Suatu saat ada penonton yang penasaran sampai datang ke kota2 yang dekat dengan kotanya untuk lihat apa perbedaan pemeranannya. Dan kemudian  menyampaikan pendapatnya. Ketika tokoh Panut (pencopet) dalam “Mega Mega” karya mas Arifin C Noer dimainkan dua pemain yang beda; yang satu Panutnya intelek dan yang satu Panut kampung. 

Aku bersama seluruh rombongan tertawa dan sepanjang jalan hal itu menjadi lelucon penyegar kebersamaan ketika lelah; memanggil dua pemain dengan sebutan Panut kampung dan Panut intelek. Namun pengalaman itu justru menimbulkan ide untuk justru yang kampung lebih menggali untuk menemukan Panut kampung yang nilai permainannya tinggi. Panut intelek tentu saja semakin memperkuat lagi. Maka kedua peran justru tampak bedanya namun punya nilai yang sama tingginya sebagai hasil kerja seni pemeranan.

Bertambah banyak melakukan pertunjukkan dari naskah yang sama semakin kutemukan bahwa karakter peran tidak akan jauh dari karakter aktornya. Hal ini memperkuat pesan mas Arifin bahwa aktor harus pandai. Maka tidak mengejutkan jika melihat peran professor ahli kimia di panggung tampak bodoh karena memang aktornya bodoh. Lalu bagaimana jika aktor yang pandai harus memainkan rakyat tertindas yang buta huruf yang jadi bodoh sehingga dialog2nya terdengar bodoh. Maka diperlukan sebuah daya yang disebut daya penghayatan. Menghayati karakter bodoh, pandai memang  merupakan kekuatan yang harus dimiliki aktor. Tentu bisa dipahami jika aktor yang pandai memang akan lebih sulit menjadikan dirinya terasa bodoh. Namun sebenarnya kepandaiannya itulah yang mampu mengolah dirinya untuk menjadi bodoh. Itulah kekuatan dari olah penghayatan atau olah rasa. 

Seperti pesan mas Arifin aktor perlu minimal selangkah di depan penonton maka bagi aktor yang pandai akan mampu menangkap daya dengar dan lihat hingga mampu menyerap apa yang dilihat dan didengar. Dengan kemampuan ini aktor akan dapat menggiring penonton menangkap misi atau pesan2 dari tiap peran dan juga dari cerita yang dimainkan. Karena latar belakang budaya, sosial, intelektual yang berbeda tentulah aktor yang pandai akan menemukan daya penyampaian pesan sehingga dalam waktu yang sama bisa menyentuh semua tingkat kecerdasan daya tangkap penonton yang beda tingkatannya. 

Pengalaman menunjukkan sering terjadi penonton berdebat karena perbedaan dari apa yang ditangkapnya. Ini justru membuktikan aktor telah bermain di jalan yang benar. Tidak mengherankan jika menemukan pendapat yang bisa jauh beda dengan apa yang dimiliki aktor. Justru bagiku itulah aktor yang berhasil. Seni bukan hasil dari dua kali dua sama dengan empat. 

Jujur saja pengalaman berkesenian seperti cerita di atas akan bermanfaat bila dijadikan tuntunan dalam hidup sehari2 agar bisa mewujutkan hidup saling mendengar dan selanjutnya bersama sama menemukan solusi yang saling menguntungkan ketika menghadapi masalah. Kita akan menyadari betapa pentingnya untuk mampu menguasai ego masing2 dan mengendalikan diri sehingga terhindar dari sikap yang hanya menciptakan pertikaian yang merugikan kehidupan berbangsa dan bernegara.  Dengan kesadaran ini aku menyerukan siapapun aktor yang tumbuh di tanah air mampu menjadi panutan dimanapun berada. 

Panggung aktor sesungguhnya justru di alam luas penuh perbedaan yang tiap hari dijalani. Ucapannya bukan sekedar hafalan tapi memang hasil dari pemikiran dan perjalanan panjangnya yang penuh perhatian terhadap kehidupan sekelilingnya. Bahkan hal ini akan terus berlanjut sepanjang nafas masih terasa berhembus. Itulah peran sesungguhnya seorang aktor yakni seorang “aktor” kehidupan. Kehadirannya akan dibutuhkan siapapun karena selalu mencerahkan dan membawa pesona gairah hidup bahagia.

Benar kata mas Arifin bahwa 
“Aktor itu harus pandai dik. Minimal selangkah di depan penontonnya”


Jakarta 13 Juni 2020.
Rudolf Puspa

Ads