05 May 2020

author photo

Baca Juga

Almarhum Didi Kempot
PojokSeni.com - Nyaris tidak ada yang tidak mengenal sosok legenda campur sari, Didi Kempot. Beberapa orang menyebut bahwa Didi Kempot "naik daun lagi", tapi PojokSeni tidak sependapat dengan istilah itu.

Pernyataan yang paling pas adalah almarhum Didi Kempot telah berhasil menyentuh pemirsa yang lebih luas. Dulu, ketika tontonan masih dikuasai TVRI, khususnya di daerah-daerah yang mesti menjangkau siaran TV swasta dengan parabola (tepatnya sekitar awal-awal 90-an) maka acara di TVRI memuat banyak tempat untuk campur sari. Maka nama Didi Kempot dengan beberapa lagu andalannya, seperti Stasiun Balapan, langsung mendapat tempat di hati masyarakat.

Ketika memutar radio dan lagu campur sari diputar, maka sebagian besar hits andalan dari Didi Kempot akan mengudara. Suaranya yang khas, liriknya yang bernuansa patah hati, kekecewaan dan keputusasaan, disukai banyak orang. Hanya saja, mesti kita bilang bahwa pemirsanya tidak begitu luas.

Sampai akhirnya TV swasta mulai menguasai tontonan masyarakat, musik-musik Didi Kempot disebut ndeso dengan segmen pemirsa terbatas. Lagu-lagu dengan format lebih modern menguasai pemirsa. Namun, guilty pleasure terhadap lagu-lagu yang disebut kampungan tersebut kembali diangkat tahun-tahun terakhir. Nama Didi Kempot kembali mengudara, dan mendapatkan pemirsa yang jauh lebih luas.

Bisa dibilang, naik daunnya Nella Kharisma, Via Valen dan sebagainya menjadi penanda kembalinya sang legenda, the Godfather atau Lord of ambyar, atau apapun julukan yang disematkan pada beliau. Konsernya dipenuhi banyak orang, nyaris wajahnya selalu muncul di iklan dan acara televisi.

Bahkan ajang sekelas Indonesian Idol saja, membawakan lagu-lagu beliau. Padahal biasanya ajang seperti itu akan membawakan lagu "festival" atau lagu malah lagu kekinian. Dan mesti kita sebut pula bahwa mendengarkan musik campur sari dari sang lord, justru termasuk dalam kategori "kekinian".

Sosok Didi Kempot dipilih oleh salah satu online shop sebagai penanding bintang Korea yang diusung online shop lainnya. Apa artinya? Yah, popularitas Didi Kempot di Indonesia saat ini bahkan dianggap bersaing dengan sederetan lelaki tampan asal Korea. Hanya perlu seorang Didi Kempot saja untuk mengalahkan satu grup pemuda ganteng dari Korea.

Hanya perlu seorang Didi Kempot melawan 7 orang pemuda asal Korea

Namun, di puncak ketenaran dan kesuksesannya, sang legenda berpulang. Kelelahan, karena terlalu banyak jadwal panggung, off air maupun on air diduga menjadi penyebabnya. Yah, industri musik mainstream memang mengerikan.

Didi Kempot tidak berusia muda lagi, beliau lahir di tahun 1966. Dengan usia 54 tahun, namun harus menjalani sejumlah rentetan pemotretan, konser, sapa penggemar, bahkan di saat pandemi ini, beliau juga harus tetap konser online, kemungkinan menjadi penyebab kelelahan tersebut.

Apapun yang terjadi, beliau tetap seorang legenda yang rendah hati. Tak pernah merasa dirinya legenda, juga selalu menyapa semua orang dengan ramah. Didi Kempot adalah musisi yang tetap menjaga idealismenya bermusik, meski dulu pasar tak meliriknya. Sampai ia yang akhirnya menciptakan pasarnya sendiri.

Selamat jalan Mas Didi Kempot, terima kasih atas karya dan pelajaran berharga bagi kami.
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement

Loading...