Gunung dan Laut Dipenuhi Sampah; Cinta Keindahan Bodo Amat dengan Kebersihan -->
close
Pojok Seni
04 February 2020, 2/04/2020 01:54:00 AM WIB
Terbaru 2020-02-03T19:30:18Z
Artikel

Gunung dan Laut Dipenuhi Sampah; Cinta Keindahan Bodo Amat dengan Kebersihan

Advertisement
Laut dipenuhi sampah (sumber: Nationalgeographic.grid.id)
pojokseni.com - Sebuah lirik dalam lagu pengiring iklan sebuah rokok yang sedang sering tayang malam di Indonesia cukup menggelitik, "Cinta keindahan tapi bodo amat dengan kebersihan."

Tidak hanya dengan lirik, tapi ilustrasinya juga menggelitik. Sepasang kekasih tengah berada di tepi pantai yang indah, namun ketika berenang mereka menemui laut yang dipenuhi sampah. Bukannya mencoba untuk peduli, atau mengumpulkan sampah tersebut, pasangan itu justru membiarkan dan membuang sembarangan sampah yang tadinya tersangkut di kepalanya.

Faktanya, memang sampah di laut, khususnya sampah plastik yang sulit terurai, menjadi masalah yang selalu meresahkan. Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) merilis jumlah sampah plastik di Indonesia mencapai 9,6 juta ton per tahun, sedangkan 6,5 juta ton di antaranya akan berada di laut Indonesia.

Selama 10 tahun terakhir, berarti telah ada 65 juta ton sampah plastik berserakan di laut. Artinya, ada banyak habitat dan ekosistem laut yang terancam rusak karena sampah plastik. Bukti tak terbantahkan adalah seekor paus sperma yang mati terdampar di pantai Wakatobi tahun 2018 silam, di dalam perutnya berisi sampah-sampah plastik.

Masih ada 800 spesies laut lagi yang terancam karena sampah plastik di laut ini. Bahkan, tercatat telah ada jutaan burung laut, mamalia laut, kura-kura, hingga ikan laut yang telah tewas terbunuh karena sampah plastik. Ada yang menyebutkan bahwa jumlah plastik di tahun 2055 mendatang akan jauh lebih banyak ketimbang penghuni laut itu sendiri.

Salah satu "prestasi" Indonesia adalah, menjadi penghasil sampah plastik terbesar nomor dua di Asia.

Tidak Hanya Laut, Gunung Juga Menjadi Korban

Gunung dipenuhi sampah (sumber: dilarangbego.com)
Ada banyak turis mancanegara yang mencoba menaklukkan gunung di Indonesia malah mengeluh. Ternyata yang dikeluhkan lagi-lagi masalah sampah yang bertumpuk di gunung. Tidak hanya laut, gunung juga menjadi korban dari malasnya manusia menjaga kebersihan.

Beberapa waktu lalu, pembersihan gunung tertinggi di Sumatera, yakni gunung Kerinci. Dalam tiga hari pembersihan, total 20-an karung sampah dibawa pulang.

Selain gunung Kerinci, beberapa gunung lain yang terkenal di Indonesia juga kerap menjadi korban tangan-tangan yang tak mampu menjaga kebersihan ini. Gunung Rinjani di Lombok, Gunung Semeru, Gunung Arjuna di Jawa Timur, Gunung Bromo sampai Gunung Merbabu menjadi deretan gunung yang terus tergerus keindahannya lantaran sampah.

Tentunya masalah sampah sudah begitu kronis di negeri ini. Adakah solusi?

Solusi Pengolahan Sampah di Beberapa Negara


Indonesia, sebagai penyumbang sampah nomor dua terbanyak di Asia tentunya bisa meniru beberapa negara maju yang kreatif dalam mendaur ulang sampah mereka. Dengan pengolahan sampah dan daur ulang yang tepat, maka proses mereduksi produksi sampah di Indonesia bisa dilaksanakan dengan efektif.

Jepang misalnya, melakukan klasifikasi dengan detail sampah-sampah yang dibuang. Jadinya, bahkan botol berbahan kaca dengan tutup botol berbahan plastik dan label kemasannya berbahan kertas akan dipisahkan dulu sebelum dibuang. Jadinya, pengolahannya akan menjadi tepat.

Pengolahan sampah di Swedia (sumber: idntimes.com)

Sebab, botol kaca akan diolah menjadi botol kaca yang baru, bahkan jadi paving jalan dan trotoar, namun labelnya berbeda bahan (kertas) akan diolah menjadi kertas yang baru. Tutup botol yang terbuat dari plastik akan bergabung dengan plastik lainnya diolah menjadi benang fiber, yang selanjutnya digunakan untuk membuat pakaian, kain dan sebagainya.

Sedangkan Swedia dinobatkan sebagai salah satu negara yang sukses melakukan pengolahan sampah dan daur ulang dengan baik. Dimulai dengan masyarakatnya yang mampu memilah jenis sampah dengan detail, lalu berbagai jenis sampah berbahan seperti plastik, kaleng dan karet akan dipanaskan dengan temperatur tinggi.

Pembakaran tersebut menghasilkan energi listrik dan energi panas yang tentunya digunakan untuk rakyat. Ditambah lagi, sisa pembakaran berupa abu digunakan lagi sebagai bahan konstruksi. Hasilnya, Swedia bahkan menjadi satu-satunya negara yang mesti "mengimpor" sampah karena membutuhkan sumber energi listrik dan panas secara berkelanjutan. Dengan demikian, Swedia mampu mematok harga yang cukup murah untuk konsumsi listrik, mengingat sumber energinya sangat murah, bahkan bagi sebagian orang tidak bernilai sama sekali.

Hal nyaris serupa ditemukan di Korea Selatan. Negara satu ini menggunakan sampah yang diolah menjadi sumber energi listrik. Oleh karena itu, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah menjadi salah satu sumber energi listrik yang murah, hemat dan menjadi solusi permasalahan sampah di Korea Selatan. Hingga saat ini, tercatat ada 5 Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di negeri ginseng tersebut.

Nyaris sama dengan Swedia, menggunakan teknologi bernama Direct Combustion, Korea Selatan mengumpulkan sampah dan dibakar hingga menghasilkan energi panas. Energi itu yang digunakan untuk memutar turbin yang menghasilkan listrik bagi negara tersebut.

Jadi, apakah negara kita yang memiliki "sumber daya" dari sampah mencapai 24 juta ton pertahun itu bisa melakukan hal yang serupa dengan negara-negara di atas? Tentunya dimulai dari masyarakatnya yang membiasakan membuang sampah di tempatnya, untuk kemudian dikumpulkan dan tidak berakhir di gunung dan laut.

Ini bukan hal yang mustahil, karena tercatat telah ada 12 kota di Indonesia yang telah memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Sampah. Tentu, akan lebih baik bila di seluruh Indonesia bisa diaplikasikan hal serupa. (ai/pojokseni.com)

Ads